
Dara menenangkan dirinya di atas rooftop, dia tidak akan menyesali keputusannya yang bilang tidak mencintai Novan lagi.
Dara sudah menyadari nama Novan sudah tidak ada dihatinya, entah sejak kapan dia pun tak tahu rasa itu tiba-tiba menghilang begitu saja. Entah setelah Novan menolak cintanya, atau setelah dia menjadi istri rahasianya Yunan.
Yunan yang awalnya sering membuatnya jengkel, dia menganggap suami bocahnya itu seseorang yang badung dan nakal, namun ternyata dia memiliki sisi kebaikan yang tak pernah dia tunjukan sebelumnya.
Yunan bisa bersikap dewasa lebih dari usianya, Yunan yang dulu selalu masuk ke dalam jajaran murid yang sering mendapatkan nilai paling rendah, ternyata dia sebenarnya memiliki otak yang cerdas.
Tanpa Dara sadari, dia tersenyum begitu mengingat semua tentang Yunan, apakah dia sedang teryunan-yunan? Rasanya tak masuk akal jika dia telah jatuh cinta pada seorang laki-laki yang usianya 5 tahun jauh lebih muda darinya, terlebih laki-laki itu masih anak SMA.
"Mengapa tersenyum-tersenyum seperti itu? Apa kamu sedang memikirkan aku?"
Dara kaget begitu mendengar suara Yunan di rooftop sana, Dara menoleh ke belakang, ternyata benar disana ada Yunan yang sedang memegang buku pelajaran fisika.
"Yunan? Kenapa kamu ada disini?" Dara malah balik nanya.
"Aku memang suka kesini, sambil belajar." Yunan menunjukkan buku pelajaran yang sedang dia pegang.
Yunan segera meronggoh saku celananya, dia memberikan selembar kertas hasil ulangan kimia pada Dara.
Dara pura-pura kaget saat melihat Yunan mendapatkan nilai 100, "Wah kamu mendapatkan nilai 100?"
Padahal Dara sudah tau dari Pak Redi kalau Yunan mendapatkan nilai 100. Sepertinya tidak ada satupun murid yang tau guru kimia itu telah dipecat, Dara memang tidak perlu memberitahu Yunan, karena itu bukan urusannya.
Rencananya Dara ingin meminta Pak Tomi untuk mempertimbangkan masalah pemecatan terhadap guru kimia itu, karena memang kebetulan nanti sore dia akan bertemu dengan ayah dari suaminya.
Walaupun sebenarnya dia sangat penasaran, hal apa yang ingin dibicarakan oleh Pak Tomi kepadanya, mengapa harus selalu merahasiakannya dari Yunan.
"Aku akan berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang baik, agar aku bisa lulus sekolah." Yunan mengatakannya dengan penuh semangat.
"Baguslah, memang harus seperti itu." Dara masih sibuk membaca soal-soal kimia dan jawaban yang ditulis oleh Yunan di dalam satu lembar kertas ulangan itu.
__ADS_1
Padahal hanya melihat angka 100 di kertas ulangan tersebut, tapi rasanya seperti sedang membaca surat cinta.
"Mana hadiahnya?" tanya Yunan, dia ikut tersenyum saat melihat Dara tersenyum membaca soal dan jawaban ulangan di kertas yang dipegang oleh Dara.
"Hadiah apa? Aku tidak menjanjikannya. Bahkan kamu belum bisa mendapatkan nilai 100 di pelajaran biologi."
"Tunggu saja nanti, aku akan sering mendapatkan nilai 100 di pelajaran biologi. Karena itu kamu harus membeli lingerie yang banyak." Yunan mengatakannya dengan penuh canda tapi ngarep.
"Dih." Dara malah mencubit lengan Yunan.
Yunan jadi teringat Alan dan Malik, mereka bilang akan menyusul Yunan ke rooftop nanti, karena mereka akan belajar fisika bersama.
Malik dan Alan tidak boleh tahu tentang hubungan dia dan Dara, tanpa seizin dari Dara. Walaupun sebenarnya kedua bocah itu orangnya dapat dipercaya.
Alan yang sudah lama sahabatan dengan Yunan, Alan tidak pernah membocorkan rahasia Yunan pada siapapun. Dan juga Malik yang lugu dan baik, selama Yunan mengenal Malik, dia orangnya cukup bisa dipercaya.
"Lebih baik aku cari tempat lain untuk belajar, soalnya aku harus belajar dengan Alan dan Malik."
Yunan menarik pinggang Dara, lalu mencium bibirnya. Dara membulatkan matanya karena Yunan selalu menciumnya secara tiba-tiba.
Yunan hanya mencium bibir Dara sebentar, "Aku anggap ini hadiah karena aku sudah mendapatkan nilai 100 ulangan kimia." katanya dengan pelan.
Mereka tidak menyadari kalau ada dua pasang mata yang tak sengaja melihat scene romantis mereka.
Alan dan Malik sedang berjalan menaiki anak tangga menuju rooftop, begitu mereka sampai di tangga terakhir, mereka terkejut saat melihat Yunan yang sedang mencium Dara.
Alan reflek menutup mata Malik dengan tangannya, "Eh anak kecil gak boleh lihat."
Alan yang sedang makan cemilan, dia cegukan melihat pemandangan itu. Ternyata guru kesayangannya ada something dengan Yunan.
"Mampus dah gue!" Alan mengingat disetiap perkataannya yang selalu memuji kecantikan Dara dan menyebutkan bahwa Dara adalah kekasih khayalannya. Dia tak dapat membayangkan bagaimana sabarnya Yunan untuk tidak meninjuya karena pernah bilang ingin sekali jadi pacarnya guru biologi itu.
__ADS_1
...****************...
"Jadi kalian sudah menikah?" Alan dan Malik berkata seperti itu hampir bersamaan. Mereka sama sekali tidak percaya dengan pengakuan dari Yunan, saat mereka menginterogasi Yunan.
Saat itu mereka sedang berbicara di dalam mobilnya Yunan.
"Iya, tapi kalian jangan bilang sama siapa-siapa." Yuna berkata dengan penuh penekanan.
"Lu kayak gak kenal gue aja, rahasia lu selalu aman sama gue." Alan mengatakan dengan nada kesal karena harus mencoret Dara menjadi kekasih khayalannya.
"Aku juga gak akan pernah bilang sama siapa-siapa." Malik mengatakannya dengan sepenuh hati.
"Awas ya kalau lu sakitin pacar halu gue" ancam Alan pada Yunan, "Jir, patah hati beneran dah gue." Alan memegang dadanya.
"Lu sama si Mona aja, cocok!" Yunan malah menjodohkan Alan dan Mona.
"Dih najis, kayak gak ada cewek lain aja." Alan bergidik geli.
...****************...
Sore ini Yunan telah selesai membereskan apartemen, dia juga menyiapkan buku-buku pelajaran di ruang tengah, karena akan belajar bersama dengan Dara.
Padahal waktu telah menuntut jam 5 sore, tapi Dara belum pulang juga.
Yunan segera mengirim pesan pada Dara.
[Apa kamu masih di sekolah? Boleh aku jemput kamu?]
Sudah satu jam Yunan mengirim pesan pada Dara, tapi belum ada balasan juga.
Yunan sama sekali tidak tahu kalau sore ini Dara sedang berada di kantor utama Angkasa, bertemu dengan ayahnya.
__ADS_1