
Novan sangat sibuk sekali dengan meetingnya bersama klien, karena itu dia mencoba untuk menghubungi Dara, kalau dia tidak bisa datang ke Milano Navigli, untuk menemani Dara jalan-jalan.
Karena ponselnya Dara tidak aktif, Novan terpaksa harus menelpon suster Devi.
Suster Devi sangat gelisah begitu ponselnya berdering ada telepon dari Novan, Novan pasti akan marah besar padanya jika dia tau kalau Dara telah hilang malam ini.
"Ha-Hallo, Tuan."
"Kenapa ponsel Luna gak aktif?" Novan memang sangat posesif pada Dara.
"Ponsel Nona Luna lobet, Tuan."
"Hmm... ya sudah, aku ingin bicara dengannya."
Suster Devi terkejut mendengarnya, dia terpaksa harus berbohong. "Kebetulan Nona Luna sedang berada di kamar mandi, kalau Tuan mau titip pesan sama Nona, biar nanti saya sampaikan."
Novan hanya bisa menghela nafas, padahal dia ingin sekali berbicara dengan Dara, karena dia hanya memiliki waktu sebentar untuk berbicara dengannya. "Saya akan pulang malam sekali, karena itu kalian jangan terlalu lama berada di Milano Navigli, kalian harus secepatnya kembali ke hotel."
"Iy-iya, Tuan."
Klik!
__ADS_1
Suster Devi sangat gelisah sekali, karena dia takut kena amuk Novan kalau belum juga menemukan Dara. "Aduh, Nona Luna kemana sih?"
...****************...
Setelah keluar dari toko sepatu, Yunan melihat ada sebuah atraksi badut, banyak sekali yang menonton disana.
Yunan menarik tangan Dara, menggenggam tangannya, mengajak Dara untuk melihat atraksi badut itu.
Dara ingin melepaskan tangan Yunan, namun pegangannya sangat kuat. Dara tak sengaja memperhatikan atraksi badut tersebut. ketika badut itu sedang bersulap, tiba-tiba keluar sebuah merpati putih dari topinya.
"Wah!" Tanpa sadar Dara begitu takjub dengan permainan sulap tersebut.
Yunan tak bisa lepas memperhatikan wajah Dara yang sangat cantik itu. Betapa besarnya rasa rindu dia pada Dara, kini sudah sedikit terobati.
Setelah atraksi badut selesai, barulah Yunan membawa Dara ke sebuah restoran mewah di kota Milan, membuat Dara keberatan karena harganya pasti mahal.
"Kenapa harus ke restoran ini coba?" protes Dara.
"Makanan disini sangat enak, biar aku saja yang bayar." jawab Yunan dengan santai.
"Gak usah, aku aja yang bayar." entah mengapa Dara merasakan kenyamanan bersama Yunan, padahal mereka baru saja bertemu, karena itu dia harus segera mengakhiri pertemuan mereka. Masalah hutang, dia bisa mentransfer uang pada Yunan tanpa harus bertemu.
__ADS_1
Yunan memperhatikan Dara yang sedang melihat menu makanan disana, sepertinya dia nampak kebingungan sekali. "Mau aku bantu rekomendasi kan?"
"Oh gak usah, aku bisa sendiri." Dara tak ingin terlihat kampungan di depan Yunan, padahal dia sama sekali tidak paham semua tulisan di menu tersebut.
Dara menunjukkan satu buah cemilan dan satu gelas minuman pada waitress disana.
Setelah beberapa menit menunggu, pesanan sudah datang, waitress menyimpan semua pesanan diatas meja.
Yunan memperhatikan minuman yang dipesan oleh Dara, dia terperangah melihatnya. "Emm... Dara, eh Luna, kamu yakin akan meminumnya?"
"Tentu saja, aku suka kok." jawab Dara dengan nada jutek.
Yunan hanya menganggukkan kepala saja, karena minuman yang dipesan oleh Dara mengandung alkohol, tergantung kekuatan orang yang meminumnya, ada yang bisa membuatnya mabuk, ada juga yang sama sekali tidak bereaksi apa-apa karena sudah terbiasa meminumnya.
"Setelah ini tolong kamu tunjukan jalan ke arah Hotel Brilliant, ponsel aku lobet, jadi aku kesulitan untuk pergi kesana, dan aku gak bisa bahasa Italia, makanya aku hanya bisa minta tolong sama kamu."
Yunan menganggukkan kepala, "Hmm... Ya."
Padahal dia masih belum siap berpisah dengan wanita yang mirip sekali dengan istrinya itu, dia masih berharap kalau wanita dihadapannya ini adalah istrinya. Mungkin saja selama 6 tahun mereka tidak bertemu, ada hal yang tak terduga terjadi pada Dara sampai wanita itu melupakannya.
Ketika Dara meneguk minuman berwarna merah yang tadi dia pesan, Dara merasakan kepalanya pusing, "Ah kepalaku kenapa tiba-tiba pusing begini?" Dara memijat-mijat pelipisnya sambil menyipitkan matanya.
__ADS_1