
Tangan Alan kini turun ke lehernya Mona, menciumi bagian telinga dan lehernya. Mona merasakan kegelian tapi nikmat, sehingga dia nampak kebingungan, apa dia harus menikmati atau berontak.
Tangan Alan mulai nakal meraba dadanya Mona, membuat Mona terkejut. "Alan!"
Namun Alan tak ingin mendengarkan protes dari Mona dia harus membuka lingerie yang dipakai oleh Mona, namun Mona mencegahnya. "Alan, kamu mau ngapain? Aku malu."
Alan menggaruk kepalanya yang gak gatal. "Kita kan mau melakukannya, berarti harus di buka dong pakaian kamu."
"Kelihatan dong semuanya." rengek Mona.
"Ya iyalah kelihatan, bukan hanya kelihatan tapi kita akan saling merasakan tubuh kita."
"Tapi..."
Alan tak memberikan kesempatan pada Mona untuk bicara, dia menyumpal bibirnya dengan bibir Alan agar Mona tak banyak bicara, kemudian dia membuka lingerie yang dipakai oleh Mona, walaupun Mona hendak menahan tangannya, sehingga lingerie itu robek.
Mungkin harus dengan sedikit pemaksaan agar bisa mendapatkan jatah dari Mona, Alan menindih tubuh Mona, mencium bibirnya dengan rakus, sementara Mona saat ini hanya memakai pakaian da-lam saja.
Mona tak bisa berontak lagi karena tubuhnya dikunci oleh Alan, dan juga dia mulai merasakan terbuai dengan ciuman yang Alan berikan.
__ADS_1
Mona terkejut ketika tangan Alan membuka branya, dia tak bisa protes karena Alan masih menciumnya dengan penuh naf-su.
Alan menghentikan ciumannya, dia ingin melihat bagaimana bentuk gunung kembarnya milik Mona, dia menatap takjub ketika melihat dua bulatan indah di dada Mona, yang terlihat sangat menggoda.
Mona menutup dadanya dengan kedua tangannya. "Alan, aku malu. Jangan dilihatin terus!"
Alan malah ingin tertawa melihat raut wajah Mona yang terlihat sangat merah itu, Mona benar dua benda yang indah itu jangan dilihatin terus, tapi harus dirasakan.
Alan menarik tangan Mona yang menutupi buah dadanya, kemudian dia menyentuhkan bibirnya pada buah dada Mona.
"Alan, jangan!"
Alan tak peduli dengan pemberontakan Mona, dia menyentuhkan lidahnya pada ujung pu-tingnya buah dada Mona, membuat Mona menganga, rasa geli bercampur nikmat menjadi satu. Tubuhnya seakan terbakar ketika Alan menggerakkan lidahnya menjilati bagian puncaknya seperti ice cream.
Apalagi ketika Alan mulai memberikan hisapan pada put-ing yang berwarna merah jambu tersebut, membuat Mona seakan dibuat terbang tinggi.
"Alan... Mmhh..."
Mona ingin menolak tapi tubuhnya merasakan nikmat, sehingga tubuhnya meliuk-liuk, membusungkan dadanya ke atas, membuat Alan semakin leluasa melahap buah dadanya.
__ADS_1
"Ahhh... Alan."
Mona sudah mulai menikmatinya, tak ada lagi pemberontakan dari diri Mona, malahan tanpa dia sadari dia memeluk kepala Alan, menekannya agar berharap Alan memasukkan sepenuhnya buah dadanya ke dalam mulutnya, walaupun rasanya tak mungkin.
Tangan Alan tak ingin kalah, jemarinya mulai meraba paha Mona yang mulus dan putih itu, lalu meraba milik Mona yang masih terhalang ce-la-na dalam.
Mata terkejut ketika Alan memasukkan tangan ke dalam ce-la-na dalam Mona, lalu menggerakkan satu jemarinya disana.
"Owhh... Alan...ahh..."
Walaupun Alan yang dianggap kalah oleh Mona karena dia yang meminta duluan, tapi Alan merasa dirinyalah yang menang, karena berhasil membuat Mona yang awalnya menolak, kini dia telah ikut terhanyut terhadap apa yang telah dia lakukan pada tubuhnya, apalagi Mona telah mende-sah manja, membuat hasrat kelelakiannya semakin memuncak.
Alan menggerakkan jarinya di daerah inti Mona, bergerak maju mundur dengan sangat lembut, hal itu membuat Mona merasakan dirinya semakin melayang tak tentu arah, tangannya memegang seprai dengan erat.
"Ahh... Alan."
Alan tersenyum puas, mulutnya melepaskan buah dada Mona yang sedari tadi dia nikmat, lalu mengecup bibir Mona.
"Mau lanjut apa tidak?" bisik Alan pada Mona.
__ADS_1
Mona nampak bingungan ditanyai seperti itu, sementara dibawah sana jari Alan terus menggoda, mengesek-gesekan jarinya ada bagian yang paling sensitif dibawah perutnya.
Mau bilang iya, takut Alan kepedean dan merasa menang. Mau bilang tidak, tapi tubuhnya sangat menginginkannya, apalagi kini Alan sengaja menghentikan aktivitas jarinya dibawah sana, rasanya kepalanya mau pusing, padahal sebentar lagi dia akan menuju pelepasan.