Yunan (Suami Rahasia Bu Guru)

Yunan (Suami Rahasia Bu Guru)
Tanpa Judul


__ADS_3

Ting...


Tong...


Terdengar suara bel menggema memenuhi apartemen yang mewah itu, sang tamu datang di waktu yang tidak tepat.


Dara segera mendorong Yunan, agar Yunan melepaskan buah dadanya dari mulut Yunan. "Se-sepertinya ada tamu, Yunan."


Yunan menghela nafas, padahal dia sedang begitu menikmati benda kenyal di dada istrinya. "Biarkan saja!"


Yunan menyambar kembali buah dada Dara, membuat Dara menggigit bibir bawahnya, Yunan melahapnya begitu rakus dan penuh naf-su, diiringi dengan gerakan lidah gerilya memainkan bagian puncaknya.


"Mmmhh..."


Ting...


Tong...


Suara bel kembali terdengar.


Dara melepaskan dua bukit kembarnya dari Yunan, dia mendorong tubuh Yunan lagi. "Lebih baik kamu temui dulu gih!"


Yunan belum sempat protes karena dengan cepat Dara membenarkan kancing lingerienya, membuat Yunan merasa kesal, padahal naf-sunya lagi di ubun-ubun.

__ADS_1


"Tapi kita gak kan ketahuan kan kalau kita tinggal bareng?" tanya Dara, dia menjadi gelisah.


"Nggak, kamu diam aja disini." Yunan menyuruh Dara agar tetap berada di kamarnya, agar hubungan pernikahan mereka tidak ketahuan.


Yunan menambahkan perkataannya, "Jangan ganti baju dulu!"


Yunan masih ingin Dara memakai lingerie itu malam ini.


Dara tak menjawab, dia hanya menatap Yunan yang sedang berjalan ke luar dari kamar, Dara memegang dadanya yang berdebar-debar, mengingat bagaimana tadi Yunan memainkan buah dadanya dengan mulutnya, untuk pertama kalinya dia merasakan perasaan aneh itu.


"Papa?" Yunan melihat wajah Pak Tomi di balik layar pintu, Yunan nampak panik, dia segera menyembunyikan sandal dan high heels punya Dara yang ada di rak sepatu itu ke tempat yang aman.


Mata Yunan beredar memperhatikan ke setiap sudut apartemen, siapa tau ada barang milik Dara disana, dia bisa bernafas lega, ternyata sudah aman, karena Dara suka dengan kerapihan, tidak sembarangan menyimpan barangnya dimana saja.


Yunan segera membuka pintu, dia melihat papanya yang sedang menatap tajam padanya. "Papa!" Yunan menyapa sang ayah.


Yunan duduk di kursi sofa yang satu lagi, "Aku sudah tau apa yang akan dibahas disana, karena itu aku tidak bisa datang."


Pak Tomi terlihat marah sekali pada Yunan. "Tak bisa kah kamu seperti Novan? Novan bukan anak kandung papa, tapi dia selalu menjadi anak yang penurut. Novan tidak pernah membantah apappun yang papa bilang. Padahal kamu anak kandung papa, darah daging papa, tapi kenapa kamu sering sekali bermasalah, Yunan?"


Perkataan Pak Tomi membuat hati Yunan terasa ngilu.


"Padahal papa ingin sekali kamu yang jadi penerus perusahaan, Yunan. Tapi kenapa..."

__ADS_1


Yunan memotong perkataan Pak Tomi, "Ya sudah papa serahkan perusahaan itu pada kak Novan. Aku tidak apa-apa. Aku bisa mengurus diri aku sendiri, papa tidak perlu mengkhawatirkan masa depan aku."


Pak Tomi segera berdiri, dia malah menampar wajah Yunan.


Plak...


Yunan meringis memegang pipinya yang memerah.


"Jadi kamu tidak ingin menganggapku papamu lagi?"


"Bukan begitu..."


"Sampai kapanpun kamu anak papa, papa tidak akan membiarkan masa depan kamu hancur, karena papa menyayangi kamu. Papa gak mau tau, kamu harus bertunangan depan Mona minggu depan."


"Aku gak pernah mencintai Mona, Pa. Sampai kapanpun aku gak mau bertunangan dengannya." Yunan keberatan untuk ditunangkan dengan Mona.


Namun, Pak Tomi tidak ingin mendengarkan protes dari Yunan, dia melakukan semua itu demi kebaikan Yunan, demi masa depan Yunan. "Persiapkan diri kamu satu minggu lagi."


"Gak, Pa. Keputusan aku tetap sama, aku gak akan pernah bertunangan dengan Mona. Sudah ada wanita yang aku cintai."


Pak Tomi terlihat semakin marah. "Siapa dia?"


Yunan enggan untuk memberitahu papanya. "Papa gak usah tau, hanya dia yang membuat hidup aku nyaman. Yang aku butuhkan bukan harta yang banyak, tapi kenyamanan."

__ADS_1


Pak Tomi memegang dadanya yang terasa sangat sesak, lebih baik di segera pulang. "Baiklah kalau kamu tidak akan memberitahu wanita itu, biar papa yang akan mencarinya sendiri. Papa tidak akan membiarkan wanita itu hidup bahagia, kalau kamu masih berani menentang papa."


Setelah mengatakan itu, Pak Tomi segera pergi dari sana.


__ADS_2