
Yunan telah selesai mandi, dia sudah menggunakan pakaian yang lengkap, dia tersenyum memperhatikan Dara yang masih terlelap, sepertinya semalam dia begitu ganas sampai membuat Dara kelelahan, entah berapa kali dia menyemburkan benihnya ke dalam Dara.
Yunan duduk di tepi ranjang, dia membelai wajah Dara yang sangat cantik itu, lalu mencium keningnya dengan lembut. Yunan tidak tega membangunkannya, lebih baik dia membiarkan Dara beristirahat, sambil menunggu makanan yang sedang dia pesan akan datang.
Yunan membuka pintu kamar hotel, dia berjalan ke balkon, memandangi keindahan pagi hari di kota Milan. Menghirup udara pagi yang begitu menyegarkan.
Yunan termenung, dia tak paham mengapa Dara bisa amnesia, tapi kenapa juga dia harus bersama Novan? Padahal Novan tau Dara masih berstatus menjadi istrinya, tapi kenapa dia tega menyembunyikan Dara selama ini? Malah bertunangan dengan adik iparnya itu.
"Apa mungkin Dara kecelakaan, dan kak Novan menemukan Dara, tapi dia memilih diam, tak ingin memberitahuku?" Yunan tau Novan sangat licik, tapi dia tak pernah berpikir Novan adalah seorang pria yang sanggup untuk melukai seseorang, tidak pernah terpikirkan kalau Novan tega mencelakai Dara.
Yunan mengepalkan tangannya, "Aku tidak akan membiarkan Dara pergi lagi, karena dia memang istriku, milikku."
Yunan segera menelpon Malik, dia ingin Malik segera memeriksa kondisi Dara.
"Ada apa, Nan?" tanya Malik begitu mengangkat telepon darinya.
"Lik, gue sudah menemukan Dara. Sekarang dia lagi bersama gue." cerita Yunan dengan nada bahagia.
"Yang benar, Nan?" Malik ikut bahagia mendengar perkataan Yunan.
Nada bicara Yunan kini terdengar sedih, "Tapi sayangnya dia gak ingat sama gue, sepertinya dia amnesia."
__ADS_1
"Amnesia? Serius kamu?" Malik tercengang mendengarnya.
"Iya, Lik. Dia benar-benar gak ingat gue. Karena itu gue minta tolong sama lu agar segera memeriksa kondisi istri gue." pinta Yunan.
"Tentu saja aku pasti pasti akan berusaha untuk memeriksanya, kamu bawa saja dia ke rumah sakit tempat aku bekerja." Hari ini hari terakhir Malik kerja di rumah sakit yang ada di Italia itu.
"Ya udah, nanti gue bawa dia kesana."
...****************...
Dara terbangun dari tidurnya, dia merasakan kepalanya terasa sangat pening, sehingga dia memijat-mijat pelipisnya dengan mata yang masih terpenjam.
Dengan perlahan Dara membuka matanya, memperhatikan suasana di kamar yang sama sekali tidak dia kenali, dia terperanjat begitu menyadari dia berada di kamar yang terasa sangat asing, dia lebih kaget lagi saat menyadari dirinya tidak memakai satu helai kain apapun, hanya selimut tebal menutupi tubuhnya yang polos.
Sekilas adegan panas yang dia lakukan bersama Yunan telah terlintas di dalam kepalanya, membuat Dara menutup mulutnya, dia sama sekali tidak menyangka bahwa semalam itu benar-benar terjadi, dia pikir semua itu hanyalah sebuah mimpi panas saja.
"Astaga, apa yang aku lakukan? Bagaimana bisa aku mengkhianati Novan?" Dara merasa jadi wanita tidak tau diri, bagaimana dia bisa menyerahkan kesuciannya pada pria asing, sementara dia tidak pernah sekalipun membiarkan tunangannya untuk menyentuh tubuhnya.
Dara benar-benar membenci alkohol, seharusnya semalam dia jangan gengsi untuk bertanya pada Yunan, sehingga dia tidak salah memesan minuman.
Dara mendengar ada suara seorang pria di balkon kamar, ternyata disana ada Yunan yang sedang berteleponan dengan seseorang.
__ADS_1
Dara rasanya ingin menjerit begitu mengingat pengakuan Yunan di layar televisi yang bilang kalau Yunan sudah memiliki seorang istri.
"Ya ampun, Luna. Apa kamu sudah gila, bagaimana kamu bisa bercinta dengan suami orang." Dara mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Apa mungkin dia sedang berteleponan sama istrinya? Bagaimana kalau istrinya datang kesini? Habislah aku." Dara tidak ingin kena jambak oleh istrinya Yunan, yang padahal istrinya Yunan adalah dirinya sendiri.
Mumpung Yunan sedang asik berteleponan, Dara mencoba untuk meraih pakaian yang berserakan di lantai. Lalu memakainya satu persatu.
Dara kaget tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang.
"Kamu mau kemana? Apa kamu mau kabur dariku?"
Dara melepaskan pelukan Yunan, dia membalikkan badan sehingga berhadapan dengan Yunan, menatapnya dengan tajam. "Tolong dengarkan aku saudara Yunan yang terhormat, aku mohon kita harus melupakan apa yang terjadi pada kita semalam. Aku sudah memiliki tunangan dan kamu sudah memiliki seorang istri, jadi aku gak mau kalau sampai aku dicap pelakor oleh istrimu itu."
Dara menepuk jidatnya, dia menghela nafas. "Aishh, kenapa bisa aku menyerahkan keperawanan aku sama suami orang?"
Yunan tak bisa menahan tawanya, ucapan Dara begitu terasa geli menggelitiki perutnya.
"Mengapa kamu tertawa? Apa menurutmu apa yang kita lakukan itu lucu? Padahal aku tadinya mengagumi kamu karena begitu berani mengaku ke seluruh dunia kalau kamu sudah memiliki seorang istri. Tapi kamu malah memanfaatkan wanita yang sedang mabuk, menikmati tubuhku." Dara berkata sambil nyerocos.
Yunan menjadi gemas mendengarnya, ingin rasanya dia mengulangi lagi kegiatan panas mereka, tapi dia harus menahan diri. "Gak kan ada yang berani menjambak kamu, karena istri aku itu ya kamu, dan kita pernah melakukannya 6 tahun yang lalu. Kalau kamu gak percaya lihat saja!"
__ADS_1
Yunan menarik selimut, memperlihatkan kondisi seprai yang berwarna putih itu pada Dara, "Gak ada darah disini. Karena ini yang ketiga kalinya kita melakukannya."
Dara nampak menganga memperhatikan kondisi seperai disana, tidak ada noda merah disana, hanya ada bekas noda penyatuan antara dia dan Yunan.