
Ditengah perjalanan, Dara memperhatikan suasana di jalan raya, mungkin karena saat Dara tersadar dari komanya, Dara berada di desa pelosok yang sangat jauh dari kota, sehingga suasana dikota A nampak asing buatnya.
Dari cara Dara memperhatikan suasana jalan raya di kota A, Yunan yakin sepertinya Dara baru menginjakan kakinya di kota ini lagi, karena dulu selama 6 tahun Dara disembunyikan oleh Novan di desa pelosok, sehingga Dara dan Novan pun menjalani hubungan jarak jauh, karena Novan harus mengurus Angkasa Grup, yang penting Dara berada di dalam genggamannya.
"Dulu kamu sering melewati jalan ini, walaupun mungkin jalan ini telah sedikit berubah, tapi aku sering melihat kamu duduk di halte bus sana." Yunan menunjukkan halte bus yang telah mobilnya lewati.
Dara tertegun memperhatikan hante bus itu, terlintas bayangan saat dia yang dulu sedang sedih duduk di halte bus. Sayangnya bayangan itu hanya sekilas saja, tak muncul lagi.
Sebenarnya dia belum paham, jika memang dia Dara, mengapa Novan harusnya memanggilnya Luna? Mengapa Novan tidak pernah bilang kalau dia pernah menjadi guru di SMA Angkasa?
"Dulu kamu adalah guru yang paling menyebalkan, hanya kamu satu-satunya guru yang berani padaku, sampai sering menjewer kupingku." Yunan tersenyum mengingat kembali bagaimana menyebalkannya Dara yang dulu.
Dara menghela nafas mendengarnya, "Jika perkataan kamu itu benar, itu artinya berarti kamu adalah murid yang nakal."
Yunan hanya terkekeh, karena perkataan Dara memang benar, dia adalah murid yang nakal, tapi Dara telah mengubahnya, membuatnya menjadi murid yang rajin belajar.
"Semakin membuat aku yakin kalau kita tidak pernah menikah, kamu jauh dari kriteria pria yang aku idamkan." Dara menambahkan perkataannya.
__ADS_1
Yunan memilih diam, biar nanti ibu kos itu yang membuktikan ucapannya.
Yunan memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah kosan, dulu kosan itu mungkin hanya terhitung ada sekitar 20 petak, kini bertambah banyak, dan bangunan pun telah direnovasi, sangat berbeda dengan yang dulu.
Wajar saja, karena sudah 6 tahun lamanya, jadi suasana disana nampak berbeda, sehingga Yunan tak yakin Dara bisa mengingatnya.
"Mengapa kamu bawa aku kesini?" tanya Dara pada Yunan sambil memandangi kosan-kosan yang ada disana.
Yunan tak menjawab, dia masih ingat sekali letak rumahnya ibu Lina, dia membawa Dara untuk mengunjungi ibu kosan itu.
Ting-tong...
"Permisi!"
Namun, belum ada yang membuka pintu.
Yunan menekan bel kembali.
__ADS_1
Ting-tong...
Kali ini mendapatkan respon dari pemilik rumah tersebut, Yunan mendengar ada seseorang yang membuka pintu rumah.
Ceklek!
Yunan nampak sumringah, karena bisa bertemu lagi dengan orang yang menyaksikan pernikahan mereka, bahkan gara-gara bu Lina, dia dan Dara dinikahkan secara paksa 6 tahun yang lalu.
"Maaf kalian siapa ya? Ada perlu apa menemui saya?" Bu Lina mengerutkan keningnya memperhatikan wajah Yunan dan Dara yang nampak tak asing buatnya.
"Ya ampun, ini dua sejoli yang dinikahkan 6 tahun yang lalu itu kan?"
Dara terkejut mendengarnya, apakah mungkin dia dan Yunan benar-benar sudah menikah. "Maksudnya dia suami aku?" Tanya Dara pada Bu Lina, sambil menunjuk Yunan.
"Lah kok jadi nanya saya? Iya, kalian kan menikah setelah emm...maaf ya mbak Dara, tapi kalian dinikahkan setelah ketahuan kumpul kebo di kosan saya, makanya saya laporkan ke Pak RT disini." jawab Bu Lina sambil nyerocos.
Dara nampak menganga begitu mendengar perkataan Bu Lina, masa iya dulu dia dan Yunan kumpul kebo? Dan lebih terkejutnya lagi, Bu Lina memanggilnya Dara, bukan Luna. Apa mungkin selama ini Novan telah membohonginya?
__ADS_1