
"Selamat datang di perusahaan Angkasa, Tuan Yunan. Kami semua sangat mendukung anda untuk menjadi pemimpin di Angkasa Group." Pak Herlambang selaku personalia di perusahaan tersebut turut memberikan kata selamat pada Yunan.
Sudah banyak para tamu undangan yang turut memberikan kata selamat pada Yunan di aula pesta tersebut, namun tetap saja bagi Yunan semuanya tak membuatnya bahagia, karena tidak bisa membawa Dara ke pesta, demi keamanan Dara.
Dan situasi tidak memungkinkan, Novan tidak boleh tahu bahwa Dara ada bersamanya.
Novan hanya mengepalkan tangannya, memandangi Yunan seakan seperti seorang raja yang sedang disalami oleh banyak orang, bahkan mereka begitu segan dan penuh rasa hormat kepadanya.
Bu Thesa berbisik pada Novan, "Kenapa bisa kecolongan seperti ini? Hancurlah kita, Novan!"
Novan mendengus kesal, "Jangan terus mengeluh, Ma. Aku capek."
"Lalu kita harus bagaimana sekarang, hm? Mama gak mau jatuh miskin, bagaimana kalau Yunan menendang kita?" lirih Bu Thesa.
"Gak akan, Yunan gak tau kejahatan yang telah kita lakukan, dia tidak tau sama sekali atas apa yang telah kita lakukan sama ayahnya dan juga Dara. Jadi untuk sekarang kita ikuti saja permainan ini. Aku juga tidak akan menyerah begitu saja." Novan mengepalkan tangannya, mungkin satu-satunya cara agar dia bisa bertahta kembali di Angkasa Group adalah dengan cara melenyapkan Yunan di muka bumi ini.
Yunan sesekali melihat ke arah Novan, dia tersenyum smrik memperhatikan Novan yang terlihat sangat kesal dan menahan amarah, padahal ini baru kejutan pertama, kejutan kedua sebentar lagi muncul.
Novan dan Bu Thesa harus berpura-pura bersikap baik pada Yunan. Mereka terpaksa harus menyalami Yunan juga.
__ADS_1
"Mama senang akhirnya bisa bertemu lagi dengan kamu, Yunan." Bu Thesa tidak ingin ditendang dari rumah, dia tidak ingin hidup miskin.
Sementara Novan memilih diam, dia rasa perkataan Bu Thesa sudah cukup mewakili, pikirannya masih ruwet gara-gara teror kemarin, dan sekarang perusahaan telah diambil alih oleh Yunan.
Yunan dan Asisten El saling memandang, kemudian mereka berdua tersenyum. Karena sebentar lagi kejutan kedua akan segera muncul.
Dan kejutan kedua pun muncul, Yunan tersenyum melambaikan tangannya pada Malik yang baru saja datang, Malik pun berjalan mendekati Yunan yang sedang bersama Novan dan Bu Thesa.
"Yunan." sapa Malik sambil tersenyum, kemudian dia menyapa Bu Thesa dan Novan.
"Malam tante. Malam Pak Novan."
"Kamu datang kesini sama siapa?" tanya Yunan pada Malik.
"Sama kekasih aku," jawab Malik, kemudian dia menunjuk seorang wanita yang sedang berjalan ke arah mereka dari kejauhan. "Itu dia orangnya, cantik kan?"
Novan dan Bu Thesa reflek menoleh ke arah wanita yang ditunjuk oleh Malik, mereka membulatkan mata ketika melihat wajah wanita itu dengan jelas, ekspresi mereka seakan sedang melihat hantu.
Flashback On...
__ADS_1
Yuri akhirnya berkata jujur pada Malik kalau orang yang sudah membuatnya sakit seperti ini adalah Novan, mantan kepala sekolah SMA Angkasa. Awalnya Malik tak percaya, karena Novan adalah kepala sekolahnya waktu dia masih SMA dan kakak tirinya Yunan, karena itu dia memberikan ide untuk mengundang Novan datang ke jembatan.
Dari kejauhan Malik dan Yuri melihat Novan datang ke jembatan, membuat Malik terkejut, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Yuri bahwa Novan adalah orang yang mencoba untuk untuk membunuh Yuri, 6 tahun yang lalu.
Yuri nampak ketakutan sampai dia menggigil saat melihat Novan yang sedang bringas membanting ponsel dan menginjak-injak ponselnya sampai hancur.
Malik mencoba untuk menenangkan Yuri. "Jangan takut, aku pasti akan melindungi Mbak Yuri, karena itu Mbak Yuri harus bangkit, kita hadapi bersama-sama orang licik dah jahat seperti dia."
Yuri merasakan hatinya tenang setelah mendengar kata-kata Malik, apalagi Malik menggenggam tangannya untuk membuatnya tenang.
Setelah Novan pergi, Malik dan Yuri pergi ke jembatan sana, tempat Novan menghancurkan ponselnya Yuri.
Malik melihat kedalaman sungai di bawah jembatan, membayangkan betapa mengerikannya saat tubuh Yuri dibuang ke dalam sungai dengan keadaan masih hidup dan bernafas. Membuatnya mata Malik berkaca-kaca.
Yuri menyadari sepertinya ada orang yang memperhatikan mereka dari kejauhan, dia langsung bersembunyi di belakang punggungnya Malik.
Ternyata orang itu Asisten El, Asisten El memutuskan untuk tidak akan pergi dari sana sebelum dia tahu siapa orang yang sudah meneror Novan.
"Nona Yuri?" Asisten El tercengang begitu melihat wajah Yuri dengan jelas, walaupun sekarang wanita itu nampak ketakutan, masih bersembunyi di belakang punggungnya Malik.
__ADS_1
Flashback Off...