
"Jadi Bu Dara amnesia?" Alan tercengang mendengar cerita dari Malik tentang guru idola mereka.
"Ya katanya gitu, makanya aku harus memeriksa kondisi Bu Dara hari ini."
Alan terkekeh, "Hmm... pantas saja semalam si Yunan gak pulang, bilangnya ada urusan penting, ternyata urusan ranjang. Jadi pengen kawin gue."
"Nikah dulu, baru kawin." Malik memperingatkan sahabatnya.
Alan terkekeh kembali, "Kira-kira habis berapa ronde mereka?"
"Ya mana aku tau, tanya aja sendiri sama orangnya."
Alan meraih ponselnya, dia segera mengetik pesan untuk Yunan.
[Nan, kata Malik lu habis berapa ronde semalam bersama_
Malik menjadi gelagapan, dia segera merebut ponselnya Alan di tangan Alan, "Lah kok bawa-bawa namaku?"
"Hehe... berjanda, gak mungkin gue mengirim pesan kayak gitu sama Yunan."
"Canda, bukan janda."
"Tadi kata orang janda lebih enak dari pada canda."
"Mana saya tau, saya belum nyoba."
"Ah elu, ciuman aja belum pernah."
...****************...
"Aku harus pergi." Dara berpamitan pada Yunan dengan nada ketus.
"Bukankah kamu gak tau dimana letak Hotel Brilliant? Bahkan ponsel kamu masih lobet." Yunan mencegah Dara untuk pergi, karena dia memang tidak akan melepaskan Dara.
"Gak apa-apa, lebih baik aku tersesat dari pada harus berada satu kamar sama kamu." Dara takut kejadian semalam terulang lagi, walaupun tak bisa dipungkiri semalam dia ikut menikmatinya, tapi itu semua gara-gara dia mabuk.
__ADS_1
Yunan hanya tersenyum smrik, "Bukankah kamu juga menikmatinya?"
"Gak, jangan ngarang deh." Dara gak mau mengaku.
Yunan ingin menggoda Dara, "Bahkan semalam kamu mengatakan kata ah beberapa kali, apalagi ah Yunan."
Yunan mengatakan kata ah dengan bernada, membuat wajah Dara nampak memerah, dia menelan salivanya, dia tidak paham kenapa dia bisa liar semalam.
Dara rasa diam lebih baik dari pada mengakui.
"Kamu gak bisa pergi begitu saja, kamu masih punya hutang sama aku 250 juta. Oke, gak apa-apa kalau kamu gak bisa mengingat siapa aku, tapi kamu jangan melupakan hutangmu itu."
Yunan ingin menjadikan Dara sebagai tawanannya, Malik bilang lebih baik mengingatkan Dara bukan dengan menekannya dengan sebuah perkataan, tapi lebih baik mengulang kembali apa saja yang pernah dia lakukan bersama Dara 6 tahun yang lalu. Biarkan Dara ingat dengan sendirinya.
"Kamu tenang saja, aku pasti akan membayarnya."
"Aku gak butuh uang, uangku banyak. Aku hanya ingin kamu bekerja di apartemen aku selama satu bulan."
"Hah?" Dara kaget mendengarnya. Dia langsung menolak. "Aku gak mau, ini namanya penculikan. Aku akan melaporkan kamu ke polisi atas penipuan, pelecehan, dan penculikan. Pake ngaku-ngaku suami aku segala."
Begitu di hadapan seorang polisi lalu lintas, Dara langsung melaporkan Yunan. Sementara Yunan dengan santai berdiri di samping Dara.
"Pak, saya mau melaporkan, pria ini sudah menculik aku. Aku mohon tolong aku." Dara berkata begitu sambil menunjuk Yunan.
Ponsel Dara belum di charger juga, makanya dia tidak bisa memakai google translate.
Polisi tidak paham dengan apa yang Dara ucapkan. "Non capisco di cosa stai parlando." (Saya tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan.)
"Aku." Dara menunjuk dirinya sendiri. Lalu menunjuk Yunan. "Di culik sama dia."
Polisi itu tetap tidak paham dengan perkataan Dara. "Non capisco." ( Saya tidak paham.)
Yunan malah tertawa, lalu dia berkata pada polisi itu. "Ha detto che mi ama molto." (Dia bilang dia sangat mencintaiku.)
Polisi Milan itu menggaruk kepalanya, memandangi Dara dan Yunan dengan penuh keheranan, dia tidak paham, lalu urusannya apa dengannya kalau Dara mencintai Yunan. "Strana coppia." (Pasangan yang aneh).
__ADS_1
Dara menghela nafas, seharusnya dulu dia tidak meminta hadiah liburan ke Italia pada Novan, sehingga dia harus berhadapan dengan pria gila yang mengaku-ngaku suaminya itu, padahal dia seorang idola, pembalap terkenal, tapi kenapa harus terobsesi padanya, membuatnya kebingungan. Apalagi Dara belum bisa berlari ataupun berjalan cepat, jadi dia mengalami kesulitan untuk melarikan diri.
...****************...
Hari ini Novan ingin membawa Dara jalan-jalan, karena itu dia sudah berpenampilan rapi sekali, dia sudah berada di depan kamar Dara.
Tok...
Tok...
Tok...
"Luna, apa kamu sudah bangun?"
Tidak ada jawaban.
Novan mengetuk pintu kembali.
Tok...
Tok...
Tok...
"Luna!"
Novan sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar Dara dan juga memanggil namanya, tapi tidak ada jawaban juga. Membuatnya curiga.
Kebetulan Novan memiliki kunci kamar hotelnya Dara, dia terpaksa harus masuk tanpa seizin dari Dara.
Suster Devi baru keluar dari kamarnya, dia nampak terkejut saat melihat Novan yang akan masuk ke dalam kamar Dara.
"Tuan, mengapa anda harus masuk tanpa seizin dari Nona Luna?"
Novan tak menggubris perkataan Suster Devi, dia masuk begitu saja ke dalam kamar Dara, betapa terkejutnya dia saat melihat Dara tidak ada di kamarnya.
__ADS_1