Yunan (Suami Rahasia Bu Guru)

Yunan (Suami Rahasia Bu Guru)
Mempersiapkan Pesta Perusahaan


__ADS_3

Di waktu yang bersamaan. Novan sedang mempersiapkan acara ulang tahun perusahaan yang akan diadakan besok, karena itu dia harus segera pulang ke Indonesia. Walaupun hatinya sangat tidak tenang karena Dara belum ditemukan juga.


Membuatnya berpikir yang aneh-aneh apakah mungkin Dara telah bertemu dengan Yunan di Italia?


Novan segera menelpon seseorang, orang itu adalah orang suruhan Novan, padahal Novan sudah lama tidak ingin tahu apapun soal Yunan, kini dia begitu penasaran terhadapnya.


"Hallo Tuan Novan." sapa Arya.


"Aku ingin kamu cari tahu dimana Yunan sekarang, aku curiga bisa saja Dara sedang bersamanya, karena ada kemungkinan Yunan juga ada di Italia waktu aku dan Dara liburan kesana." titah Novan. Walaupun dia harap kecurigaannya itu tidak benar.


"Baik, Tuan."


Klik!


Novan menghela nafas, dia duduk di kursi kebesarannya, di ruang CEO, suatu jabatan yang ingin dia raih dari dulu. Jika bukan karena pekerjaan, dia pasti ikut mencari Dara.


Novan teringat dengan beberapa pesan dari orang misterius yang menerornya. Mengapa orang itu mengatakan dia seorang pembunuh, penipu, dan penjahat.


"Siapa sebenarnya orang yang mencoba menerorku? Mengapa dia mengatakan aku seorang pembunuh?"


Novan teringat dengan seorang wanita bernama Yuri, demi ambisinya dia telah membuat Yuri jatuh hati padanya, menipunya dengan kata-kata dan sikap yang manis, sehingga Yuri jatuh cinta padanya. Wanita itu telah tergila-gila padanya.


Tapi rasanya mustahil jika Yuri masih hidup, Novan yakin waktu itu Yuri pasti mati karena dia telah mengurung tubuh Yuri di dalam karung goni dan membuangnya ke sungai, dia tidak mungkin bisa menyelamatkan dirinya.


Novan segera mengirim pesan pada Arya. Dia memberikan nomor si peneror itu padanya.


[Tolong kamu cari tahu siapa pemilik nomor ini, dia sudah dua kali meneror aku.]


Tak lama kemudian, dia mendengar ponselnya bergetar. Ada balasan dari Arya.


[Baik, Tuan.]


Tok...

__ADS_1


Tok...


Tok...


Terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk!" Novan menyuruh orang itu untuk masuk ke dalam ruangannya.


Ceklek!


Sang tamupun masuk ke dalam ruangan CEO tersebut, Novan nampak gugup saat melihat siapa yang masuk ke ruangannya, bagaimana tidak gugup, selama ini dia sering dihantui rasa bersalah pada sang tamu, karena telah melenyapkan nyawa putrinya.


Walaupun waktu itu Novan terpaksa melakukannya, sebenarnya dia bisa saja membawa Yuri ke rumah sakit, tapi dia yakin Yuri pasti akan melaporkannya ke polisi dan semua rencananya untuk menjadi pemilik Angkasa akan sirna sudah, termasuk dia akan kehilangan Dara. Jadi Novan terpaksa harus melenyapkan Yuri.


"Novan!" Pak Aldo tersenyum menyapa Novan.


Novan pura-pura tersenyum, walaupun dia begitu gugup bertemu dengan ayahnya Yuri itu. "Oh emm... Om Aldo, apa kabar om?"


"Ya beginilah, kamu tau sendiri Om telah kehilangan putri dan istri om. Rasanya Om sangat kesepian." Pak Aldo terpaksa merahasiakan tentang Yuri pada Novan karena dia tidak mempercayai siapapun, bisa saja Novan yang menjadi tersangka atas percobaan pembunuhan Yuri atau juga bisa orang lain pelakunya.


Pak Aldo tak sengaja melihat cincin di jari manisnya Novan, sudah lama tidak bertemu dengan Novan, sepertinya Novan sudah bertunangan.


