
Kemarin Alan memberitahu panjang lebar pada Mona tentang Yunan yang sebenarnya dia adalah suami rahasianya Bu guru Dara, Alan melakukan itu semua agar Mona cepat move on dari Yunan, tidak mengharapkan Yunan lagi.
Walaupun awalnya Mona menangis sampai menghabiskan banyak tisu, tapi karena Alan terus mensupportnya, akhirnya Mona bisa menerima kenyataan ini dengan ikhlas, walaupun penantiannya selama bertahun-tahun untuk meraih cinta Yunan telah sia-sia, Yunan adalah cinta pertamanya, Mona memiliki perasaan pada Yunan dari semenjak SMP.
Karena itu malam ini Alan mengajak Mona untuk menjaga Dara, karena tau malam ini akan ada acara penting di perusahaan Angkasa, walaupun sebenarnya Yunan ingin mengajak Dara pergi kesana, tapi tidak memungkinkan, Yunan tidak ingin Novan tau keberadaan Dara, yang nantinya akan membahayakan Dara.
"Jadi kalian ini dulu pernah menjadi murid aku?" Dara pura-pura tidak ingat pada Alan dan Mona.
Padahal dia masih ingat betul bagaimana dua sejoli itu sering bertengkar di kelas, Mona yang centil mencoba untuk meraih perhatian dari Yunan, Alan yang merasa risih melihat Mona yang selalu saja mendekati sahabatnya.
Walaupun sekarang nampak pangling, Alan yang dulu penampilannya agak amburadul kini berubah menjadi rapi dan bisa dibilang tampan, dan juga Mona yang dulu agak centil kini penampilannya sedikit dewasa dan juga cantik.
Saat di rooftop, Dara sudah mengingat semuanya, walaupun kepalanya terasa sangat sakit, tapi dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Yunan, karena ada yang harus dia lakukan.
__ADS_1
Ingatan terakhir Dara 6 tahun yang lalu adalah saat dia menyebrangi jalan, dia mendengar suara gemuruh mobil dari arah kiri, lalu mobil itu menabraknya dengan sangat keras, dia ingat sekali mobil itu adalah mobil miliknya Novan. Sampai di rooftop Dara menangis, tidak menyangka Novan akan berbuat setega itu padanya.
"Ya, dulu aku adalah murid yang berprestasi, bahkan aku menjadi idola di sekolah." Alan memuji dirinya sendiri, kapan lagi dia bisa terlihat keren dihadapan guru idolanya itu.
Mona langsung mencibir, "Dih, perasaan nilai kamu banyak yang jemblok deh, dan idola di sekolah itu Yunan, bukan kamu. Kamu hanya ngintilin Yunan setiap hari."
"Lah kamu yang lebih parah, nilai kamu lebih rendah daripada aku." Alan tak mau kalah, dia berbalik meledek Mona.
Dara tertawa melihat Alan dan Mona terus saja adu mulut tanpa ada yang mau mengalah, "Kalian itu gak mau menyerah ya, masih saja berantem dari dulu, jodoh kali ya." Dara keceplosan.
Mengapa Dara bisa bilang bahwa mereka dari dulu sering berantem, apa mungkin Dara sebenarnya sudah tidak hilang ingatan lagi?
Dara merasa tidak enak hati karena Alan dan Mona menatapnya dengan penuh rasa curiga, lebih baik dia jujur saja, "Hm... amnesia aku sudah sembuh, karena itu aku ingin meminta bantuan pada kalian."
__ADS_1
Alan dan Mona terperangah mendengarnya.
"Apa Yunan sudah tau?" tanya Alan pada Dara.
"Belum, karena aku tau malam ini Yunan akan menghadiri acara penting, aku yakin Yunan tidak akan setuju dengan apa yang akan aku lakukan, tapi kita tidak punya waktu lagi, lebih baik kita bergerak cepat, mumpung Novan sedang berada di pesta."
Alan rasa dia tidak mungkin memberitahu Yunan sekarang, karena Yunan sedang sibuk malam ini, maka dari itu, dia ingin tahu dulu apa rencananya Dara.
"Apa yang ingin Bu Dara rencanakan?" tanya Alan.
Dara malah bertanya pada Mona, "Apa kamu sering berkunjung ke rumah ayahnya Yunan?" Jika iya, berarti Mona tahu letak disetiap ruangan rumahnya Pak Tomi yang megah itu, Dara dulu baru satu kali, itupun dia hanya fokus di ruang makan karena dulu dia pernah diundang makan malam bersama oleh sang mertua.
"Tentu saja sering, karena sampai sekarang papa masih bekerjasama dengan Angkasa Group, dan aku sering datang kesana bersama papa." jawab Mona.
__ADS_1
Dara tersenyum tipis, dia harap rencananya berjalan lancar malam ini.