
Malik membawa Yuri ke sebuah danau, suasana disana sangat sejuk sekali untuk dijadikan tempat untuk menenangkan diri, apalagi suasana disana gak begitu ramai.
"Kenapa membawa aku kesini? Aku bilang aku ingin ke kota A." Yuri mengatakannya dengan nada jutek.
Malik tak menjawab, dia hanya tersenyum, lalu keluar dari mobilnya, Yuri pun terpaksa mengikuti Malik.
Malik duduk di sebuah kursi yang tak jauh dengan tepi danau, "Tempat ini cocok sekali untuk menenangkan diri, Mbak Yuri."
Yuri mengerutkan keningnya, "Kamu tau namaku?"
"Tentu saja, aku tau. Aku adalah Dokter Malik, yang dulu pernah menangani Mbak Yuri saat Mbak Yuri koma, dan juga yang mengirim pesan pada Mbak."
Yuri menyipitkan matanya, memperhatikan wajah Malik, dia baru ingat kalau Malik adalah dokter yang menanganinya waktu di Italia. Kemudian dia duduk disamping Malik. "Lalu apa tujuan kamu datang kesini?"
"Kebetulan pekerjaan aku akan pindah ke Indonesia, sebelum itu aku ingin tau bagaimana kondisi Mbak Yuri, Pak Aldo menyuruh saya untuk memeriksa keadaan Mbak lagi, bagaimana kondisi kepala Mbak? Apa sering sakit?"
Yuri menganggukkan kepala, "Ya kadang kepalaku terasa sakit, setiap kali aku merasakan kepalaku sakit, rasanya aku ingin memecahkan kepalaku."
Malik tak langsung menjawab, dia melihat ada sebuah toko sandal, dia merasa kasihan pada Yuri karena tak memakai alas kaki. "Mbak tunggu dulu disini."
__ADS_1
Yuri hanya menganggukkan kepala, membiarkan Malik pergi. Yuri menatap pemandangan yang begitu indah di danau sana, pikirannya nampak kosong.
Malik pun pergi ke toko tersebut yang jaraknya tak jauh dari tempat mereka duduki, tak lama kemudian Malik kembali sambil membawa sebuah sandal untuk Yuri, dia berjongkok membersihkan kaki Yuri yang kotor, lalu memakaikan sandal pada kakinya.
Yuri memandangi Malik, matanya berkaca-kaca mengingat bagaimana perlakuan manis Novan padanya dulu, Novan pernah bersikap manis dan romantis, sampai memakaikan high heels padanya.
"Mbak Yuri kenapa terlihat begitu sedih?" Malik nampak kebingungan saat melihat Yuri menitikan air matanya.
Yuri segera menghapus air matanya, "Aku hanya merasa kasihan pada diriku sendiri, betapa bodohnya aku waktu itu. Rasanya aku benar-benar ingin mati, seharusnya kamu jangan membiarkan aku hidup waktu itu."
Malik merasa lega akhirnya Yuri mau bercerita padanya. "Percayalah, tidak semua orang 100 persen berlaku baik, semua orang pasti memiliki masa lalu, pasti memiliki kesalahan. Karena itu jangan membenci diri sendiri. Jika aku memikirkan masa lalu, aku juga sama, pernah sempat membenci diriku sendiri, tapi aku berusaha memberanikan diri untuk bangkit, melawan rasa takut itu."
"Setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua, gunakan kesempatan itu untuk memperbaiki diri Mbak, Mbak harus bangkit, Mbak harus yakin pada sendiri bahwa Mbak bisa melewati semua ini. Jangan pernah melukai diri sendiri, apalagi orang lain, karena sebuah dendam. Mbak harus mulai bisa berdamai dengan masa lalu. Jangan menghancurkan hidup Mbak yang kedua kalinya."
Yuri menangis mendengar perkataan Malik, betapa bodohnya dia sampai harus bernekad untuk membunuh Novan, itu artinya dia akan menghancurkan hidupnya untuk yang kedua kalinya.
Malik ingin mengusap pundak wanita yang usianya 4 tahun lebih tua darinya itu, untuk menenangkannya, tapi dia mengurungkan niatnya, dia harus bersikap profesional antara dokter dan pasien.
Malik memberikan sapu tangan pada Yuri.
__ADS_1
Yuri terpaksa menerimanya, karena dia membutuhkan sapu tangan itu dia gunakan untuk menghapus air matanya.
"Terimakasih, aku sedikit tenang bisa bercerita padamu." Entah mengapa Yuri merasa nyaman saat bercerita pada Malik.
Malik tersenyum penuh rasa lega, "Iya sama-sama, Mbak. Syukurlah kalau bisa membuatmu tenang. Tapi boleh aku tau siapa nama orang yang sudah mencelakai Mbak?"
Yuri enggan untuk menjawab, tangannya gemeteran, nafasnya terasa begitu sesak, dia belum bisa cerita pada Malik tentang Novan.
Malik paham betul Yuri belum siap untuk membicarakan hal itu, karena itu dia rasa lebih baik membahas masalah lain saja. "Ya sudah, jangan dulu dijawab kalau belum bisa bercerita. Hm... Dulu aku dan teman-teman sering kesini untuk menenangkan diri."
"Pasti senang sekali memiliki seorang teman, kita bisa berbagi rasa sedih dan bahagia bersama mereka." lirih Yuri. Dia nambahkan perkataannya. "Jadi ayahku menyuruh kamu datang kesini?"
"Iya, benar. Pak Aldo menyuruh saya untuk memeriksa kondisi Mbak Yuri, katanya Mbak Yuri sering merasakan sakit kepala."
"Lalu dimana ayahku sekarang?"
Tadi pagi Yuri masih tidur, jadi Pak Aldo tidak tega untuk membangunkan Yuri waktu dia akan berangkat pergi ke Singapura, sekalian mampir sebentar ke kantor utama Angkasa.
"Mungkin sekarang Pak Aldo sedang berada di dalam perjalanan ke Singapura, katanya tadi dia mampir dulu ke kantor utama Angkasa. Kebetulan Angkasa Grup akan merayakan pesta ulang tahun perusahaan, besok."
__ADS_1
Yuri lama terdiam, perkataan Malik benar, dia seharusnya jangan mengotori tangannya untuk membunuh Novan, dia bisa balas dendam pada Novan dengan cara yang lebih elegan.