
Paginya...
Dara harus bangun lebih awal dari Yunan, karena beberapa hari ini Yunan yang selalu memasak untuknya, kini giliran dia yang ingin memasak untuk suami bocahnya.
Dara menyiapkan banyak bahan makanan di atas meja yang ada di dapur tersebut, dia memilih memotong-motong wortel terlebih dahulu sambil menunggu matangnya sosis yang sedang dia goreng.
Dara terkejut tiba-tiba ada sepasang tangan melingkari perutnya, membuat jantungnya berdetak, ternyata Yunan sedang memeluknya dari belakang.
Yunan mencium pundak Dara, "Kamu wangi sekali, jam berapa kamu mandi?"
"Emm... satu jam yang lalu." Dara merasa grogi karena dia merasakan badan Yunan begitu merapat dengannya dari belakang. "Hari ini giliran aku yang masak."
"Sayang sekali, padahal aku ingin menjadi suami yang baik untukmu."
Dara merasa terharu mendengarnya, dia berusaha kuat untuk menahan tangisnya, mungkin setelah mereka berpisah nanti, Dara akan sulit menemukan suami seperti Yunan.
"Kamu pasti baru bangun, mending kamu mandi gih." Dara menyuruh Yunan untuk mandi gih.
__ADS_1
"Aku udah mandi, biar kita masak bareng aja."
Yunan segera meraih kornet sapi kaleng di atas meja, lalu membuka tutup kaleng tersebut.
Diam-diam Dara memperhatikan Yunan, suami tampannya memang selalu terlihat ceria, kadang membuat Dara tersenyum sendiri dengan tingkah Yunan.
Rupanya Yunan menyadari Dara sedang memperhatikannya, "Ehm, jangan terus menatapku seperti itu! Kamu akan jatuh cinta padaku nanti."
Dara segera mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin mengakui dengan apa yang dituduhkan Yunan padanya. "Siapa yang menatapmu? Aku hanya sedang memandangi kornet yang kamu pegang."
"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?" Dara mengatakannya dengan nada kesal, sebenarnya dia salah tingkah karena ketahuan memperihatinkan Yunan.
Yunan mendekatkan jaraknya dengan Dara, dia membawa pisau yang sedang dipegang oleh Dara, lalu menyimpan pisau itu di atas meja.
Dara kaget tiba-tiba Yunan mengangkat tubuhnya, membiarkan Dara duduk di atas meja, sehingga dia berhadapan dengan Yunan yang sedang berdiri di depannya.
"Aku suami kamu, jika kamu ingin memandang wajahku yang tampan ini, pandang saja sampai kamu puas, aku sangat senang." Yunan ingin Dara memandangi wajah Yunan dengan lebih dekat.
__ADS_1
Ternyata Dara menuruti keinginan Yunan, dia memandangi wajah Yunan dengan waktu yang lumayan lama, membuat Yunan merasa grogi, karena Dara memandanginya tanpa berkata apapun.
Kapan lagi Dara bisa memandangi wajah tampan suaminya itu, wajah yang begitu dikagumi dan dipuja-puja oleh banyak siswi di sekolah.
"Emm... apa sudah puas memandangi wajahku?" Yunan menjadi salah tingkah karena Dara masih saja memandanginya.
Yunan sama sekali tidak menyangka tiba-tiba saja Dara mengalungkan kedua tangannya pada Yunan, kemudian guru cantik itu menempelkan bibirnya dengan bibir Yunan.
Apa Yunan sedang bermimpi, rasanya tak percaya, seorang Dara mengecup bibirnya, dia yang memulainya.
Getaran kecil menyerang seluruh syarat-syaraf Yunan, membuat aliran darahnya berdesir.
Yunan memeluk pinggang Dara, dia menautkan bibirnya dengan bibir manisnya Dara. Dara memejamkan matanya, dia diam menikmati rasa manisnya yang terkecap oleh Yunan.
Untuk pertama kalinya Dara menyambut ciuman Yunan, mereka saling menyahut dengan gerakan bibir masing-masing, saling bertukar saliva.
Lidah Dara menangkap gerakan lidah Yunan dan mulai bergumul di dalam mulut manis Dara. Jantung mereka berpacu dengan cepat, ciuman di pagi hari ini begitu menggairahkan.
__ADS_1