
Alan terkejut begitu Yunan menghentikan mobilnya di depan pasar, "Kita mau ngapain kesini?"
Yunan tak langsung menjawab, dia membuka pintu, lalu keluar dari mobil sportnya. Alan pun ikut keluar sambil menutup hidungnya.
"Bro, katanya mau main. Ngapain main kesini?" tanya Alan kembali.
"Ya emang kita mau main, gue mau kita belajar bareng sama Malik." jawab Yunan dengan santai.
"Hah? Belajar? Dih... lu kalau mau tobat, tobat aja sendirian, ngapain harus bawa-bawa gue?" celetuk Alan.
"Lu gak kasian sama bokap lu? Bokap lu itu guru di sekolah, tapi punya anak nilainya jeblok terus. Enam bulan lagi UN lho, bagaimana kalau lu gak lulus? Gak kebayang malunya bokap lu kayak gimana."
Alan mendengus kesal, tapi apa yang diucapkan Yunan ada benarnya juga. Selama ini Alan sudah sering membuat ayahnya malu. "Hhh... okelah let's go!"
Yunan dan Alan datang ke tempat Malik berjualan, dia melihat Malik dan ibunya sedang duduk di ruko yang kecil itu. Ayahnya Malik sudah meninggal, karena itu Malik yang menggantikan ibunya berjualan setelah pulang sekolah, karena ibunya sudah berjualan dari dini hari sampai sore, untuk mencukupi kehidupannya bersama Malik dan adik-adiknya.
"Selamat sore, tante." Yunan dan Alan menyapa Bu Ratih dengan ramah, mereka mencium tangan Bu Ratih secara bergiliran.
Bu Ratih membalas sapaan mereka, tak kalah ramahnya, "Selamat sore juga."
__ADS_1
Bu Ratih merasa heran, untuk apa dua orang cowok tampan datang ke rukonya, karena dia tau Malik tidak memiliki teman.
"Kami datang kesini mau belajar sama Malik, tante." Yunan memohon izin untuk membiarkan Malik belajar dengan mereka.
Sebenarnya Malik ingin belajar bersama kedua teman barunya itu, dia ingin bisa memiliki teman, tapi dia tidak mungkin meninggalkan jualannya. "Tapi aku sedang jualan."
"Oh ya udah gak apa-apa, biar ibu aja yang jualan." Bu Ratih sangat senang jika Malik memiliki teman.
"Ibu dari dini hari belum istirahat lho, Bu." Malik tau sekali ibunya belum beristirahat, pasti sangat kelelahan sekali.
Yunan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah di dalam dompetnya, "Kebetulan mamanya Alan menitipkan uang sama saya, katanya ingin membeli sayuran disini. Saya mau borong semuanya."
Alan mengerutkan keningnya, perasaan ibunya tidak menitipkan uang untuk belanja sayuran. Dia berbisik pada Yunan, "Kapan nyokap gue nitip uang sama lu?"
Dengan senang hati Bu Ratih segera membungkus semua sayuran dagangannya, rasanya seperti rezeki nomplok karena jualannya hari ini begitu sepi.
...****************...
Sampai pukul sembilan malam, Yunan masih semangat belajar, sementara Alan sudah tertidur di kursi kayu yang ada di rumah Malik.
__ADS_1
Malik membawa tiga gelas minuman, dia menyimpannya diatas meja. "Nan, kata ibu mau makan lagi gak?"
"Oh gak usah, masih kenyang, baru juga dua jam yang lalu kita makan. Tapi bilangin terimakasih sama ibu kamu, masakannya sangat enak." Yunan merasakan kehangatan dengan suasana di rumah Malik yang sederhana itu.
"Tapi kenapa kamu sangat bekerja keras sekali untuk mendapatkan nilai 100?" Malik menjadi penasaran.
Yunan tersenyum, "Ada hadiah yang harus aku tagih sama seseorang."
Yunan jadi memikirkan Dara, sedang apa Dara sekarang? Padahal dia tidak bertemu dengan Dara hanya beberapa jam saja, tapi dia begitu merindukan wanita dewasa itu.
"Gue telepon seseorang dulu ya." Yunan meminta izin untuk menelpon Dara dulu.
Malik menganggukan kepala.
Yunan segera keluar dari rumah Malik, dia duduk di teras depan rumah, kemudian dia mencoba untuk menelpon Dara, Yunan sebentar lagi akan pulang ke apartemen, dia ingin bertanya pada Dara, Dara ingin dibawakan makanan apa malam ini? Dia ingin mencoba untuk menjadi suami yang pengertian untuk Dara.
Tutt...
Tutt...
__ADS_1
Tutt...
Sudah beberapa kali Yunan mencoba untuk menghubungi Dara, namun Dara tidak mengangkat telepon darinya. Membuat Yunan mencemaskan wanita dewasa itu.