
Karena Dara mabuk, Yunan harus menggendong Dara di punggungnya, wanita cantik itu terus saja meracau, berbicara sesuka hatinya.
"Anak-anak, apa kalian tau apa bedanya makhluk hidup dan benda mati?" Rupanya Dara sedang mengigau, dia pikir dia sedang mengajar saat ini.
Tubuh Dara yang ramping sama sekali tidak terasa berat, Yunan malah senang bisa menggendong wanita cantik itu.
Yunan tersenyum samar mendengarnya, "Jadi kamu juga seorang guru? Bahkan usiamu 29 tahun?"
Semuanya sama persis dengan Dara, membuat Yunan semakin yakin kalau wanita yang sedang dia gendong itu adalah istrinya. Hingga terlintas ada niat jahat dipikirkannya, untuk memastikan dia Dara atau bukan.
Yunan sangat ingat ada tanda lahir di pahanya Dara, dia harus bisa melihat pahanya, walaupun dia harus berbuat mes-um pada wanita itu, tapi itulah satu-satunya cara untuk memastikan siapa wanita ini sebenarnya.
Yunan terpaksa harus berbelok arah, dia tidak jadi mengantarkan Dara ke Hotel Briliant, padahal jaraknya ke hotel tersebut sangat dekat, tapi Yunan membawa Dara ke hotel yang lain, untuk memastikan sesuatu.
__ADS_1
Yunan memesan satu kamar hotel untuk dirinya dengan Dara. Dia merebahkan tubuh Dara yang sudah tertidur pulas diatas ranjang.
Yunan menelan saliva memandangi Dara yang sedang tertidur, Dara memang sangat cantik sekali, walaupun dia dalam kondisi tidurpun tidak mengurangi kadar kecantikannya.
Yunan tak sengaja melihat gaun yang dipakai oleh Dara , ada satu kancing yang terbuka di bagian dadanya, sehingga terlihat jelas belahan dada wanita cantik itu.
Untuk pertama kalinya Yunan tergoda dan berhasrat pada seseorang wanita, setelah 6 tahun lamanya dia ditinggal oleh Dara. Membuatnya semakin berharap kalau wanita ini adalah Dara, karena dia hanya ingin melakukannya bersama Dara.
"Aku minta maaf, aku harus bersikap tidak sopan. Tapi aku harus memastikan sesuatu." Yunan memohon maaf pada Dara, dia sangat merasa tidak enak hati kalau seandainya ternyata wanita itu benar-benar bukan Dara, itu artinya dia telah melakukan pelecehan.
Dengan hati-hati Yunan membuka celana lejing hitam yang dipakai oleh Dara, dia menghela nafas, rasanya seperti sedang melakukan tindakan asusila pada seorang wanita asing.
Kemudian Yunan ingin menyibak guan bagian bawah, namun tiba-tiba saja Dara terbangun dan menahan tangan Yunan. Membuat Yunan kelalabakan.
__ADS_1
"Emm... aku... aku... aku minta maaf, aku hanya ingin memastikan sesuatu, tolong jangan salah paham." Yunan menjadi gugup.
Yunan pikir Dara akan marah, wanita itu malah tertawa, dia memandangi Yunan. "Apa aku sedang bermimpi? Bagaimana bisa aku bertemu dengan seorang pembalap terkenal dan tampan disini."
Mungkin karena Dara sedang mabuk, sampai dia berkata dengan jujur, kalau sebenarnya dia tertarik pada ketampanan Yunan, seorang pembalap terkenal itu. Padahal sebelum dia mabuk, dia berusaha untuk bersikap jutek pada Yunan, karena ingin menjaga jarak, untuk menghargai tunangannya.
"Sepertinya kamu mabuk berat, Luna."
"Sebenarnya aku lelah, bagaimana bisa aku bertunangan dengan seorang pria yang sama sekali tidak bisa menggetarkan hatiku. Hanya karena aku berhutang budi padanya. Rasanya aku ingin melarikan diri, tapi aku tidak ingin menyakitinya." racau Dara.
Yunan merasa tersentuh mendengarnya, "Kalau kamu tidak mencintainya, melarikan diri saja. Cinta tak bisa dipaksakan."
"Apa kamu ingin membawa aku pergi? Jujur saja hatiku bergetar saat bertemu dengan kamu."
__ADS_1
Yunan tertegun mendengarnya, walaupun dia tau Dara mengatakannya sambil mabuk, tapi dia yakin itulah yang Dara rasakan sekarang ini padanya.