
Pak Tomi telah pergi, namun Yunan masih terdiam di ruang tamu, beberapa kali dia menghirup nafas dalam-dalam, untuk menenangkan hatinya.
Sampai kapanpun dia tidak akan pernah mau bertunangan dengan Mona, dia akan berusaha untuk mempertahankan Dara, walaupun dia sekarang ini masih murid SMA, tapi cintanya pada Dara begitu tulus. Jika Dara mau menerimanya, dia akan bekerja keras untuk menjadi seorang kepala keluarga, tanpa mengadalkan kekayaannya ayahnya.
Setelah merasa dirinya tenang, Yunan masuk ke dalam kamar, dia melihat Dara yang sudah tertidur di atas kasur dengan posisi miring ke kiri.
Yunan membenarkan selimut yang menyelimuti tubuh Dara, dia duduk di pinggiran ranjang, menatap wajah cantik sang istri. Yunan harap Dara tidak mendengar percakapan dia dengan papanya.
Yunan memilih tidur di ruang tengah, dia tidak bisa tidur bersama Dara tanpa seizin dari Dara.
Setelah Yunan keluar dari kamar, Dara membuka matanya, ternyata Dara sebenarnya belum tidur, karena memikirkan semua percakapan Yunan dan Pak Tomi yang tak sengaja dia dengar.
Mata Dara berkaca-kaca, sepertinya dia dan Yunan memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Dia memang harus mengakhiri pernikahan rahasia mereka.
...****************...
Pak Tomi telah sampai ke kediamannya, dia masih kesal sekali karena Yunan selalu saja membangkang padanya, padahal Pak Tomi hanya ingin masa depan Yunan bersinar, apalagi jika dia bersanding dengan Mona, sama-sama memiliki perusahaan besar di kota ini.
"Papa bicara apa saja sama Yunan tadi?" tanya Bu Thesa, kepo.
__ADS_1
Pak Tomi enggan untuk menjawab, sikapnya begitu terlihat dingin sekali, mungkin dia masih kesal pada Yunan.
Pak Tomi dan Bu Thesa melihat Novan yang sedang duduk di ruang tengah, pria itu terlihat memasang wajah yang begitu serius menatap ayah tirinya.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama papa, ini mengenai Yunan."
Bu Thesa menjadi penasaran, "Memangnya ada apa dengan Yunan?"
"Nanti juga mama akan tau, tapi untuk saat ini, aku ingin bicara berdua dengan papa." Novan meminta Bu Thesa untuk memberikan ruang pada Novan dan Pak Tomi untuk berbicara berdua.
Bu Thesa menghela nafas, dia terpaksa pergi ke lantai atas, dia yakin apa yang diucapkan Novan sangat menguntungkan untuk dia dan Novan.
Novan menghirup nafas dalam-dalam, dia yakin sekali dengan keputusannya, hanya inilah satu-satunya cara memisahkan Yunan dan Dara. "Sebenarnya Yunan diam-diam sudah menikah, Pa."
Pak Tomi tercengang mendengarnya. "Jangan ngarang kamu, Novan. Bagaimana mungkin Yunan sudah menikah, Yunan masih kecil. Dia masih sekolah."
"Tapi faktanya seperti itu, Pa. Aku kenal dengan orang yang menyaksikan pernikahan mereka." Novan segera menelpon Bu Lina.
"Hallo!" Terdengar suara Bu Lina.
__ADS_1
"Hallo Bu, ini dengan Novan."
"Oh iya ada apa Novan?"
"Apa benar Yunan dan Dara sudah menikah? Aku hanya ingin memastikannya sekali lagi."
"Ya benarlah, ibu menyaksikan sendiri pernikahan mereka, kalau tak percaya tanyakan saja ke Pak RT disini."
Pak Tomi memegang dadanya yang terasa semakin sesak, kenyataan ini sangat membuatnya terkejut.
Novan tersenyum puas melihat Pak Tomi yang nampak shock seperti itu, dia segera mengakhiri percakapannya bersama Bu Lina.
"Ja-jadi Yunan sudah menikah dengan seorang perempuan bernama Dara?" tanya Pak Tomi pada Novan. Dia nampak ternganga.
Novan menganggukkan kepala.
Pak Tomi terbatuk-batuk. Dia menepuk-nepuk dadanya.
"Jangan bilang kalau Dara yang dimaksud itu adalah wali kelasnya Yunan? Gak mungkin dia kan, Novan?"
__ADS_1
Novan mengatakannya dengan berat hati, "Memang dia orangnya, Pa."