Yunan (Suami Rahasia Bu Guru)

Yunan (Suami Rahasia Bu Guru)
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Novan pulang ke rumah dalam keadaan lesu, pikirannya sangat kalut karena masih saja belum ada kabar yang jelas dimana keberadaan Dara. Dia begitu mengkhawatirkan wanita yang dicintainya itu.


"Maaf Tuan Novan, saya belum juga bisa menemukan keberadaan Dara, tapi kalau Yunan, sepertinya dia telah pulang ke Indonesia." lapor Arya melalui sebuah panggilan telepon.


Novan hanya bisa menghela nafas panjang, dia duduk di kursi sofa, dia mengerutkan keningnya dengan begitu dalam, dia tak tau harus bagaimana lagi untuk mencari Dara.


"Tolong kamu ikuti Yunan, siapa tau Dara ada bersamanya." Titah Novan.


"Baik, Tuan."


Novan menjadi teringat dengan orang yang telah menerornya. "Oh ya bagaimana dengan nomor si peneror itu? Apa kamu sudah menemukan siapa orang yang telah meneror aku?"


"Belum Tuan, sepertinya dia menonaktifkan ponselnya, jadi saya kesulitan untuk melacak orang itu."


Novan mendengus dengan kesal, gak ada satupun pekerjaan Arya yang berhasil, padahal dia telah membayar mahal pria itu. "Aku gak mau tau, aku ingin kamu secepatnya menemukan siapa si peneror itu dan memastikan Yunan ada bersama dengan Dara atau tidak."


"Baik, Tuan. Akan saya usahakan secepatnya."

__ADS_1


Klik!


Novan mematikan panggilan telepon, dia menyimpan ponselnya di atas meja dengan kasar, "Arrrggghhh, kamu dimana Dara?"


Novan berjanji pada dirinya sendiri, jika seandainya dia menemukan Dara lagi, dia akan secepatnya menikahi wanita itu.


Novan melihat ibunya yang sedang berjalan turun dari tangga, betapa bahagianya sang ibu sekarang, dia bak seorang ratu, yang hanya menghabiskan hari-harinya dengan belanja, arisan, dan liburan. Makanya dia jarang ada di rumah.


"Kamu sudah pulang, Novan?" sapa Bu Thesa, dia duduk di kursi sofa yang satunya lagi, berhadapan dengan Novan.


"Hmm... ya." Novan menjawabnya tanpa ada gairah.


"Dara belum ditemukan juga, Ma. Novan gak tau harus mencarinya kemana?" lirih Novan.


"Ya baguslah, biar kamu sadar, Novan. Dara itu gak pantas buat kamu, buat apa kamu mengharapkan perempuan miskin begitu, mending kamu cari wanita lain saja yang selevel dengan kita." Bu Thesa dari dulu juga tidak sudi jika Dara menjadi menantunya.


Novan sangat tidak suka jika ada yang berani menghina Dara. "Jangan bicara seperti itu pada Dara, aku sangat mencintainya, Ma."

__ADS_1


"Kamu itu kaya, tampan, mapan, punya segalanya. Buat apa kamu mengharapkan perempuan seperti itu, Novan?"


Novan menghela nafas, dia tidak ingin banyak berdebat dengan ibunya, karena itu dia memilih diam.


"Coba kamu cari wanita seperti Yuri, dia cantik, kaya raya, berasal dari keluarga terpandang."


Novan menjadi sensitif jika ibunya membahas Yuri. "Kenapa harus bahas Yuri lagi sih, Ma. Yuri itu sudah mati."


"Nah itu bodohnya kamu, kenapa kamu harus membunuh dia? Padahal mama ingin punya besan yang kaya juga. Dan Yuri baik banget sama kita."


"Kalau Yuri tidak dibunuh, aku yang akan dipenjara, dan kita akan jatuh miskin. Mama mau hidup miskin lagi?"


Bu Thesa seakan terkena skakmat, tentu saja dia tidak ingin hidup miskin lagi seperti dulu, karena itu dia memilih diam.


"Dari dulu aku gak pernah mencintai Yuri, demi mama aku harus pura-pura bersikap manis padanya, biar papa tiriku makin mengagumiku. Dan sekarang aku sudah menjadi Novan yang sesungguhnya, aku ingin melakukan apapun yang aku mau, dan yang aku inginkan hanyalah Dara. Gak ada yang lain."


"Tapi Novan..."

__ADS_1


"Tolong mama bantu mempersiapkan pernikahan kami, setelah acara ulang tahun perusahaan selesai, aku harus kembali ke Italia, begitu aku menemukan Dara, aku akan menikahinya."


Bu Thesa terpaksa menganggukkan kepala, dia tidak mungkin bisa menentang keputusan putranya itu.


__ADS_2