
Yunan mulai melepaskan rok dan kain segitiga yang dipakai oleh Dara, sehingga tubuh Dara benar-benar polos, Yunan menatap dengan penuh takjub dengan keindahan tubuh istrinya.
Wajah Dara merah merona dipandangi seperti itu oleh Yunan, sehingga dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, "Jangan memandangku seperti itu!"
Yunan malah terkekeh geli, dia menarik selimut yang ditutupi oleh Dara, "Hei bagaimana bisa melakukan praktek biologi kalau tubuhmu ditutup seperti itu?"
Yunan melemparkan selimut dengan ngasal ke lantai, kemudian menindih Dara kembali, menyambar bibirnya, lalu memandangi wajah cantiknya Dara. "Jika dalam keadaan seperti ini, aku merasa lebih dewasa dari kamu, kamu seperti seorang gadis yang sangat lugu dan pemalu."
Dara mendengus kesal, "Karena ini adalah pengalaman pertamaku."
"Aku juga sama, dan aku hanya ingin melakukannya dengan kamu, kamu adalah cinta pertamaku dan juga aku ingin kamu juga cinta terakhir aku, Dara."
"A-aku..." Dara sebenarnya ingin menjawab aku juga cinta padamu, Yunan.
Namun bibirnya terasa sangat berat untuk mengungkapkan isi hatinya.
Yunan tau mungkin Dara masih ragu untuk bilang cinta padanya, walaupun dia yakin Dara pasti sudah memiliki perasaan padanya, walaupun itu hanya sedikit, suatu saat nanti perasaan cinta itu akan semakin besar, seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
Yunan melanjutkan aksi panasnya, dia memberikan banyak kecupan pada seluruh tubuh Dara, memuja disetiap keindahan lekukan tubuhnya.
Mencium wajah Dara, kemudian mencium bibir Dara, melu-mat bibirnya dengan penuh naf-su, lalu turun ke jenjang leher Dara, memberikan gigitan-gigitan kecil disana.
"Mmmhh..." Dara akui Yunan begitu hebat memancing gairahnya, setiap sentuhannya, begitu memabukan, apalagi saat Yunan menghisap buah dadanya.
Ciuman Yunan turun ke perut Dara, Dara semakin menjadi-jadi saat kecupan itu menghujani perutnya, Yunan sungguh membuatnya tak berdaya dengan semua kenikmatan yang dia berikan kepadanya.
Kini kecupan itu turun ke paha, lalu bibir Yunan mulai mengecup bongkohan indah yang terletak di antara dua paha, dia mencoba untuk menciumnya dan bergerilya disana membuat angan Dara semakin terbang mendayu-dayu tak tentu arah
Dara terbelalak begitu merasakan basah dan lembutnya lidah Yunan yang sedang bergerak menggoda miliknya, membuat tubuh Dara menegang.
"Akh... " Tubuh Dara bergetar, dia mencengkram seprai dengan kuat begitu telah mencapai pelepas-an.
Yunan membuka seluruh kain yang menutupi tubuhnya dan memposisikan dirinya diantara kedua kaki Dara.
Yunan mulai menekannya ke dalam hingga membuat Dara menjerit menahan kesakitan dibawah sana.
__ADS_1
"Argghhh!"
Dengan hentakan kuat membuat dinding itu terkoyak, membuat Dara semakin meringis menahan perih seperti merasakan ada yang robek dibawah sana.
"Pasti sakit banget ya, maafkan aku." Yunan menghapus air mata Dara, tak tega melihatnya.
Dara memandangi laki-laki yang sudah sukses mengambil hal yang paling berharga untuknya. "Lanjutkan saja."
"Apa masih sakit?"
"Sedikit."
Rasa sakit itu mulai menghilang dengan perlahan, apalagi saat Yunan mulai bergerak memompa nya, Dara merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Jiwa Yunan begitu terbang melayang saat merasakan dirinya terbenam sempurna di bawah sana, dia menghentakan lagi dan menghujamnya lagi dengan dalam hingga kedua tubuh itu saling terkoneksi menikmati tiap hentakan yang berirama.
Dara memeluk tubuh Yunan menahan setiap pompahan mengguncang tubuhnya. Yunan begitu kuat menguasai tubuhnya membuat mereka memandikan peluh keringat.
__ADS_1
Hingga keduanya mengerang begitu merasakan gelombang itu datang.
Bukan hanya sekali, mereka melakukannya berkali-kali. Begitu indahnya, malam ini dunia serasa milik berdua.