
Besoknya, acara pesta ulang tahun perusahaan telah diselenggarakan dengan begitu megah dan meriah.
Walaupun Novan masih kesal pada si peneror yang mencoba untuk mempermainkannya itu, tapi dia harus bisa bersikap profesional, dia tidak boleh terpancing emosi oleh si peneror itu.
Novan melonggarkan dasinya untuk bisa lebih leluasa dalam mengambil nafas, dia memang memiliki sifat tempramental, karena itu dia harus bisa benar-benar rileks.
"Tenang Novan, masih ada hal yang paling penting buat kamu. Yaitu pesta ini dan Dara." Novan menyemangati dirinya sendiri.
Tentu saja pesta ini sangat penting karena banyak tamu dari berbagai macam negara, dia ingin semua tamu mengakui bahwa dialah pemilik Angkasa, semua orang akan menatap takjub dan segan padanya.
Dan besok, dia harus fokus mencari Dara lagi. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah melepaskan Dara.
"Tuan Novan sebentar lagi akan ada acara penyambutan, mohon bersiap-siap." kata pengatur acara pesta tersebut kepada Novan.
"Oke." jawab Novan, dia merasakan dirinya begitu gugup karena banyak sekali tamu undangan yang hadir, tentu saja mereka dari kalangan bangsawan.
Novan tak sengaja melihat seorang wanita yang sedang berdiri dengan jarak lumayan jauh darinya, namun wanita itu menatap tajam ke arahnya dengan menggunakan gaun pesta berwarna putih.
Novan membelalakan mata begitu menyadari wanita itu mirip sekali dengan wajah Yuri, wanita yang telah dia bunuh.
"Yu-Yuri?"
Novan menggelengkan kepala, "Gak, gak mungkin dia Yuri. Yuri sudah mati."
__ADS_1
Novan yakin dia pasti salah lihat, wanita itu malah tak nampak lagi di tempat yang tadi Novan lihat, Novan celingukan mencari wanita itu, membuat bulu kuduknya merinding.
Apakah mungkin itu hantunya Yuri? Novan menggelengkan kepala, dia sama sekali tidak mempercayai akan adanya hantu di dunia ini, mungkin saja hanya halusinasinya saja.
Novan menghirup nafas dalam-dalam mencoba untuk menenangkannya. Kemudian dia mendengar suara seorang moderator menyebutkan namanya.
"Sekarang kita telah sampai ke acara yang sangat penting, yaitu sambutan dari pemimpin Angkasa Group, Tuan Novan Adriansyah."
Terdengar suara tepukan tangan orang-orang disana, begitu meriah, walaupun sebenarnya mereka sangat tidak menyukai dengan kepimpinan Novan yang selalu bertindak seenaknya, tidak menghargai hasil pekerjaan semua bawahannya, setiap ada karyawan yang memiliki kesalahan sedikit saja, dia main pecat begitu seenaknya.
Mereka sangat merindukan pemimpin perusahaan seperti Pak Tomi, walaupun dia tegas dan disegani, tapi tak pernah berbuat semena-mena dan memanusiakan manusia.
Novan segera naik ke atas panggung, suara tepukan tangan semakin terdengar begitu meriah. Novan membawa mic speaker yang diberikan oleh sang moderator, kemudian dia mulai berpidato.
Novan tak meneruskan perkataannya begitu melihat para tamu undangan bersorak-sorai memperhatikan ke belakang Novan.
"Wah!"
"Woah!"
"Woahh!"
Membuat Novan membalikkan badannya, dia terbelalak ketika melihat siapa yang ada dihadapannya, dengan lancangnya Yunan naik ke atas panggung tanpa meminta izin dulu padanya.
__ADS_1
"Yunan, apa kamu tidak lihat aku sedang apa? Kenapa kamu lancang sekali naik ke atas panggung?" bentak Novan dengan emosi, dia sengaja menjauhkan mic speaker agar suaranya hanya terdengar oleh Yunan dan dia saja.
Yunan hanya tersenyum, dia berjalan mendekati Novan, lalu merebut speaker dari tangan Novan.
"Ehm!" Yunan berdehem untuk mengetes mic speaker yang dia pegang.
Kemudian Yunan mulai berbicara, menatap semua tamu undangan yang ada di pesta itu. "Terimakasih untuk kak Novan yang selama 6 tahun ini sudah menjaga perusahaan Angkas Group, karena sekarang saya sudah dewasa, dan usai saya sudah memenuhi kriteria untuk menjadi seorang pemimpin perusahaan. Mulai hari ini, di hari ulang tahun Angkasa yang ke 20, saya siap untuk menjadi pemimpin di Angkasa."
Novan mengigit bibir bawahnya, dia menatap dengan tatapan penuh kebencian pada Yunan sambil mengepalkan tangannya.
Prokk...
Prokk...
Prokk...
Semua tamu undangan yang berjumlah ratusan itu, kini mereka telah bertepuk tangan kembali, menyambut kedatangan sang peawaris Angkasa yang sesungguhnya.
Sampai terlihat beberapa orang saling berbisik.
"Akhirnya sang pewaris telah datang."
"Tuan Yunan memang yang berhak menjadi pemimpin di perusahaan."
__ADS_1
"Saya yakin Angkasa akan berjaya seperti dulu lagi setelah kepemimpinan Tuan Yunan."