
Di sebuah pelosok desa, terlihat seorang guru cantik yang sedang mengajar pelajaran IPA di sebuah Sekolah Dasar kelas 3.
Guru cantik tersebut begitu bersemangat mengajarkan murid-muridnya, walaupun keadaan dia yang sedikit memprihatinkan, karena harus duduk di kursi roda.
Ya... wanita itu adalah Dara, sudah 6 tahun dia tinggal di sebuah desa terpencil, sebenarnya 2 tahun dia terbaring koma, kemudian selama 4 tahun ini dia harus berjuang untuk memulihkan keadaan kakinya yang lumpuh.
Setelah selesai mengajar di sekolah, Dara diajarkan oleh perawat pribadinya untuk memperlancar jalan kakinya, dia tinggal di sebuah rumah yang terhitung elit jika dibandingkan dengan rumah-rumah kumuh di sekitarnya.
Dara menarik nafas dalam-dalam, dia harus benar-benar rileks, lalu mencoba untuk berdiri menjadi pinggiran kursi roda sebagai tumpuan.
Dara sangat bernafas lega akhirnya dia bisa berdiri, dengan pelan dia mencoba untuk melangkahkan kakinya, walaupun kakinya terasa begitu berat untuk melangkah.
Satu langkah...
Dua langkah...
Tiga langkah...
Akhirnya Dara berhasil melangkahkan kakinya sebanyak tiga langkah, namun hampir saja dia terjatuh, beruntung suster Devi segera menahan tubuh Dara yang ramping itu.
"Nona Luna gak apa-apa kan?"
Selama 6 tahun ini Dara dipanggil Luna, selama ini dia mengalami amnesia, dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun tentang dirinya, termasuk tentang masa lalunya.
Dara menggelengkan kepala, "Aku gak apa-apa."
__ADS_1
Dara malah merasa senang karena hari demi hari akhirnya kondisinya ada sedikit kemajuan, sekarang dia sudah bisa berjalan walaupun baru beberapa langkah. "Akhirnya aku bisa berjalan, suster."
Suster Devi tersenyum, ikut bahagia melihat perkembangan Dara yang semakin lama semakin membaik. "Iya, Nona. Aku juga ikut senang melihatnya. Tuan Novan bilang jika Nona bisa berjalan dengan lancar, Nona akan diajak jalan-jalan ke Italia."
Dara terperangah mendengarnya, "Novan bilang begitu?"
"Iya katanya Nona ingin sekali pergi ke Italia, makanya Nona harus lebih semangat lagi belajar berjalannya." Suster Devi memperingati Dara.
Dara hanya tersenyum, dia harus bisa segera memperlancar jalannya, agar bisa jalan-jalan ke Italia bareng calon suaminya itu.
Dara sebenarnya tidak mengingat apapun tentang Novan, namun pria itu tiba-tiba datang ke kehidupannya, mengaku kalau dirinya adalah kekasihnya Dara, dan memanggil Dara dengan sebutan Luna.
Sebenarnya Novan bersikeras membujuk Dara agar mau menikah dengannya, namun Dara belum bisa menerima lamaran Novan, karena keadaannya yang cacat, dia ingin fokus dulu dengan kesehatannya, apalagi dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun tentang Novan.
"Pemirsa, berita tentang seorang pembalap tampan yang berasal dari Indonesia itu masih menjadi tranding topik. Yunan telah mengaku dirinya sudah memiliki seorang istri, begitu menggemparkan dunia. Sehingga para fans mencoba untuk mencari tahu siapakah sosok istri dari seorang pembalap terkenal itu."
Dara mengerutkan keningnya ketika melihat wajah Yunan yang sedang diwawancarai oleh salah satu wartawan di Italia.
"Ci sono molti fan che sono molto curiosi, hai già un amante? (Ada banyak penggemar yang sangat penasaran, apakah kamu sudah memiliki kekasih?)
Yunan menjawab dengan penuh rasa bangga. "Ho già una bellissima moglie." (Aku sudah memiliki seorang istri yang sangat cantik.)
Dara rasa wajah pria itu nampak tidak asing baginya.
"Kenapa Nona?" tanya suster Devi.
__ADS_1
"Aku kayaknya pernah lihat dia, tapi dimana ya?" Dara memijat-mijat pelipisnya, mencoba untuk mengingat Yunan.
"Dia itu Yunan, seorang pembalap terkenal berasal dari Indonesia, jadi wajar aja kalau Nona merasa pernah melihatnya, wajahnya memang ada di mana-mana, karena pernah menjadi model iklan juga." jawab suster Devi.
Dara menghela nafas. "Hmm... iya juga kali ya. Tapi beruntung banget yang menjadi istrinya, dia sangat berani bilang ke dunia kalau dia sudah memiliki seorang istri, padahal pria seusia itu pasti masih ingin bermain-main dengan banyak wanita."
"Ya Nona, banyak sekali penggemarnya, apalagi kaum wanita. Tapi sepertinya dia sangat setia sama istrinya itu."
Pembicaraan mereka berhenti ketika ponsel Dara berdering, ternyata ada telepon dari Novan. Dara segera mengangkat telepon dari Novan.
"Hallo sayang, lagi ngapain?" tanya Novan begitu Dara mengangkat telepon darinya.
"Aku lagi latihan berjalan sama suster Devi, suster Devi bilang kalau aku bisa lancar berjalan, kamu mau ajak aku jalan-jalan ke Italia, benar kah?"
Novan tersenyum, "Iya sayang, makanya kamu harus semangat memperlancar jalan kamu, nanti aku akan bawa kamu jalan-jalan ke Italia."
"Iya, tentu saja, aku ingin bisa berjalan dengan lancar." Dara sudah bosan menggunakan kursi rodanya selama beberapa tahun ini.
"Sebentar lagi aku ada meeting, udah dulu ya. Aku mencintaimu, Luna." Novan terpaksa harus mengakhiri panggilan telepon dengan kekasihnya itu.
"Iya, Novan."
Klik!
Novan telah merasa hidupnya sangat sempurna, kini telah menjadi CEO di Angkasa dan Dara telah menjadi miliknya. Akhirnya dia bisa memiliki keduanya.
__ADS_1