
Siang ini, terlihat Mona yang sedang menunggu seseorang di sebuah kafe, dia tersenyum dengan ramah ketika bertemu dengan orang yang telah dia tunggu sedari tadi.
"Maaf pasti menunggu lama ya?" tanya Angga, begitu duduk di meja yang sama dengan Mona.
Mona menjawab perkataan Angga. "Oh gak lama kok, aku baru tiba tiga menit yang lalu. Kenapa harus meeting disini? Kenapa tidak dia kantor saja meetingnya?"
"Lho bukannya memang sudah menjadi hal biasa ya kalau orang-orang meeting tuh di kafe atau restoran?"
Mona terdiam, mungkin karena dia takut ketahuan Alan, takut Alan berpikir yang bukan-bukan.
Tapi kalau dipikir-pikir untuk apa juga Mona tidak merasa enak pada Alan, sementara Alan juga tidak memiliki komitmen di dalam pernikahannya, pria itu sama sekali tidak memiliki keinginan pernikahan mereka akan langgeng.
"Apa kamu gak enak sama Alan?" Tiba-tiba saja Angga membahas soal Alan.
"Bukan begitu..."
Angga memotong perkataan Mona. "Untuk apa merasa tidak enak pada Alan? Aku dengar Alan itu seorang playboy waktu di Italia, kebayang gak tuh sudah berapa cewek yang ditiduri oleh Alan. Yang namanya playboy itu susah untuk berubah, Mona."
__ADS_1
Mona mengalihkan pembicaraan, karena yang ingin dia bahas dengan Angga itu pekerjaan, bukan tentang Alan. "Lebih baik kita membahas pekerjaan saja, soalnya aku gak bisa lama-lama disini. Masih banyak pekerjaan."
...****************...
Ternyata di kafe yang sama, ada Alan, Yunan, dan Malik sedang berada disana. Mereka sedang makan siang bersama sambil berbagi cerita. Sekarang giliran Alan yang bercerita.
"Sebenarnya gue gak paham sama cewek, kenapa cewek itu harus bersikap sensitif tidak jelas." keluh Alan.
Yunan yang merasa paling suhu diantara kedua sahabatnya, dia yang menjawab perkataan Alan. "Cewek itu gak akan marah tanpa sebab, Lan. Lu harusnya coba ingat-ingat lagi kesalahan lu apa."
Alan langsung sewot. "Dih, gak mungkinlah gue suka sama si Miss Cilok itu. Kalian tau sendiri ka dari dulu gue dan Moma sering bertengkar, mana bisa gue jatuh cinta sama dia."
Yunan menggoda Alan. "Yakin nih gak bakalan jatuh cinta? Padahal gue akan belikan rok mini buat lu."
Tiga hari lagi pernikahan Mona dan Alan akan genap 1 bulan, sehingga mereka nampak deg-degan mengingat siapa yang akan menjadi pemenang dalam taruhan ini.
"Elu yang harus siap-siap, kayaknya paha lu mulus, Nan." Alan mengatakannya sambil tertawa.
__ADS_1
Yunan menunjuk Malik. "Nah kayaknya Malik yang punya paha mulus."
Alan tertawa. "Wah pantas Malik gak mau ikutan, takut dikira cewek beneran."
Malik menggaruk kepalanya yang gak gatal, Yunan dan Alan emang kadang pada koslet kalau lagi bercanda. "Ya lah terserah kalian aja, aku bantu kalian dari belakang."
Setelah sekian lama saling bercanda dan berbagi cerita, kini disana yang tersisa tinggal Alan, karena Yunan harus ke kantor Angkasa lebih awal untuk bertemu dengan klien, dan Malik sebagai seorang dokter memang dia sangat disiplin pada waktunya.
Alan hendak meninggalkan kafe tersebut, namun dia tak sengaja melihat Mona yang sedang bersama Angga disana.
"Itu kan Mona. Ngapain dia berduaan sama Angga?"
"Hm biarin aja, bukan urusan gue."
Alan mencoba untuk bersikap masa bodoh, dia pun keluar dari kafe, lalu masuk ke dalam mobilnya. Namun Alan menghela nafas, entah mengapa dia tidak suka melihat kedekatan mereka, rasanya dia tidak terima melihat Mona yang sedang berbicara serius dengan Angga.
"Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa mereka terlihat serius sekali?"
__ADS_1