
Perlahan bibir Mona membalas luma-tan Alan, Mona tak bisa membohongi hatinya bahwa sebenarnya dia merindukan pria itu, walaupun mereka selama satu bulan telah tinggal bersama, namun karena Mona selalu mendiamkan Alan karena merasa sakit hati atas perkataan Alan, hal itu membuat mereka merasakan jauh dan sama-sama merasa kehilangan.
Seakan seperti mendapatkan lampu hijau, Alan semakin intens melu-mat bibir Mona.
Alan merasakan nafas Mona tersenggal, mungkin karena Alan begitu naf-su mencumbu bibirnya yang teramat manis itu, sehingga Alan melepaskan ciuman mereka, membiarkan Mona untuk menghirup nafas.
Alan kemudian memberikan kecupan-kecupan panas pada leher jenjang Mona. Alan menjilat, mencecap, dan menghisap lembut leher Mona.
"Alanhh..."
Des-han Mona membuat Alan gelap mata, dia tak bisa menahan diri lagi. Alan membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Mona, nampak bra berwarna hitam yang masih membungkus dua benda favoritnya Alan.
Alan melepaskan bra tersebut, sehingga menyembullah bulatan indah yang ada didada Mona. Alan mer-emas dengan lembut buah dada bagian kiri Mona, lalu jarinya mengelus bagian puncaknya yang berwarna pink itu. Sentuhan tangan Alan membuat puncak payu-dara Mona mengeras, bahkan Mona merasakan tubuhnya seakan terbakar.
Alan mendekatkan bibirnya pada puncak payu-dara sebelah kiri, kemudian dalam hitungan detik, puncak itu sudah ada dalam kulu-man Alan.
"Ahhh... Alan!" Desah Mona ketika merasakan puncaknya diku-lum, dijilat dan dihisap oleh Alan.
Tanpa sadar Mona mer-emas rambut Alan, Alan memainkan bibirnya di dada Mona semakin liar, membuat re-masan semakin kuat.
Alan beralih ke puncak yang satu lagi, dia melakukan hal yang sama. Mona tiada hentinya mendes-ah, semakin kuat mer-emas rambut Alan.
Mereka baru sadar saat ini mereka sedang berada di kursi sofa, Alan segera menggendong Mona membawanya ke kamar, Mona terkesiap mengalungkan kedua tangannya pada leher Alan.
Tidak seperti waktu itu, kini Mona tak menolaknya sama sekali untuk melakukan hubungan suami-istri dengan Alan,karena wanita itu juga sangat merindukan sentuhan yang pernah Alan lakukan pada tubuhnya. Terlebih karena Alan suaminya, dia memang wajib memberikan haknya pada sang suami.
__ADS_1
Alan membaringkan tubuh Mona diatas kasur, Alan mencium bibir Mona kembali, menciumnya dengan sangat ganas, kemudian Alan membuka rok mini yang dipakai oleh Mona, termasuk cela-na dalamnya.
Tanpa tergesa Alan menenggelamkan kepalanya diantara kedua paha Mona, hingga Mona berteriak kencang dan punggungnya melengkung ke atas, kedua pahanya menghimpit kepala Alan.
"Owhh... My God, Alan." Mona meracau sambil menekan kepala Alan agar mempertahankan lidahnya Alan yang sedang bergerilya di area intinya.
Alan semakin liar memainkan lidahnya, membuat Mona menggila, tiada hentinya dia menyebutkan nama Alan di dalam desa-hannya.
Paha Mona bergetar, cengkramannya pada rambut Alan semakin kuat, sehingga akhirnya Mona telah sampai menuju pelepasannya.
Alan membuka seluruh pakaiannya tanpa sisa, dia memposisikan dirinya diantara kedua paha Mona, dengan perlahan dia mencoba untuk memasukan ke area inti Mona.
Keduanya melenguh nikmat ketika kedua tubuh mereka menyatu, Alan mulai mengen-jot tubuh Mona, sehingga terdengar suara desa-han dan geraman di kamar sana, dan juga bunyi bagaimana kedua tubuh itu menyatu.
Alan melahap buah dada Mona, mempercepat gerakannya. Mona benar-benar di buat kehilangan akal, dia terus saja di buat mendes-ah dan mendes-ah.
Alan mengerti dia semakin mempercepat gerakannya, semakin cepat. "Bersama."
Alam ingin dia dan Mona keluar secara bersamaan. Dan tanpa menunggu lama, akhirnya mereka mengerang penuh rasa nikmat ketika ada yang mendesak keluar dari tubuhnya.
Mona baru menyadari bahwa Alan mengeluarkannya di dalam. Apa Alan lupa?
"Alan, kamu mengeluarkannya di dalam."
Alan terkekeh. "Gak apa-apa, biar kamu cepat hamil."
__ADS_1
Apakah Mona salah dengar, Alan ingin Mona hamil?
Alan memposisikan dirinya berada di samping Mona, dia membawa Mona ke dalam dekapannya. "Maafkan aku, Mona. Aku ingin mencabut kata-kataku yang waktu itu. Aku ingin punya anak darimu, aku ingin pernikahan kita langgeng sampai kita menua. Aku gak bisa membayangkan bagaimana jika aku kehilangan kamu, rasanya aku akan menjadi gila."
Mona merasa terharu mendengarnya, sampai tanpa terasa dia menitikan air mata.
Alan menghapus air mata Mona, dia mencium kening Mona, lalu menangkup wajah Mona. "Aku mencintaimu, Mona. Apa mencintai apapun yang ada di diri kamu, segala kekurangan dan segala kelebihan kamu. Dan aku merindukan kamu yang selalu bawel dan sifat manja kamu, karena itu jangan berubah untuk menjadi tampil sempurna dihadapan aku. Aku lebih suka dirimu yang apa adanya."
Mona memeluk Alan, menenggelamkan wajahnya di dada Alan yang bidang. "Aku juga mencintaimu, Alan. Entah dari kapan. Walaupun aku merasa heran mengapa aku bisa jatuh cinta pada playboy sengklek seperti kamu."
"Mungkin karena aku tampan dan mempesona. Waktu di Italia, aku, Yunan, dan Malik sering di panggil three handsome men."
Mona terkekeh mendengarnya, gagal mendapatkan Yunan, eh ternyata malah nyantol ke sahabat gebetannya. Dan parahnya setiap bertemu mereka sering bertengkar.
"Sudah ya kita jangan bertengkar lagi, lebih bagus kita bertengkar di dalam kamar, buat anak setiap hari." canda Alan.
"Itu mah maunya kamu."
"Tapi kamu juga menikmatinya, kan?"
Mona tersipu malu, karena memang benar, dia sangat menikmatinya.
Alan menindih tubuh Mona kembali. "Ayo kita lakukan sampai pagi, Mona."
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Tentu saja, tubuhmu membuat aku candu."
Kemudian mereka mengulang lagi malam panas mereka, mereka ingin melakukannya sampai pagi, agar cepat memiliki anak.