
Yunan membuka jaket yang dia pakai, lalu memakainya pada Dara, kemudian membawa helm yang berwarna putih yang ada di jaring jok bagian belakang, dia memang sengaja membawa helm satu lagi karena ingin menjemput Dara.
Yunan memakaikan helm berwarna putih tersebut kepada Dara, dia tersenyum, memandangi Dara yang sudah memakai helm tersebut. Dia pun memekai helmnya sendiri yang berwarna merah, karena warna kesukaan Yunan adalah warna merah, makanya mobil dan motor sportnya berwarna merah.
Setelah Yunan standby di motornya, Dara pun segera naik, dia duduk dibelakang Yunan.
"Pegangan yang kuat." Yunan memberikan instruksi.
Namun Dara hanya mencubit kaos biru yang di pakai oleh Yunan, begitu Yunan menarik gas motornya dengan begitu kencang, Dara refleks memeluk Yunan karena takut terjatuh.
Yunan tersenyum tipis begitu Dara memeluk dirinya. Dia memacu motornya dengan kecepatan normal.
Motor sport berwarna merah telah melintasi jalan raya, hingar bingar suasana malam di kota ini begitu sangat terasa, Dara merasa sedikit tenang ketika merasakan angin malam menerpa kulitnya, dia semakin mempererat pelukan pada punggung Yunan.
Yunan memberhentikan motornya di depan restoran, dia yakin Dara pasti belum makan, karena itu dia ingin makan malam dengan Dara di restoran tersebut.
"Yunan, aku gak lapar." ucap Dara ketika melihat Yunan membuka helmnya.
__ADS_1
Namun Yunan mendengar suara aneh di perut Dara membuat Yunan terkekeh, "Lalu suara apa itu?"
Dara nampak malu sekali, wajahnya yang berkulit putih tiba-tiba saja memerah karena ketahuan perutnya kerucukan, padahal dia sama sekali gak berselara untuk makan, tapi perutnya tidak bisa diajak kompromi. "Emm ini..."
Yunan turun dari motornya, dia berdiri di dekat Dara yang masih berada di atas motor, Yunan mengusap perut Dara, "Apa mungkin suara anak kita?" candanya.
"Anak apanya? Memangnya kita pernah..." Dara tak melanjutkan perkataannya, begitu dia menyadari apa yang dia ucapkan, mengapa dia harus berkata begitu.
Yunan nampak sumringah, tadinya dia ingin pergi ke restoran karena ingin makan malam bersama Dara, dari semenjak pulang sekolah, dia belum makan sama sekali karena mencemaskan Dara. Tapi sekarang dia lebih tertarik untuk memakan sang istri. "Kamu pilih saja mau makan atau dimakan?"
Dara refleks mencubit lengan Yunan, "Dih."
Dara segera turun dari motor, dia membuka helmnya, dia lebih memilih makan dari pada di makan.
Yunan hanya bisa nyengir, dia mengikuti Dara yang sudah terlanjur salah tingkah, main pergi begitu saja masuk ke dalam restoran.
Setelah pesanan mereka telah sampai diantarkan oleh waitress, Yunan begitu lahap menikmati makan malamnya, berbeda dengan Dara, Dara nampak tak begitu berselera untuk makan.
__ADS_1
Dara masih ingat bagaimana percakapan dia bersama dengan Pak Tomi di kantor utama Angkasa.
Flashback On...
Sore itu Dara telah tiba di kantor utama Angkasa, dia merasa tidak enak hati saat melihat raut wajah Pak Tomi yang menatapnya seakan dia memiliki dosa yang besar pada ayah dari suaminya itu.
"Saya sangat kecewa sekali sama anda, Bu Dara. Tadinya saya pikir anda adalah guru teladan di sekolah, namun ternyata saya salah menilai anda. Bagaimana bisa anda diam-diam menikah dengan putra saya? Padahal anda tau Yunan masih kecil, dia masih sekolah, perjalanannya masih panjang. Bagaimana bisa wanita dewasa seperti anda tega ingin menghancurkan masa depan anak saya?" Pak Tomi terlihat marah sekali.
Dara begitu terkejut mendengar perkataan Pak Tomi, ternyata pria itu sudah mengetahui hubungan pernikahannya bersama Yunan. Dan kata-kata Pak Tomi sangat menyakitkan.
Bahkan Dara belum bisa diberikan kesempatan untuk bicara oleh Pak Tomi. "Dan saya baru tahu ternyata kalian menikah siri gara-gara penggrebekan. Moral anda sebagai seorang guru sangat nol, bagaimana bisa anda membawa anak saya ke kosan anda? Apa anda menggodanya karena tau dia adalah pewaris Angkasa Group?"
"Apa yang bapak tuduhkan pada saya, itu sama sekali tidak benar, saya dan Yunan menikah karena kesalahpahaman, kami tidak melakukan apa-apa. Dan saya tidak pernah sekalipun berpikir ingin menggoda Yunan, kalaupun saya menyukainya bukan karena dia seorang pewaris Angkasa Group, tapi karena dia adalah Yunan, sekalipun Yunan terlahir dari keluarga miskin, karena dia Yunan, saya akan tetap menyukainya." Dara mengatakannya dengan kesungguhan hatinya, walaupun dia tau Pak Tomi tidak akan mempercayainya.
Pak Tomi menghela nafas, dia terdiam sebentar, mencoba untuk berbicara dengan tidak emosi. "Putra saya masih sekolah, perjalanan hidupnya masih panjang. Saya sebagai seorang ayah sangat mengharapkan Yunan tumbuh menjadi pria yang sukses, dan menikah dengan wanita yang sudah menjadi pilihan saya dari dulu. Saya sebagai ayahnya Yunan memohon dengan sangat kepada Bu Dara untuk segera melepaskan Yunan, pergi jauh dari hidup Yunan, tolong jangan hancurkan masa depan putra saya hanya gara-gara pernikahan kalian yang sama sekali tidak saya harapkan. Sampai kapanpun saya tidak akan merestuinya."
Dara berusaha sekuat hati untuk tidak menitikan air matanya, Pak Tomi mengatakannya dengan nada memohon, permohonan sebagai seorang ayah yang tidak ingin masa depan putranya rusak gara-gara Dara.
__ADS_1
Flasback Off...