
Kenzo terpaksa membaca tulisan yang diperlihatkan oleh Yunan, dia harus berbicara pada Pak Aldo sesuai dengan tulisan yang ditulis oleh Yunan.
...Maafkan aku, aku tidak bisa bertunangan dengan Yuri. Aku bukan pria yang baik untuk Yuri. Aku adalah pria cabul yang sering mempermainkan wanita, aku pria yang tak bisa hidup tanpa banyak wanita, aku tak akan bisa menjadi pria yang setia pada Yuri....
"Maafkan saya Om, saya tidak bisa bertunangan dengan Yuri."
Pak Aldo nampak terkejut mendengar perkataan Kenzo. "Lho kenapa? Bukannya kamu cinta sama Yuri?"
"Aku memang cinta sama Yuri, Om." Kenzo membaca tulisan Yunan kembali diatas kertas. "Tapi aku bukan pria yang baik untuk Yuri."
"Maksud kamu apa bicara begitu?"
"Aku adalah pria cabul yang sering mempermainkan wanita, aku pria yang tak bisa hidup tanpa banyak wanita, aku tak akan bisa menjadi pria yang setia pada Yuri."
Pak Aldo sangat emosi sekali mendengarnya, "Om sama sekali tidak menyangka ternyata kamu pria seperti itu, Kenzo. Baguslah kalau kamu bicara jujur, om juga tidak akan sudi memiliki menantu cabul seperti kamu."
Klik!
Pak Aldo langsung mematikan panggilan telepon, dia mengembalikan ponselnya pada Baskara. Kemudian Pak Aldo menarik tangan Yuri.
__ADS_1
"Ayo Yuri, kita pergi dari sini."
Pak Santoso melihat Yuri dan calon besannya akan pergi meninggalkan pesta, "Lho Pak Aldo dan Yuri mau kemana? Bukankah malam ini Yuri dan Kenzo akan segera bertunangan?"
Padahal Pak Santoso sekarang ini sedang dalam keadaan gelisah, karena Kenzo sama sekali tidak bisa dihubungi.
"Maaf Pak Santoso, saya tidak bisa melanjutkan rencana perjodohan anak kita." jawab Pak Aldo dengan nada kecewa.
"Lho kenapa?" Pak Santoso nampak kebingungan.
"Tanyakan sendiri pada putra Bapak."
Pak Aldo sebagai seorang ayah , dia sangat mengkhawatirkan masa depan Yuri, apalagi Pak Aldo tidak bisa meninggalkan bisnisnya di Singapura, karena pusat perusahaan ABS berada disana.
Karena itu dia sangat berharap putrinya segera menikah, dia menginginkan ada seorang pria yang bisa menjaga dan melindungi Yuri. Tapi ternyata dia telah dua kali gagal untuk mencarikan calon pendamping untuk Yuri.
Yuri hanya bisa pasrah saja ketika papanya membawanya pergi dari aula pesta, padahal dia belum ketemu sama sekali dengan Malik.
Yuri memang sangat merasa lega ketika ayahnya tiba-tiba memutuskan untuk tidak jadi bertunangan dengan Kenzo, walaupun dia tak paham dengan apa yang mereka bicarakan, dan mengapa tiba-tiba Kenzo memutuskan untuk tidak jadi bertunangan dengannya. Tapi walaupun begitu, dia ingin sekali bertemu dengan Malik, karena dia sudah berjanji akan memberikan jawaban pada Malik setelah pulang dari pesta, dia ingin berterus terang bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama terhadap pria itu.
__ADS_1
Yuri ingin mencoba untuk memberanikan diri untuk menjalin hubungan kembali bersama seorang pria, asalkan pria itu adalah Malik.
"Pa, aku mohon, turunkan aku disini. Aku harus bertemu dengan seseorang." Yuri meminta izin pada ayahnya agar dia berhenti ditengah jalan.
Namun Pak Aldo tidak mengizinkannya. "Ini sudah malam, lebih baik kamu pulang, Yuri."
"Tapi Pa..."
Hal itu membuat sang supir nampak kebingungan antara harus menghentikan mobilnya atau tidak. Tapi dia memilih untuk mengikuti perintah tuan besarnya.
Mobil milik Tuan Aldo pun kini telah sampai di kediamannya, ketika Yuri turun dari mobil dengan wajah muram, dia tak sengaja melihat Malik yang sedang berdiri di depan rumah.
"Malik?"
Bukan hanya Yuri, Pak Aldo pun dibuat terkejut dengan kehadiran Malik, dia mengerutkan keningnya sambil menatap Malik.
Malik berjalan mendekati Yuri dan Pak Aldo. Kemudian dia menekukan kaki kirinya bersimpuh di hadapan mereka.
"Saya sangat mencintai Yuri Om. Karena itu maafkan Saya jika aku tidak bisa menyerah untuk mendapatkan Yuri. Saya ingin menikah dengannya, dan saya akan selalu berusaha untuk membuat dia bahagia."
__ADS_1
Yuri merasa terharu melihat keberanian Malik yang datang melamarnya seorang diri, karena Malik sudah tidak memiliki orang tua.