
Beberapa hari kemudian...
Bu Thesa begitu tersiksa karena di sel tahanan, dia sering ditindas oleh teman satu selnya. Begitu juga Novan, dia sering mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari teman satu selnya.
"Hei pincang, cepat pijat kaki gue!" titah seorang preman yang satu sel dengan Novan.
Novan tidak terima disuruh seperti itu, "Lalukan saja sendiri, kamu punya tangan kan?"
Preman itu tidak terima jika ada yang berani melawannya, karena dia yang menjadi jeger disana. "Kurang ajar, lu berani melawan gue hah?"
Kemudian preman tersebut menyuruh tiga orang yang sedang memijat tangan dan kakinya untuk menghajar Novan, "Cepat kasih pelajaran pada Novan!"
"Baik, bos."
Mereka segera menghajar Novan, Novan tak bisa melawan, dia hanya bisa meringis kesakitan, apalagi luka di kakinya belum sembuh.
Bugh...
Bugh...
__ADS_1
Bugh...
"Arrrggghhh!" Novan merintih, merasakan sekujur tubuhnya sakit.
Dan penyiksaan itu akan terus berlanjut setiap hari, setiap hari Novan akan terus disiksa seperti itu jika dia tidak mengikuti keinginan dan perintah dari jeger di sel tahanan.
...****************...
Hari ini Yuri menjenguk Novan, bukan karena masih cinta, tapi hanya ingin bertemu untuk terakhir kalinya dengan Novan.
Yuri mengembalikan semua barang pemberian dari Novan yang masih tersimpan di apartemennya, "Aku ingin mengembalikan semuanya, aku ingin membuka lembaran baru setelah ini. Aku tak ingin menjadi wanita bodoh lagi seperti dulu, yang begitu percaya dengan kata manis seorang pria. Aku tidak akan terlalu membencimu, karena aku juga menyadari kebodohan aku. Semoga setelah ini, kamu bisa memperbaiki semua kesalahan kamu."
Setelah menemui Novan, Yuri bertemu dengan Malik, karena Malik ngajak ketemuan dengannya di danau tempat mereka menenangkan diri, dulu.
Malik sudah mulai bekerja sebagai dokter di rumah sakit YASA, salah satu rumah sakit terbesar di negeri ini. Kebetulan hari ini jadwal dia libur.
"Kenapa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Yuri pada Malik.
Malik sangat merasa gugup sekali, seumur hidup dia tidak pernah mengungkapkan perasaan pada wanita, tapi dia harus memberanikan diri untuk mengungkapkannya, karena hanya Yuri yang sukses membuat Malik jatuh cinta.
__ADS_1
"Apa mbak Yuri mau menikah dengan aku?"
Yuri nampak kaget mendengarnya, tiba-tiba saja Malik melamarnya, padahal mengungkapkan cinta juga belum.
Yuri malah nyengir, "Apa kamu sedang bercanda?"
"Aku serius, aku mencintai Mbak Yuri."
Senyuman Yuri nampak memudar, dia juga tidak tau bagaimana perasaannya pada Malik walaupun dia merasakan dirinya nyaman, dan Malik bisa memenangkannya saat dia depresi. Tapi dia tak ingin menjadi beban untuk Malik, dia merasa tidak pantas untuk pria hebat seperti Malik.
"Aku belum memikirkan tentang masa depan aku, aku belum ingin menjalani hubungan lagi dengan seorang pria."
"Aku bersedia menunggu mbak Yuri sampai Mbak siap."
Yuri menggelegkan kepala, " Jangan sia-sia kan hidup kamu untuk menunggu wanita seperti aku, aku yakin suatu saat nanti kamu pasti menemukan wanita yang jauh segalanya dari aku, dan pantas buat kamu."
"Tapi Mbak..."
Namun, Malik tidak diberikan kesempatan oleh Yuri untuk bicara, karena Yuri pergi begitu saja, wanita itu telah menolak cintanya, untuk pertama kalinya Malik merasakan patah hati.
__ADS_1
Malik sadar diri, dia tak bisa memaksa Yuri untuk menerima lamarannya, karena dia tau siapa dirinya, dia memang tak pantas bersanding dengan wanita sekaya Yuri. Seharusnya sebelum melamar Yuri, dia berkaca dulu tentang siapa dirinya.