
Alan tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya, karena dia terus saja memikirkan Mona, selama satu bulan ini dia merasa telah kehilangan Mona, padahal dia sangat merindukan sosok Mona yang sering berantem dan meledaknya.
Alan belum bisa memahami dengan apa yang dia rasakan pada Mona, sebenarnya perasaan apa ini? Rasanya tidak mungkin jika dia jatuh cinta pada Mona, tapi jika apa yang dia rasakan pada Mona bukanlah cinta, lalu mengapa dia merasa tak suka saat melihat Mona berduaan dengan Angga?
Bahkan sampai malampun Alan tak bisa tidur gara-gara memikirkan kegundahan hatinya, Alan segera pergi ke kamarnya Mona.
Tok...
Tok...
Tok...
"Mona, kita harus bicara."
Namun, tak ada jawaban. Alan mengetuk pintu kamar lagi.
Tok...
Tok...
Tok...
__ADS_1
Tak ad jawaban juga.
Alan terpaksa harus masuk ke kamar Mona, namun ternyata Mona tak ada disana, Alan segera mencari Mona ke setiap ruangan yang ada di apartemen tersebut, ternyata Mona tidak ada juga, membuatnya sangat frustasi.
"Ah, kemana dia?" Alan takut Mona tiba-tiba pergi dalam hidupnya.
Alan segera meraih kunci mobil untuk mencari Mona.
Namun, ketika dia berada di depan lift, Alan tak sengaja melihat Mona yang sedang makan ice cream, rupanya wanita itu pergi ke luar untuk membeli ice cream.
"Alan, kenapa kamu ada disini? Bukannya kamu sudah tidur?"
"Aku beli ice cream di toko terdekat, emangnya ada larangan makan ice cream di malam hari? Gak kan? Lagian ini masih jam 9."
Mona sama sekali tidak tahu bahwa Alan takut Mona tiba-tiba saja pergi dari hidupnya, dia sudah tau bagaimana menderitanya Yunan ketika ditinggalkan Dara. Eh ternyata orang yang sedang dia khawatir lagi enak-enakan makan ice cream.
Mona segera masuk ke dalam apartemen, kemudian diikuti oleh Alan.
"Lain kali kalau mau pergi ke luar harus minta izin dulu." pinta Alan pada Mona.
"Oke." jawab Mona dengan santai, kemudian dia duduk di kursi sofa. Mona telah menghabiskan ice creamnya, meletakkan kemasan ice cream tersebut di atas meja.
__ADS_1
Alan menghela nafas ketika melihat ada sisa ice cream di sudut bibir Mona, Mona memang kebiasaan sehabis makan ice cream ataupun coklat suka blepotan.
"Bukan hanya itu, lain kali jangan pernah makan ice cream ataupun coklat di luar mau itu di kafe ataupun ditempat kerja, cukup di rumah aja." setelah berkata begitu, Alan duduk disamping Mona.
Mona tak terima dengan peraturan dari Alan, "Lho peraturan macam apa ini? Masa aku dilarang makan ice cream dan minum coklat di luar."
"Apa kamu tau kamu itu setiap makan ice cream atau minum coklat suka blepotan. Aku melihat dengan mata kepala aku sendiri saat Angga menyentuh bibir kamu."
Alan menunjuk bibir Mona. "Jangan pernah ada yang boleh menyentuh bibirmu ini selain aku. Aku suami kamu, jadi hanya aku yang boleh menyentuh kamu."
Mona berdecak. "Suami?"
Padahal Alan sendiri yang bilang tidak memiliki komitmen di dalam pernikahannya.
Mona mengerucutkan bibirnya, dia meraih tisu diatas meja untuk membersihkan bibirnya.
Alan merasa geregetan melihatnya, dia merebut tisu dari tangan Mona. "Biar aku yang membersihkannya."
"Gak usah, biar aku mmphh..." Mona tak melanjutkan perkataannya, ketika merasakan Alan mencium bibirnya, ternyata Alan membersihkan bibir Mona dengan bibirnya.
Alan menyapu bibir Mona, me-lum-at bibirnya dengan penuh perasaan. Mona mencoba untuk mendorong tubuh Alan, namun Alan semakin dalam mencium bibirnya dengan cara menekan tengkuk leher Mona. Alan sudah tidak bisa menahan dirinya dari pesona sang istri.
__ADS_1