
Waktu Alan meminta izin untuk pergi ke kamar mandi, Bu Lia dan Bu Maya merasa heran mengapa mereka pergi ke kamar mandi secara bersamaan, karena itu mereka mengikutinya.
Makanya saat Alan membuka pintu kamar mandi, dia terkejut melihat ada mamanya dan Bu Lia berada di depan pintu kamar mandi, membuatnya kelalabakan, takut dikira nganu sama Mona di kamar mandi.
Begitu juga Mona, dia nampak shock melihatnya.
Bu Maya langsung menjewer kuping Alan, "Astaga Alan, kamu gak tau tempat ya, ngapain bawa anak gadis ke kamar mandi heuh."
"A-arrghh ampun, Ma. Aku cuma ngajak Mona ngobrol, Ma. Benaran kita gak ngapain-ngapain." Alan memegang telinganya yang sakit karena dijewer oleh sang mama.
Mona merasakan tidak enak hati ketika melihat mamanya menatapnya seperti singa lapar. "Aku dan Alan gak ngapain-ngapain, kita berdua cuma ngobrol di dalam. Aku dan Alan gak saling cinta, makanya kita berdiskusi di kamar mandi untuk bicara jujur sama mama dan papa..."
Bu Lia memotong perkataan putrinya, dia tertawa kecil, "Kalian bilang gak saling cinta tapi lama sekali berduaan di kamar mandi? Terus bukannya Alan juga bilang sangat mencintai kamu, Mona sayang. Dia bilang jika dia kehilanganmu separuh nyawanya akan ikut hilang. Apa itu yang dibilang gak saling cinta?"
Bu Maya menimpali ucapan calon besannya. "Biasanya mereka bilang gak saling cinta karena habis berantem. Tapi Bu Maya tenang saja, Alan harus menikah sama Mona. Anak-anak zaman sekarang kalau pacaran memang keterlaluan."
"Kita gak ngapain-ngapain di kamar mandi, Ma." Alan keukeuh tidak merasakan melakukan apapun pada Mona.
__ADS_1
"Mama gak mengajarkan kamu menjadi pecundang, Alan. Yang rugi itu Mona, bukan kamu." Bu Maya semakin besar keinginannya untuk menikahkan Alan dan Mona.
"Tapi kami memang gak ngapain-ngapain, beneran." Mona mencoba meyakinkan mereka.
Tetap saja orang tua mereka semakin bersikukuh untuk menikahkan mereka dalam waktu yang cepat, karena takut Mona dan Alan pacaran kebablasan.
Ide mereka untuk menggagalkan perjodohan dalam berdiskusi di kamar mandi musnah sudah, karena Bu Lia dan Bu Maya semakin yakin ingin mempercepat pernikahan mereka.
...****************...
Yunan dan Malik malah mentertawakan nasib sahabatnya yang apes itu.
"Wah pada rese, gue lagi dapat musibah, lu pada malah mentertawakan gue." Alan merasa gemas kepada kedua sahabatnya itu ketika dia menceritakan bahwa dia dan Mona akan segera dinikahkan.
"Kayaknya kamu ketularan nasib Yunan harus nikah dadakan gara-gara dikira berbuat tak senonoh." ucap Malik.
"Wah kalau gitu kamu juga harus hati-hati, Lik. Bisa jadi kamu juga ketularan sama nasibnya Yunan." Alan memperingatkan Malik.
__ADS_1
Yunan menanggapi perkataan mereka berdua. "Lah kan emang udah, buktinya Malik naksir wanita dewasa, sama kayak gue."
Yunan membanggakan dirinya karena bisa menularkan nasibnya pada kedua sahabatnya.
Alan menggaruk kepalanya yang gak gatal. "Aduh, kenapa harus Mona sih?"
Yunan menepuk pundak Alan. "Itu artinya lu ditakdirkan memang gak bisa menjadi perjaka abadi."
"Kayaknya gue bakal tetap jadi perjaka walaupun gue harus nikah sama Mona. Jujur aja gue lihat Mona tuh gak ada ser-serannya, malah gue gemas ingin meledek dia terus. Mona bukan tipe gue." Alan mengatakannya dengan penuh yakin.
Yunan hanya bisa nyengir, karena dulu juga begitu, dia menikahi guru yang menurutnya paling menyebalkan, sampai pernah merasa yakin gak akan tergoda dan jatuh cinta pada Dara, nyatanya dia malah tergila-gila pada Dara.
"Kita taruhan, kalau sampai dalam satu bulan lu jatuh cinta sama Mona, lu harus lari pakai rok mini keliling kota." Yunan menantang Alan.
Alan menyanggupi tantangan dari Yunan. "Oke, siapa takut. Tapi kalau ternyata gue gak jatuh cinta juga. Lu yang harus lari pakai rok mini keliling kota."
Malik cari aman. "Aku gak ikutan."
__ADS_1