
Yunan masih berada di kuburan ayahnya. Menangis memeluk batu nisan sang ayah. Padahal dia bukanlah seorang pria yang gampang menangis. Dulu dia menangis saat Dara pergi meninggalkannya dan juga hari dimana ayahnya disemayamkan.
Jika Novan adalah seorang pria yang sangat licik sampai tega mencekoki Dara dengan obat yang bisa membuat amnesia Dara bertambah parah, ada kemungkinan Novan juga bisa melakukan hal licik lainnya pada orang lain, bisa saja pada ayahnya juga.
Yunan menelpon Asisten El.
"Hallo. Ada apa, Tuan?" tanya Asisten El begitu mengangkat telepon dari Yunan.
"Apakah Asisten El sering datang ke rumah papa?"
"Ya sering, karena sampai sekarang saya masih menjabat sebagai seorang asisten, walaupun sekarang status saja menjadi asistennya Pak Novan."
Walaupun Novan tidak sepenuhnya mempercayai Asisten El karena dia tahu asistennya itu adalah kepercayaan ayah tirinya.
"Kalau begitu tolong cek rekaman CCTV pada kejadian kematian papaku di rumah. Aku hanya mencurigai kematian papa gak wajar waktu itu."
"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan secepatnya."
"Terimakasih, Asisten El."
"Iya sama-sama."
__ADS_1
Klik!
Yunan sudah dewasa sekarang, usianya 24 tahun, karena itu dia harus siap menjadi seorang penerus perusahaan, padahal tadinya dia ingin membuka perusahaan sendiri dengan Alan, tapi dia tidak ingin perusahaan yang dibangun oleh papanya dari nol jatuh ke orang yang licik seperti Novan.
Apalagi kalau sampai kecurigaannya benar kalau seandainya Novan telah melakukan kejahatan terhadap ayahnya, seumur hidup dia tidak akan pernah memaafkannya, dia pastikan hidup Novan akan menderita.
Yunan menjadi teringat dengan Dara, dia segera menelpon Alan yang sedang duduk santai di depan apartemen, Alan tidak berani masuk ke dalam, lebih memilih menunggu di luar apartemen.
"Ada apa, Nan?" tanya Alan.
"Apa Dara keluar dari apartemen?"
"Gak, dia sama sekali gak keluar. Gue rasa dia tidak berniat kabur dari lu."
"Hmm... ya sudah, sebentar lagi gue pulang. Terimakasih sudah mau menjaga bini gue."
"Oke sama-sama, ya gini nasibnya jomblo, malah menjaga bini orang hehe, si Malik lagi sibuk sama pasiennya."
Alan memang ingin berubah menjadi playboy insyaf setelah diceramahi oleh Malik, kalau seorang laki-laki itu harus memuliakan seorang wanita.
"Ntar deh gue jodohin lu sama si Mona."
__ADS_1
"Dih najis, mending gue jomblo seumur hidup."
...****************...
"Surat apa ini?"
"Kok tulisannya mirip sekali denganku?"
Saking penasarannya, Dara membaca isi surat tersebut.
...Maafkan aku Yunan, aku harus pergi tanpa berpamitan padamu. Karena aku takut aku semakin berat untuk meninggalkanmu....
...Maafkan aku yang sudah membuat hati kamu hancur, mungkin kamu akan membenciku. Tapi aku rasa inilah keputusan yang terbaik untuk kita, kita memang tidak seharusnya bersama, terlalu banyak perbedaan diantara kita yang membuat aku memang tidak pantas untukmu....
...Terimakasih atas segalanya, kamu adalah suami yang terbaik. Aku mencintaimu, Yunan....
...Aku harap, suatu saat nanti, aku bisa melihat kamu sukses meraih mimpi kamu, walaupun aku hanya bisa memandangmu dari jauh....
Tangan Dara gemetaran membaca surat itu, surat yang dia tulis untuk Yunan. Dia sama sekali tidak pernah melupakan tulisan tangannya sendiri.
Begitu besar kah cinta Dara untuk Yunan? Sampai Dara bilang cinta padanya di surat itu. Mungkin itulah alasannya mengapa hatinya bergetar ketika bertemu kembali dengan Yunan, mungkin pikirannya bisa lupa pada Yunan, tapi hatinya tidak, Yunan tetap selalu dihatinya.
__ADS_1
Tapi jika Dara mencintai Yunan, kenapa dia harus pergi meninggalkan Yunan? Lalu mengapa Novan bisa menemukan Dara dan mengaku-ngaku calon suaminya?
Sebenarnya apa yang terjadi enam tahun yang lalu?