
Yunan dan Dara telah tiba di Indonesia, sebenarnya Yunan telah membeli rumah yang begitu besar di Indonesia, namun karena dia ingin membuat Dara mengingat kenangannya, dia harus tinggal dengan Dara di apartemennya yang dulu.
"Rekaman CCTV yang lama sudah terhapus sama security yang lama, Pak."
Yunan hanya bisa menghela nafas begitu security bilang padanya kalau semua rekaman CCTV yang lama sudah terhapus, sehingga tak ada satu bukti saja agar membuat Dara percaya kalau mereka pernah tinggal bersama.
Yunan tidak tahu kalau Novanlah yang menyogok security yang dulu untuk menghapus rekaman CCTV ditahun 2017.
Tapi Yunan tersadar, mungkin tidak ada bukti konkret yang bisa membuktikan kalau Dara adalah istrinya, tapi dia dan Dara memiliki kenangan yang nyata, mungkin dengan perlahan, Dara akan mengingat semuanya.
Apalagi kata Malik, jangan menekan Dara untuk mengingatnya, yang penting sekarang Dara aman, berada disisinya.
Dara menganga saat melihat kondisi apartemen Yunan yang berantakan, "Hhh... setelah aku melihat apartemen kamu, aku merasa yakin kalau kamu itu sebenarnya seorang bujangan, tapi kenapa harus bilang memiliki istri di media?"
Yunan tak menjawab perkataan Dara, dia hanya tersenyum.
Dara dan Yunan pun membereskan apartemen itu sampai terlihat rapi dan bersih.
Dara memperhatikan seluruh ruangan yang ada di apartemennya itu, dia terkejut saat melihat hanya ada satu kamar disana.
"Disini hanya ada satu kamar?"
Yunan menganggukan kepala, "Iya, kamu boleh tidur di kamar, biar aku tidur di sofa."
Dara rasa perkataan Yunan itu adalah ide yang bagus, dia tidak mungkin tidur di kursi sofa. "Baiklah, seorang pria memang harusnya mengalah. Tapi kapan aku bekerja di SMA Angkasa?"
Dara duduk dikursi sofa, kemudian Yunan duduk disampingnya.
__ADS_1
"Setelah aku menjadi pemimpin di perusahaan."
Dara mengerutkan keningnya, "Maksudnya kamu akan menggantikan Novan? Novan itu sebenarnya pria yang baik, aku harap kamu jangan menyakiti dia."
Saking baiknya, membuat Dara merasa terbebani, Dara tidak bisa menyakitinya, tapi selama ini perasaan Dara pada Yunan begitu datar-datar saja, membuatnya tak mengerti.
Yunan sangat tidak setuju dengan perkataan Dara, yang mengatakan kalau Novan adalah pria yang baik, tapi dia harus bersabar, yang penting sekarang membuat Dara nyaman dulu.
"Apalagi aku telah mengkhianatinya, malah tidur dengan kamu." celetuk Dara.
Yunan jadi ingin menggoda Dara. "Tapi nyatanya kamu menikmati apa yang kita lakukan, aku selalu siap jika kamu ingin mengulangnya lagi."
Dara memperlihatkan tinjunya pada Yunan, "Siap-siap saja kamu akan kena bogem dariku, jika kamu berbuat macam-macam."
Yunan hanya terkekeh geli, ekspresi Dara sangat lucu ketika menujukan bogem padanya. Ingin sekali dia langsung mengurungnya di kamar, tapi dia harus bisa banyak bersabar.
Tahan Yunan, kamu pasti bisa.
...****************...
Besoknya, pagi-pagi sekali Dara bangun dari tidurnya, dia memang harus bekerja di apartemen Yunan selama satu bulan untuk menebus hutangnya, bahkan handphonenya disita oleh Yunan sebagai jaminan.
Dara menggeliatkan badannya, sambil menguap, dia memperhatikan suasana di kamar tersebut. "Sepertinya aku pernah melihat suasana kamar seperti ini? Tapi dimana ya?"
Dara mencoba berpikir keras untuk mengingatnya, namun malah membuat kepalanya terasa sakit. "Shh... akhhh..." Dara meringis, dia segera meminum obat resep dari Malik.
Setelah merasa rasa sakit dikepalanya mulai berkurang, dia segera keluar dari kamarnya, Dara melihat Yunan yang masih tertidur di kursi sofa, Dara berjalan mendekati Yunan, dia memperhatikan wajah Yunan yang sangat tampan itu.
__ADS_1
Apa iya Yunan adalah suaminya?
Jika iya dia suaminya dan mereka menikah 6 tahun yang lalu, itu artinya Yunan mungkin saja masih menjadi murid SMA, rasanya mustahil bagaimana bisa mereka menikah.
"Dia pasti berbohong, bagaimana mungkin aku menikah dengan anak SMA." kata Dara dengan pelan.
Dara memutuskan untuk pergi ke dapur, namun dia terkejut ketika Yunan menariknya, sehingga Dara terjatuh menindih tubuh Yunan.
"Yunan!" Dara terpekik kaget.
"Jika kamu ingin memandang wajahku yang tampan ini, pandang saja sampai kamu puas, aku sangat senang." Yunan mengatakannya sambil tersenyum memandangi kedua bola mata Dara yang indah itu.
Dara mengerutkan dahinya, sepertinya dia pernah mendengar kata-kata itu. Dia memandangi wajah Yunan yang tampan itu.
Yunan memang seorang brondong yang sangat tampan.
Dara menelan salivanya, dia segera bangkit, dia tidak boleh sampai lupa diri lagi bersama pria itu. "Jangan geer, aku gak tertarik sama brondong kayak kamu."
Yunan hanya tersenyum tipis, dia segera bangun. "Tapi aku bukan brondong sembarangan, aku bisa membuat hati kamu berdebar-debar, membuat kamu susah tidur, dan membuat tubuh kamu kepanasan." candanya.
Dara lebih baik segera pergi ke dapur, dari pada meladeni Yunan. "Lebih baik, aku masak, kamu mau aku masakin apa?"
"Di kulkas kosong, gak ada apa-apa. Kita akan belanja ke pasar, beli sayuran."
"Kamu seorang vegetarian?"
"Awalnya nggak, tapi seseorang membuat aku menjadi suka sayuran."
__ADS_1
Pembicaraan mereka terhenti begitu ponselnya Yunan bergetar. Ternyata ada pesan dari nomor tak dikenal, Yunan pun membaca pesan itu.
[Tuan Yunan, masih ingatkah dengan saya? Saya Asisten El. Saya ingin sekali bertemu dengan Tuan. Kapan Tuan ada waktu?]