Novan menyadari apa yang telah dilihat oleh Pak Aldo. "Om tau sendiri kan betapa tersiksanya aku saat kehilangan Yuri, aku selalu memikirkannya tiap hari, kadang aku selalu menangis jika merindukannya. Karena itu mama memaksa aku bertunangan dengan wanita pilihannya, agar aku bisa move on dari Yuri." Novan memang pandai sekali merangkai cerita.


Pak Aldo sangat tau bagaimana besarnya cinta putrinya pada Novan, pasti jika Yuri sembuh dari depresinya, dia akan menanyakan Novan, apakah lebih baik dia jujur saja kalau Yuri sebenarnya masih hidup. "Sebenarnya Yuri..."


Namun, Pak Aldo tak melanjutkan bicaranya, tidak ada yang boleh tau Yuri masih hidup, dia harus bersabar menunggu Yuri sembuh.


Novan mengerutkan keningnya, "Yuri kenapa, Om?"


"Emm... Yuri juga pasti sangat merindukan kamu juga. Syukurlah kalau kamu sudah bisa mulai move on dari Yuri, Om sangat merasa bersalah setiap bertemu dengan kamu, kamu selalu bersedih membicarakan Yuri."


Novan menganggukkan kepala, "Iya, Om." katanya dengan nada sedih.

__ADS_1


"Om sengaja datang kesini mau minta maaf sama kamu, karena Om tidak bisa hadir di acara pesta ulang tahun perusahaan, Om harus pergi ke Singapura, ada sedikit masalah di perusahaan om yang ada disana."


"Oh iya, Om. Gak apa-apa. Semoga pekerjaan Om di Singapura lancar."


...****************...


Hari ini di Vila kebetulan para pembantu sedang sibuk menjalankan tugasnya masing-masing. Hal ini dijadikan kesempatan oleh Yuri untuk kabur dari sana, dia keluar melewati kamar jendela.


Yuri berjalan dengan pelan, sementara dia membawa pisau lipat di saku celananya, karena bernekad untuk membunuh Novan, setelah itu dia akan mengakhiri hidupnya sendiri. Karena di dunia ini dia hanya membenci Novan dan dirinya sendiri, dia merasa hidupnya sudah benar-benar hancur dan tak berguna.


Begitu berhasil keluar dari gerbang Villa, ada security yang melihat Yuri melarikan diri tanpa memakai alas kaki.


"Nona Yuri, Nona mau kemana?" teriak security itu.


Yuri segera berlari kencang, dia tidak ingin di kurung lagi. Sementara dua orang security berlarian mengejarnya.


Begitu menyebrang jalan raya, hampir saja dia tertabrak oleh sebuah mobil.


Ckiittt...


Beruntung pengendara mobil tersebut segera mengerem mobilnya, ternyata dia Malik, Malik memang di sewa oleh Pak Aldo untuk menjadi dokter pribadinya Yuri, sebelum dia resmi masuk ke rumah sakit YASA.


Yuri terjatuh tepat di depan mobilnya Malik.


"Mbak Yuri?" Malik masih ingat wajah cantik pasiennya itu. Dia segera turun dari mobilnya.


Malik melihat ada dua orang security yang sedang mengejar Yuri, dia tau pasti Yuri sedang mencoba untuk melarikan diri.


Malik ingin membantu Yuri berdiri, tapi Yuri tidak ingin disentuh oleh Malik, sehingga dia berusaha untuk berdiri sendiri.


"Mbak mau kemana? Mau aku antar?" tanya Malik pada Yuri.


"A-antarkan aku ke kota A." jawab Yuri, dia memang tidak membawa uang satu persenpun. Dia sama sekali tidak ingat dengan wajah dokter yang pernah menyembuhkannya di Italia itu.

__ADS_1


Malik mengedipkan matanya kepada dua security agar membiarkan dia membawa Yuri, dia memang ingin bisa melakukan pendekatan dengan Yuri, agar bisa berkomunikasi dengannya, karena yang Yuri butuhkan adalah seseorang yang bisa menjadi pendengar dan memahami perasaannya.


Dua security itu pun membiarkan Malik membawa Yuri, karena dia tau wajah dokter yang akan datang ke Villa hari ini dari Pak Aldo.


__ADS_2