
"Aaaaaaa....!" Mona menjerit melihat senjata Alan, dia langsung menutup mata dengan tangannya. "Alan, apa itu tidak kebesaran? Bagaimana caranya biar bisa masuk?"
Mona sangat ngeri membayangkannya.
Alan memposisikan dirinya kembali diatas tubuh Mona. "Nanti saja bertanyanya, yang penting kita coba aja dulu."
"Alan."
"Hm?"
"Kalau gak muat bagaimana?" rengek Mona.
Mungkin begini resikonya mau malam pertama dengan gadis yang manja. "Pasti muat ko, udah kamu diam aja."
Alan segera mengarahkan senjatanya ke milik Mona.
Mona merasakan tegang ketika merasakan ada yang bergerak mencoba untuk masuk ke dalam area intinya.
"Alan."
"Hm?"
"Lakukan dengan pelan." rengek Mona.
"Iya, bawel."
Mona malah mencubit pinggang Alan.
Alan berusaha konsentrasi, dalam beginian dia belum pengalaman, seharusnya dia berguru dulu pada Yunan bagaimana caranya biar cewek tidak kesakitan dalam melakukan berhubungan badan.
Alan mengarahkan senjatanya kembali, tapi Mona lagi-lagi menganggu konsentrasinya.
__ADS_1
"Alan."
"Apa lagi?"
"Apa ini pertama kalinya untuk kamu?"
"Ya."
"Beneran?"
Alan menghela nafas karena Mona malah mengajaknya ngobrol, kapan mainnya kalah begini terus.
"Iya." jawab Alan dengan kesal.
"Padahal kamu punya banyak mantan, kenapa dengan aku kamu gak bisa tahan?"
Alan tak ingin menjawab, dia mengghirup nafas dalam-dalam untuk mengeluarkan seluruh tenaganya, kemudian dia mencoba untuk memasukkan senjatanya ke dalam inti Mona.
Seketika Mona menjerit, padahal baru masuk seperempatnya.
"Aaaaa... Alan, sakit!"
"Hanya sebentar sakitnya, Mona. Kamu bisa tahan ko."
"Tapi... Aaaaa!" Mona menjerit kembali, saat Alan mendorong senjatanya lagi.
"Alan, sakit. Lepaskan!" Mona merengek meminta di lepaskan, sehingga dia mendorong dada Alan.
Namun Alan memegang kedua tangan Mona, meletakkan tangannya di atas kepala Mona, menggenggamnya dengan erat.
"Alan, lepaskan. Kurang ajar!"
__ADS_1
Ternyata membobol keperawanan seorang gadis tidak semudah yang dibayangkan, ada rasa ngilu juga ketika ingin menembus sesuatu yang menjadi penghalang di dalam sana.
Alan berusaha dengan sangat keras, sampai keringat dingin bercucuran di dahinya, dia menghentakan dengan keras senjatanya, sehingga akhirnya dia bisa sukses mencapai gol, membuat senjata Alan masuk sepenuhnya di dalam sana.
Rasanya tak bisa dijabarkan dengan sebuah untaian kata, Alan hanya bisa menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit-langit, ternyata seperti ini rasanya bercinta, sungguh memabukan, apalagi merasakan kedutan milik Mona seakan merem-as manja senjatanya.
Sungguh, Alan tak tahu rasanya akan senikmat ini, sebuah kenikmatan yang tidak ada bandingannya.
Setelah lama mendiamkan senjatanya dia sana, Mona mulai beradaptasi dengan senjata Alan yang berada di dalam intinya.
Alan menghapus air mata Mona, menciumi matanya, kemudian dia mulai menggerakkan senjatanya, suara rintihan Mona kini berganti dengan suara des-ahan.
Tangan Mona yang awalnya berontak, kini dia memeluk punggung Alan, Alan terus menggerakkan pinggulnya yang kokoh, sementara bibirnya sibuk menghisap buah dada Mona secara bergantian.
Des-ahan Mona telah memenuhi kamar, dia benar-benar menikmati malam pertamanya bersama Alan, walaupun tidak ada kata cinta yang terucap dari bibir mereka.
Walaupun begitu, entah mengapa rasanya Mona sangat bahagia karena dialah yang pertama untuk Alan, walaupun Alan dulu playboy, tapi dia sangat kuat mempertahankan keperjakaannya. Merasa dirinya sangat spesial.
"Alan, faster... ahh!"
Alan menggeram hebat saat gelombang itu datang menghampiri mereka, gerakannya menusuk bagian inti Mona semakin cepat.
"Aahh...Alan..."
Mona mende-sah panjang saat mencapai pelepasannya, bersamaam dengan Alan yang langsung mencabut senjatanya, mengeluarkannya di luar.
Mona tak paham, kenapa Alan mengeluarkannya di luar. "Kenapa mengeluarkannya di luar, Alan?"
Alan tak langsung menjawab, dia membersihkan senjatanya dengan tisu.
"Aku takut kamu hamil, sementara aku bukan orang yang memiliki komitmen dalam pernikahan." Alan menjawabnya dengan santai.
__ADS_1
Entah mengapa hati Mona menjadi teriris mendengarnya, padahal dari awal dia tahu Alan memang tidak tertarik dengan pernikahan, tapi kenapa dia harus merasakan sakit ketika mendengar perkataan Alan, mengisyaratkan bahwa pernikahan mereka hanya sementara.