
Angga ternyata lebih fokus memandangi Mona dari pada dengan bisnis yang sedang mereka bahas, dia tersenyum memandangi Mona yang sedang menjelaskan bagaimana konsep proyek yang akan dikerjakan oleh kedua perusahaan tersebut.
Mona merasa tidak enak hati karena sepertinya Angga lebih fokus memandangi wajahnya, ketimbang mendengarkan penjelasan darinya. "Angga."
"Hm?"
"Kamu mendengarkan penjelasan aku kan?"
Angga kelalabakan mendengar pertanyaan dari Mona. "Emm... ah iya sampai mana tadi?"
Mona menghela nafas, kemudian dia meneguk coklat dingin, karena tenggorokannya terasa kering dari tadi bicara terus. Kemudian Mona berkata. "Jadi kamu tidak mendengarkan apa yang aku jelaskan tadi?"
Angga malah fokus dengan sisa coklat disudut bibirnya Mona, dia membersihkan dengan tangannya. "Ada sisa coklat di bibir kamu, kamu gak berubah, selalu blepotan."
Mona terkejut dengan ulah Angga, padahal dia sebelumnya sudah bilang jangan melakukan hal seperti itu lagi. "Padahal aku bisa..."
Mona tak meneruskan perkataannya begitu melihat Alan datang, sampai Mona memicingkan matanya, siapa tau dia salah lihat, untuk apa Alan datang kesana.
"Alan?"
Alan sebenarnya merasakan hatinya panas ketika melihat Angga yang sedang menyentuh bibir Mona, tapi dia tidak boleh terlihat emosi, walaupun sebenarnya dia tidak tahu kenapa dia harus marah pada mereka.
__ADS_1
Mungkin Alan belum pernah merasakan apa yang dinamakan cemburu, karena dulu dia berkencan dengan para mantannya tidak memakai hati.
"Hai." Alan menyapa Mona dan Angga, dia berpura-pura tersenyum, lalu duduk bergabung dengan mereka.
Angga menghela nafas, dia sama sekali tidak suka dengan kehadiran Alan.
Alan menepuk pundak Angga dengan keras, sampai Angga merasakan bahunya sakit. "Sudah lama kita gak bertemu bro."
Angga menepis tangan Alan dengan kesal, dia semakin kesal karena Alan bersikap sok akrab dengannya. Padahal dulu mereka tidak pernah akrab.
"Alan, kenapa kamu ada disini?" tanya Mona pada sang suami.
"Alan." Mona menepis tangan Alan. Mona tak paham Alan kesambet apa bilang dirinya manis.
"Bukannya kamu harus ke kantor?" tanya Mona lagi pada Alan.
"Hm iya, tapi kebetulan pekerjaan aku hari ini lagi santai, sudah ada asisten aku yang handle."
"Oh gitu, ya udah, aku ke belakang dulu sebentar." Mona meminta izin pada Alan dan Angga untuk pergi ke kamar mandi.
Setelah Mona tak ada disana, Alan dan Angga saling menatap tajam, seperti dua macan jantan yang akan segera bertarung.
__ADS_1
"Aku tau kalian menikah karena dijodohkan, karena itu jangan berpura-pura mesra di depan aku, aku pasti akan merebut Mona darimu." Angga mengatakannya dengan penuh rasa percaya diri.
Alan mencoba untuk berusaha agak emosinya tidak terpancing. "Banyak wanita yang masih single kenapa mengharapkan wanita yang sudah bersuami?"
"Karna istri kamu sangat menarik dan pantas diperjuangkan." jawab Angga dengan santai.
Alan mengepalkan tangannya, ingin rasanya dia menghajar Angga, tapi dia tidak paham kenapa dia merasakan hatinya harus semarah itu. Apakah ini yang dinamakan rasa cemburu?
Mona pun telah kembali, dia segera membereskan laptopnya, memasukannya ke dalam tas. "Aku buru-buru sekali, aku harus segera kembali ke kantor." pamit Mona pada Alan dan Angga.
"Biar aku antar." Alan dan Angga mengatakannya hampir bersamaan.
Mona memandangi Alan dan Angga secara bergantian, dia menolak tawaran bantuan mereka. "Oh gak usah, aku bisa sendiri."
Setelah mengatakan itu, dia pun segera pergi, dia terburu-buru sekali.
Angga terkekeh, dia meledak Alan. "Dari sini aku paham hubungan pernikahan kalian seperti apa, bahkan Mona pun terlihat segan untuk menerima bantuan darimu." Ini kesempatan bagus untuk Angga agar bisa merebut Mona dari Alan.
Alan ingin sekali menghajarnya, namun dia tidak ingin membuang banyak energi untuk meladeni manusia seperti Angga.
Alan memilih segera pergi dari kafe tersebut.
__ADS_1