
Mona memilih tidak menjawab, padahal dalam hati ingin berteriak karena Alan menghentikan aktivitas jarinya yang sedari tadi terus dia gesekan di daerah intinya.
Melihat dari ekspresi wajah Mona yang nampak kecewa karena Alan menghentikannya begitu saja padahal sebentar lagi Mona akan menuju pelepasannya, dan juga dari suara nafas Mona yang terputus-putus. Alan yakin Mona menginginkannya, namun gadis itu masih saja gengsi untuk menjawab pertanyaannya.
Alan tersenyum smrik memandangi wajah cantik Mona yang ada di bawahnya. "Kalau kamu diam, itu artinya setuju."
Mona masih saja gengsi untuk bilang iya. "Kapan aku bilang gitu?"
"Des-hanmu yang bilang begitu." goda Alan.
"Tapi aku gak mmhh..." Mona tak kuasa melanjutkan perkataannya begitu merasakan lidah Alan sedang bergerilya dengan area pu-tingnya.
Alan begitu mahir membuat tubuh Mona melayang, tak segan Alan menghisapnya dengan kuat.
Alan kembali menggoda area intinya Mona dengan jarinya, merangsang bagian bawah Mona dengan satu jari, bergerak menusuk di bawah sana hingga badan Mona turut mengikuti pergerakan jarinya Alan yang keluar masuk didalam sana.
__ADS_1
"Ahh..."
Desa-han Mona terdengar lagi begitu syahdu, sehingga Alan mempercepat gerakan jarinya. Sementara dia tidak ingin membiarkan buah melonnya menganggur, Alan menyantap kembali buah dada Mona.
"Mmmhh...ahhh..." Mona semakin hanyut, dia tak malu lagi untuk mende-sah manja, menekan kepala Alan yang ada didadanya.
Punggung Mona melengkung ke atas, kedua tangannya memegang erat seprai ketika merasakan ada yang mendesak ingin keluar dari area intinya.
Dan akhirnya gelombang itupun datang, sangat banyak, sehingga tubuh Mona bergetar hebat.
Alan mencium bibir Mona kembali, Alan menyunggingkan senyuman ketika merasakan Mona kini membalas ciumannya. Ciuman mereka terasa sangat panas dan menggebu.
Alan melepaskan cela-na dalam Mona yang sudah basah itu, sehingga wajah Mona memerah. Dia menutupnya dengan tangan. "Alan aku malu."
Alan hanya tersenyum, dia melepaskan tangan Mona yang menutupi keindahan dibawah perutnya, sehingga nampak begitu jelas bagaimana indahnya surga dunia yang akan segera dia nikmati.
__ADS_1
Ternyata Mona walaupun polos, dia suka merawat diri, sehingga tubuhnya sangat terlihat indah, putih dan mulus.
Alan memposisikan dirinya berada di antara kedua pangkal paha Mona. Dia membuka paha Mona dengan lebar, kemudian membersihkan cairan yang ada di milik Mona dengan lidahnya.
Membuat Mona menganga ketika merasakan lidah Alan menyapu bagian kulit sensitifnya, sampai dia mende-sah ero-tis. "Ahh... Alan."
Bukan hanya membersihkan, Alan juga menciuminya, dia ingin membuat Mona semakin dibuat melayang. Apalagi ketika Alan memasukkan lidahnya ke dalam, bergerak keluar masuk dengan ritme yang pas.
Tubuh Mona menggelinjang, dia reflek mencengkram rambut Alan, padahal baru tadi dia merasakan pelepasan, kini harus mengalami pelepah yang kedua kalinya.
Lidah Alan merasakan kedutan dari milik Mona, sepertinya gadis itu akan segera mencapai pelepasan yang kedua, sehingga Alan mempercepat gerakan lidahnya. Mona semakin dibuat menggila oleh ulah Alan.
"Ahhh... ahhh...." Akhirnya Mona telah mencapai pelepasannya yang kedua, dia mencengkram seperai dengan erat untuk memberikannya kekuatan.
Alan sudah tidak sabar, dia menanggalkan celananya, sehingga nampak bagaimana batangnya yang besar dan sudah berdiri kokoh.
__ADS_1
"Aaaaaaa....!" Mona menjerit melihatnya, dia langsung menutup mata dengan tangannya. "Alan, apa itu tidak kebesaran? Bagaimana caranya biar bisa masuk?"