
Flashback On...
Tahun 2015...
Saat itu Dara dan Novan masih kuliah, Dara memberikan sebuah guci kepada Novan sebagai hadiah ulang tahun pria yang sangat dekat dengannya itu.
"Selamat ulang tahun, Novan. Maaf aku cuma bisa memberikan hadiah guci ini, dan aku yang membuatnya sendiri, makanya kelihatan kurang rapi." Dara saat itu memang sangat mencintai Novan, walaupun hubungan mereka belum ada kejelasan.
Novan sangat senang menerima kado pemberian dari Dara, dia membawa guci tersebut dari tangan Dara. "Makasih ya Ra, akan aku jaga dengan baik kado pemberian dari kamu, apalagi guci ini kamu yang membuatnya sendiri."
Dara menganggukan kepala, "Iya sama-sama."
Tahun 2017 (5 bulan sebelum Dara menikah dengan Yunan)...
Dara dan Novan sedang bervideocallan, saat itu Novan sedang berada dikamarnya, sehingga Dara tidak sengaja melihat guci pemberian darinya.
"Kamu masih menyimpan guci dari aku, Van?" Dara merasa terharu melihatnya.
Novan tersipu malu, "Iya, tentu saja aku gak pernah membuang pemberian dari kamu, malahan aku menjadikan guci kamu itu sebagai tempat aku menyimpan file-file penting dan apapun rahasia aku ada disana."
Tahun 2020 (Waktu Dara masih Amnesia)...
__ADS_1
Novan memperlihatkan sebuah foto pada Dara, di foto tersebut terlihat Dara dan Novan sedang difoto bersama, sambil Novan menunjukkan sebuah guci berwarna biru dengan tersenyum lebar.
"Ini adalah guci dari kamu, kamu yang membuatnya sendiri untuk aku, sampai sekarang aku masih menyimpannya."
Saat itu walaupun Dara tidak mengingatnya, dia hanya bisa berusaha untuk mempercayai Novan, karena Novan memperlihatkan foto kebersamaan mereka.
Flashback Off...
Karena itu Dara harus memeriksa guci pemberian darinya, siapa tau ada hal penting yang bisa mengungkapkan kejahatan Novan.
Saat ini Dara, Alan, dan Mona sudah berada di depan gerbang kediaman Pak Tomi. Mona sudah menjelaskan bagaimana letak setiap ruangan yang ada disana pada Dara dan Alan, karena dari kecil sering main kesana, jadi tahu dimana saja letak setiap ruangan yang ada disana.
Mona dan Alan mencoba untuk mengelabui security disana. Mereka bertengkar di depan gerbang rumah yang besar itu.
Mona mendengus kesal, "Kelamaan mikir, ikuti saja skenarioku."
"Maksudnya?" Alan tak paham skenario apa yang ingin Mona jalankan.
Plak...
Alan kaget, tiba-tiba saja Mona menampar pipi Alan, walaupun gak begitu keras.
__ADS_1
Alan ingin protes, "Kok kamu namp.."
Namun tiba-tiba saja Mona marah-marah padanya, "Sudah ku katakan aku tidak cinta sama kamu, kenapa kamu terus saja mengejar aku?"
"Hah?" Alan melongo mendengarnya, siapa juga yang naksir pada Mona.
Kedua security segera berlarian, untuk memisahkan Mona dan Alan.
"Eh, Nona Mona ada apa ini?" tanya salah satu security pada Mona. Mereka pasti mengenal sekali pada gadis yang sempat dijodohkan pada tuan muda mereka.
"Ini lho Pak, teman aku, dia memaksa aku untuk menerima cintanya." Mona menunjuk Alan.
Hal ini dijadikan kesempatan oleh Dara untuk masuk ke dalam gerbang, karena Alan dan Mona mencoba membuat kedua security itu fokus memisahkan mereka.
Mona bilang kalau pembantu disana tidak tinggal satu rumah dengan majikannya, setiap malam mereka tinggal di paviliun yang ada dibelakang rumah, karena Pak Tomi sangat menjaga privasi keluarga.
Alan hanya bisa menggaruk kepalanya gak gatal, karena Mona pede sekali bilang Alan menyukai gadis itu, dia terpaksa harus mengikuti skenarionya Mona, walaupun dia harus bersikap tergila-gila pada Mona.
Alan malah curhat, "Coba mas security bayangkan, aku dari dulu sangat menyukai dia, tapi dia terus saja menolak aku. Padahal aku naksir sama dia dari saat kita masih orok lho."
"Lho memang bisa?" Kedua security menggaruk kepalanya sambil berpikir.
__ADS_1
Alan dan Mona harus mengelabui kedua security tersebut, sampai Dara bisa keluar lagi dari sana.
"Bisalah Mas, sakiing cintanya aku sama dia." jawab Alan.