
Setelah berbicara panjang lebar dengan ibunya, kini Novan kedatangan seorang tamu, yaitu Asisten El.
Asisten El datang kesana untuk membahas masalah persiapan pesta ulang tahun perusahaan yang akan diadakan besok malam.
Hari ini kebetulan mereka sedang berada di ruang kerja, Novan membicarakan bagaimana konsep pesta tersebut akan berlangsung dari awal acara hingga akhir.
"Pokoknya aku ingin pesta yang megah dan meriah, apalagi pesta yang sekarang sangat spesial karena patner kita dari berbagai negara akan turut hadir, mereka semua harus tau akulah pemilik Angkasa." Novan berkata dengan penuh rasa percaya diri.
"Iya, Tuan." Asisten El menganggukkan kepala.
"Aku dengar Yunan ada di Indonesia?" tanya Novan pada Asisten El. Dia hanya ingin tau apakah Yunan sudah bertemu dengan Asisten El.
Asisten El pura-pura tidak tahu, "Benarkah? Haruskah kita mengundangnya?"
"Tidak perlu, Yunan sepertinya tidak tertarik dengan perusahaan, mungkin saja dari dulu dia telah menyadari kalau aku lah yang layak menjadi pemimpin perusahaan, dan papa selalu berpihak padaku."
Asisten El terpaksa menganggukan kepala, walaupun sebenarnya dia sangat tidak suka mendengarkan perkataan Novan. "Hmm... ya, Tuan."
Drrrrrttt... Drrrrrttt...
__ADS_1
Novan mendengarkan ponselnya bergetar, dia segera meraih ponselnya di atas meja. Novan pun memeriksa ponselnya, ternyata ada pesan dari nomor yang dia namai Peneror tersebut.
[Aku akan menghancurkan hidup kamu, Novan. Aku akan memastikan hidup kamu menderita.]
Novan terlihat kesal membaca pesan itu, dia berkata pelan. "Aku yang akan menemukan kamu lebih dulu, dan menghancurkan kamu."
Novan bergegas pergi ke luar dari ruang kerja, karena harus memberitahu Arya bahwa ponselnya si peneror telah diaktifkan. Novan sangat ingin tahu siapa si peneror itu, orang itu telah sukses membuat hidupnya tidak tenang dan tidak bisa tidur nyenyak karena merasa sepertinya si peneror tersebut telah tahu kejahatan yang telah dia lakukan.
Hal ini digunakan kesempatan oleh Asisten El untuk mengecek CCTV di rumah tersebut, sebagai seorang Asisten yang sudah lama bekerja, tentu saja dia tahu kalau rekaman CCTV bisa dilihat di laptop yang ada di ruangan kerja.
Asisten El masih ingat betul bahwa Pak Tomi meninggal pada tanggal 1 Juli 2017, dia segera memeriksa rekaman CCTV pada tanggal itu.
Asisten El menghela nafas, rekaman CCTV pada tanggal tersebut tidak ada, artinya sudah ada yang sengaja menghapusnya. Tidak ada bukti yang kongkret tentang kematian Pak Tomi.
Novan masuk ke dalam kamarnya, agar tak ada yang bisa mendengarkan pembicaraan dia dan Arya. Dia segera menelpon Arya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Arya begitu menerima panggilan telepon dari Novan.
"Tolong kamu lacak saat ini juga dimana keberadaan si peneror itu, aku harus tau siapa dia. Kalau bisa aku akan melenyapkannya karena sudah berani meneror aku."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Arya segera melacak dimana letak si peneror tersebut, ternyata benar, ponselnya masih aktif.
Dan Novan dengan sabar menunggu Arya melacak keberadaan si peneror tersebut, tanpa memutuskan panggilan telepon mereka, walaupun cukup memakan waktu kurang lebih dari 10 menit.
"Aku sudah menemukannya, Tuan."
Novan tersenyum puas, lalu dia berkata, "Dimana dia?"
"Di jembatan yang ada di Jalan Nuansa 5."
Novan tercengang begitu mendengar jawaban dari Arya, jembatan itu adalah tempat dia membuang tubuh Yuri ke sungai, 6 tahun yang lalu.
Siapa sebenarnya si peneror itu? Apakah Yuri? Rasanya tidak mungkin kalau dia Yuri, dia yakin Yuri sudah mati.
Novan melirik guci di kamarnya, disanalah bukti-bukti dari kejahatannya yang sengaja dia simpan, sebagai koleksi. Tak ada yang tahu semua itu, kecuali Dara, itupun jika Dara mengingat perkataannya.
Novan kembali lagi ke ruang kerja untuk mengakhiri pekerjaan dia dan Asisten El malam ini. Beruntung Asisten El sudah menutup kembali laptop yang ada di ruang kerja itu, dan dia pura-pura sedang sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Asisten El, aku minta maaf, aku ada acara penting, karena itu lebih baik kita akhiri pekerjaan kita malam ini." Novan harus pergi ke jembatan itu, dia harus tau siapa orang yang sudah menerornya, mau gak mau dia harus melenyapkannya karena dia pasti sudah mengetahui atas kejahatan yang telah Novan lakukan.
"Oh, baik Tuan. Kalau begitu saya permisi untuk pulang." pamit Asisten El.