
[Malam ini gue gak akan pulang, gue ada acara penting sama seseorang.]
Malik membacakan pesan dari Yunan malam itu, membuat dia mengerutkan keningnya. "Ada acara apa dia dengan seseorang sampai gak akan pulang?"
Alan tak langsung menjawab, dia masih merasa kesal karena kedua bule itu menolak untuk berkenalan dengannya. "Hmm... mungkin dia akan bermalam dengan cewek lain, siapa tau dia sudah mulai move on dari Bu Dara."
"Kayaknya gak mungkin deh, Yunan cinta mati sama Bu Dara." Malik sangat mempercayai sahabatnya itu.
"Tapi gue kasian sama dia, dia sudah terlalu lama menunggu Bu Dara, tapi memang sih siapa yang bisa melupakan kecantikan guru biologi kita."
Malik tersenyum, dia pun dulu sangat mengagumi kecantikan guru idolanya itu, apalagi Dara dulu pernah menolongnya, karena Dara, dia bisa bersahabat dengan Yunan dan Alan.
"Lu yakin gak mau bergabung dengan perusahaan? Rencananya gue dan Yunan mau berbisnis." Tanya Alan pada Malik dengan nada serius. Saat ini mereka sedang berada di sebuah cafe.
"Gak, masa aku harus melepaskan karir aku sebagai dokter?" Malik memang sudah dua tahun berprofesi sebagai dokter di Italia, karena kecerdasannya, dia bisa dengan cepat lulus kuliah dan juga mendapatkan beasiswa. Tapi dia bisa menjadi dokter yang mempuni disana.
Namun, karena dia terlalu cinta pada negaranya sendiri dan juga tak ingin berpisah dengan kedua sahabatnya, Malik sudah diterima di salah satu rumah sakit yang ada di Indonesia. Dia adalah dokter syaraf.
"Ya lah mending lu raih cita-cita lu jadi dokter hebat."
__ADS_1
"Aku sebenarnya sudah mendapatkan tawaran 1 tahun yang lalu untuk menjadi dokter di rumah sakit YASA. Tapi dulu belum kepikiran."
"Oh iya, lu pernah cerita, waktu itu gara-gara lu berhasil membuat seorang putri dari pengusaha kaya dari Indonesia yang sudah lama koma bisa bangun. Gue lupa lagi dia berapa tahun komanya?"
"Mungkin sekitar 5 tahunan, karena kepalanya terluka parah, mengalami banyak benturan, dari lukanya aku yakin dia terluka karena banyak membentur bebatuan, entah bagaimana dia bisa terluka seperti itu, tapi ayahnya sepertinya ingin merahasiakan mengenai kondisi puterinya pada siapapun."
Alan terkekeh, "Siapa tau dia jodoh lu, persis puteri tidur yang sudah lama tidur, bisa bangun karena bertemu pangerannya."
Malik malah tertawa kecil.
"Tapi cantik kan dia?"
"Ya gak apa-apa, berarti nasib si Yunan nular sama lu."
Malik tertawa kembali.
"Nah lu ketawa lagi, fix lu naksir sama dia." goda Alan.
"Gak lah, gak mungkin dia mau sama aku, aku terlahir dari keluarga miskin, ibu aku sudah meninggal, aku harus membiayai sekolah adik-adik aku. Sementara dia begitu kaya raya, kita seperti bumi dan langit." Malik merendahkan dirinya.
__ADS_1
Drrrtt... Drrrtt...
Pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar suara ponsel Alan bergetar, ternyata ada pesan dari Mona.
[Lan, beneran Yunan akan kembali ke Indonesia? Aku sudah beberapa kali ngirim pesan padanya, gak pernah dibalas. Tolong sampaikan pada Yunan, kalau aku sangat cinta dan rindu dia.]
Alan menghela nafas, dia memperlihatkan pesan Mona pada Malik, "Gue gak habis pikir sama cewek ini, dia tergila-gila sekali sama Yunan, padahal Yunan susah menolaknya mentah-mentah.
" Ya begitulah, cinta itu buta."
Alan segera membalas pesan Mona.
[Mending kamu lupakan Yunan, cari cowok lain yang bisa terima kamu.]
Namun Mona tak akan menyerah, dia sangat kesal membaca pesan dari Alan, karena orang tua mereka sudah menjodohkannya dengan Yunan, jadi Yunan tidak bisa menolaknya begitu saja.
Mona segera membalas pesan Alan.
[Gak mau, pokoknya aku hanya mau sama Yunan. Bahkan orang tua aku akan menemui Yunan, menagih perjanjian perjodohan kami.]
__ADS_1