
Sekitar pukul tiga sore Yunan, Alan dan Malik telah kembali ke rumahnya Yunan. Ketiga pria itu sama-sama membawa sebuah paper bag di toko yang sama.
Yunan ingin memberikan hadiah pada Dara sebuah perhiasan untuk Dara.
Alan ingin memberikan pakaian da-lam untuk Mona, mungkin karena Alan ingin kejar target agar bisa cepat punya anak, jadi Alan ingin Mona memakai pakaian da-lam yang dia pilih sendiri.
Dan Malik ingin membelikan gaun yang cantik untuk Yuri, dia ingin mengajak Yuri ke pesta ulang tahun rumah sakit tempat Malik bekerja. Malik berharap Yuri mau menerima hadiah pemberian darinya.
Begitu sampai rumah Yunan, Malik nampak mematung ketika melihat Yuri yang sedang asik bercengkrama dengan Dara dan Mona, di teras depan rumah.
Mungkin karena Yuri adalah salah satu kliennya Yunan, dan juga ayahnya Yuri dan ayahnya Mona saling mengenal, sehingga mereka nampak akrab sekali.
Malik sangat merasa lega melihat kondisi Yuri yang sekarang, dia sudah terlihat ceria dan bahkan sekarang dia telah menjadi seorang CEO memimpin perusahaan papanya, ABS, yang ada di Indonesia.
"Noh tiga pangeran sudah pada pulang." seru Mona, dia masih tak bisa menahan tawa ketika melihat Alan dan dua sahabatnya masih memakai rok mini.
"Mampuslah aku." Malik baru menyadari saat ini dia sedang memakai rok mini, membuat wajahnya merah padam, dia sangat malu sekali melihat Yuri yang sedang mentertawakannya.
"Tapi lu harusnya bersyukur, Mbak Yuri bisa tertawa lihat lu pakai rok mini." bisik Yunan pada Malik.
Malik menanggapi perkataan Yunan. "Tapi masalahnya betisku gak berbulu kayak kalian, bagaimana kalau dia berpikir aku gak macho?"
Kini giliran Alan yang menyahut. "Gampang, lu buktikan saja nanti kalau kalian sudah menikah, kalau lu itu benar-benar macho." Mungkin maksud Alan harus dibuktikan nanti jika sudah berada diatas ranjang.
Yunan memberikan paper bag pada Dara. "Ini oleh-oleh habis aku keliling kota, sayang."
__ADS_1
Dara sangat senang menerima paper bag itu. "Makasih ya sayang."
Begitu juga Alan, dia memberikan paper bag pada Mona. "Ini buat kamu Miss Cilok."
Mona memeluk paper bag itu. "Makasih ya playboy sengklek."
Sementara Malik, dia dengan ragu-ragu memberikan pape bag pada Yuri. "Ini untuk Mbak Yuri, aku yang memilihnya sendiri, semoga cocok dan muat buah badan Mbak."
Yuri tersenyum menerima paper bag dari Malik. "Oh iya sama-sama."
"Perusahaan YASA akan mengadakan pesta ulang tahun besok, kalau Mbak Yuri..."
Yuri memotong perkataan Malik. "Jadi kamu akan datang kesana? Kebetulan aku dan papa juga diundang ke pesta itu, mungkin aku akan datang bersama papa, nanti kita bertemu disana ya."
Selama ini Malik dan Yuri masih berkomunikasi, sebatas pasien dan dokter, Malik belum mengungkapkan perasaannya lagi pada Yuri, takut Yuri menolaknya lagi, dan hal itu mungkin akan menjadi canggung untuk mereka.
Mungkin saja setelah dia menjadi dokter terbaik di rumah sakit YASA, dan dia juga telah memiliki pendapatan yang cukup besar, dia bisa memantaskan dirinya untuk bisa melamar Yuri kembali.
Yang terpenting sekarang Yuri baik-baik saja, dia sudah sembuh dari depresinya, dan juga kehidupannya di masa lalu telah memberikan banyak pelajaran untuknya, sehingga walaupun saat ini ada banyak pria yang mencoba mendekati wanita cantik berusia 28 tahun itu, namun Yuri tidak gampang terbujuk rayu lagi. Yuri lebih memilih fokus pada kariernya.
...****************...
Malam ini Alan menyuruh Mona untuk memakai hadiah pemberian darinya. Karena itu Alan sudah tidak sabar ingin segera melihat Mona memakai bra dan ce-la-na dalam berwarna hitam yang telah dia pilih sendiri untuk Mona.
Alan sedang menunggu di kamar, sementara Mona memakainya di kamar mandi.
__ADS_1
Ceklek!
Begitu pintu terbuka, Mona keluar dengan memakai gaun pesta berwarna biru yang kedodoran.
"Alan, aku bingung sama kamu, kenapa kamu karus menyuruh aku memakai gaun ini di kamar mandi? Dan gaunnya terlalu panjang, masa gak tau postur tubuh istri sendiri."
Alan tercekat. "Astaga, pasti ketuker sama Malik!"
"Oh pantas saja, kak Yuri kan lebih tinggi dari pada aku, tertukar ternyata."
Mona memang dilarang untuk membuka paper bag tadi sore, Alan ingin Mona membuka hadiah darinya itu malam saja.
"Wah gawat bagaimana kalau Mbak Yuri sudah membuka paper bagnya."
"Memangnya kamu sebenarnya mau ngasih hadiah apa sama aku?"
Wajah Alan memerah menjawab pertanyaan dari Mona, bagaimana ekspresi Yuri jika saat melihat hadiah dari Malik itu adalah ce-la-na dalam dan bra berwarna hitam. "Pakaian da-lam, Mona."
"Hah?" Mona terkejut mendengarnya.
Mungkin paper bag Alan dan Malik tertukar saat masih berada di toko.
...****************...
Sesuai permintaan beberapa reader, besok mulai bonus chapter part Malik, gak akan panjang, sambil menuju end.
__ADS_1