Yunan (Suami Rahasia Bu Guru)

Yunan (Suami Rahasia Bu Guru)
Menemui Saksi


__ADS_3

Novan terpaksa harus pulang ke Indonesia, karena masih banyak pekerjaan penting yang harus Novan selesaikan, dia meminta Suster Devi untuk standby di Italia, agar bisa memantau perkembangan pencarian Dara.


Novan memandangi jendela pesawat, hatinya sungguh tidak tenang memikirkan Dara, jika bukan karena perusahaan, dia akan tetap tinggal di Italia untuk ikut mencari Dara.


Novan membulatkan matanya saat tak sengaja melihat Malik dan Alan berada di pesawat yang sama, Alan sedang tertidur, sementara Malik sedang sibuk membaca buku, mungkin karena dia bukan psikiater, tapi karena Yuri memiliki masalah pada syaraf otaknya, sehingga dia harus bisa membuat Yuri mau berkomunikasi dengannya, karena itu Malik membaca buku tentang mental health.


Novan baru ingat satu bulan yang lalu, ada musim terakhir MotoGP di Italia, dia pikir Yunan sudah pergi dari sana, tidak ada di Italia lagi, karena selama ini dia sudah tidak mencari tahu apapun soal Yunan.


"Mengapa mereka hanya berdua?" Novan sering memperhatikan di sekolah Yunan dekat dengan siapa saja, rasanya sangat aneh jika Yunan tidak ikut bersama kedua sahabatnya.


Novan harap Yunan tidak bertemu dengan Dara di Italia, dia tidak akan membiarkan mereka bertemu lagi.


"Aku tidak akan membiarkan Yunan merebut Dara dariku lagi. Dara adalah milikku, sampai kapanpun."


...****************...


[Tuan Yunan, masih ingatkah dengan saya? Saya Asisten El. Saya ingin sekali bertemu dengan Tuan. Kapan Tuan ada waktu?]

__ADS_1


Yunan membaca sebuah pesan yang dikirim oleh asisten dari mendiang ayahnya itu, memang kebetulan Yunan juga memiliki urusan dengan sang asisten, dia segera membalasnya.


[Kebetulan aku lagi tidak sibuk, kapanpun boleh.]


Tak lama kemudian Yunan mendengar ponselnya bergetar kembali.


Drrrttt... Drrrttt...


Yunan segera membaca balasan dari asisten El.


[Kebetulan hari ini saya lagi di luar kota, bagaimana kalau besok kita bertemu di rumah saya?]


[Baiklah nanti besok kita akan bertemu.]


Dara memperhatikan Yunan yang tengah serius saling berbalas pesan dengan seseorang, dia jadi teringat dengan handphonenya yang disita oleh Yunan.


"Bisakah kamu kembalikan handphone aku? Aku harus menghubungi Novan dan suster Devi, mereka pasti mengkhawatirkan aku."

__ADS_1


"Gak bisa, itu handphone adalah jaminan jika kamu berani melarikan diri dari sini." Sebenarnya Yunan tidak ingin Dara menghubungi Novan.


Dara menghela nafas, "Aku jadi curiga."


"Curiga tentang apa?"


"Jika kamu adik tirinya Novan, itu artinya kamu tau dong dari dulu kalau aku tunangan Novan? Terus mengapa kamu malah ngaku-ngaku suami aku? Apa mungkin kamu dulu begitu terobsesi padaku? Jika menghitung waktu 6 tahun yang lalu, mungkin saja dulu kamu masih menjadi murid SMA. Kayaknya mustahil kita menikah."


Mumpung Dara lagi membahasnya, Yunan rasa lebih baik bicara sejujurnya. "Saat itu kamu adalah guru di SMA Angkasa, dan aku adalah muridmu."


Dara terkekeh, "Jadi maksudnya kamu adalah murid yang terobsesi pada gurunya, begitu?" Dara tak habis pikir bagaimana mungkin ada seorang guru mau dinikahi muridnya yang masih bocah.


Percuma saja menjelaskan panjang lebar pada Dara, Dara tidak akan paham, karena Dara hanya menggunakan logikanya. Tidak mungkin ada seorang guru yang cantik dan dewasa seperti dia, mau dinikahi Yunan, yang dulunya masih bocah. Lebih masuk akal jika dia menjadi tunangannya Novan.


Yunan baru ingat, dia lebih baik membawa Dara ke tempat Dara ngekos yang dulu. Siapa tau Dara percaya kalau ibu kos yang bilang padanya.


"Sebelum kita pergi ke pasar, bagaimana kalau pergi ke suatu tempat?"

__ADS_1


"Kemana?"


Yunan menarik tangan Dara, "Nanti juga kamu akan tau."


__ADS_2