
Ciuman mereka semakin lama semakin terasa panas, Yunan tak dapat menahan dirinya, dia mulai membuka kancing baju Dara.
Namun, Dara menahan tangan Yunan, melepaskan ciuman mereka. "Aku mencium bau gosong."
Dara baru sadar dia sedang memasak sosis sebelum Yunan datang ke dapur, "Astaga, aku lupa, sedang memasak sosis tadi."
Dara segera turun dari meja, kemudian dia mematikan kompor. Dara menghela nafas melihat lima sosis di dalam wajan telah gosong.
Begitu juga Yunan, dia menghela nafas karena gagal bermesraan lagi dengan Dara, semua ini gara-gara sosis, padahal baru kali ini Dara terlihat menikmati ciumannya.
Pagi itu Yunan dan Dara begitu menikmati masakan yang telah mereka masak secara bersama.
"Aku ingin setiap hari mengantar kamu ke sekolah."
Perkataan Yunan membuat Dara terkejut, "Jangan, nanti kalau ada yang curiga dengan hubungan kita, bagaimana?"
"Aku akan menurunkan kamu di depan mini market yang tak jauh dari sekolah, jadi kamu tenang saja, gak akan ada yang lihat kita."
"Tapi Yunan..."
"Aku tunggu kamu di basement." Potong Yunan, dia segera membawa ranselnya dan juga tas Dara, agar Dara mengikutinya ke basement.
Karena itu, Dara terpaksa harus ikut Yunan, untuk pertama kalinya mereka berangkat ke sekolah bersama.
Yunan menghentikan mobilnya di depan mini market, kebetulan disana suasana masih sepi, karena masih terlalu pagi.
"Aku ingin setiap hari selalu berangkat bersama ke sekolah dengan kamu." pinta Yunan.
Dara mengangguk saja, "Ya sudah kalau memang itu maumu."
Yunan tersenyum memandangi Dara, "Hari ini aku ulangan pelajaran kimia, apa kamu tidak ingin memberikan semangat untukku?"
__ADS_1
"Dengan cara apa?" Dara tidak paham.
Yunan nampak malu untuk memintanya, "Dengan cara semalam, siapa tau otakku menjadi encer jika mendapatkan nutrisi darimu."
Dara tak bisa dibodohi, "Mana ada yang seperti itu? Bilang saja kamu menginginkannya lagi."
"Emang boleh?"
Wajah Dara memerah, dia nampak kebingungan harus menjawab apa.
Tanpa menunggu persetujuan dari Dara, Yunan membuka tiga kancing baju Dara, lalu menaikan branya, sehingga terlihat begitu jelas bulatan kenyal yang begitu menggiarahkan itu.
Yunan langsung melahapnya.
"Mmhh..." Dara berusaha keras untuk tidak mendes-ah, hisapan Yunan membuat tubuhnya menegang, tanpa Dara sadari tangannya mencengkram rambut Yunan, menekan kepala Yunan, padahal masih pagi tapi suasana terasa begitu panas.
Mobil Yunan sangat aman, karena tidak ada yang bisa melihat aktivitas mereka dari luar jika seandainya ada orang yang lewat, makanya Yunan berani meminta nutrisi pada Dara.
...****************...
Hari ini kebetulan tidak ada pelajar biologi di kelas XII-IPA 1, jadi Yunan tidak akan bisa bertemu dengan Dara di sekolah hari ini, padahal baru satu jam tidak bertemu, Yunan sudah tidak sabar ingin bisa melihat wajah sang istri.
Yunan mulai mengerjakan soal kimia dengan begitu tenang.
Alan nampak kesusahan mengerjakan soal kimia tersebut, Alan terperangah saat melihat Yunan sudah hampir selesai mengerjakan soal ulangan kimia.
"Wah, gue heran, kok lu bisa berubah jadi pintar gini, Nan? Bagi tipsnya dong."
"Rajin belajarlah."
"Gue juga udah rajin, tiap hari baca buku sampai ketiduran. Gue pikir rumus-rumus dan materi bakalan masuk ke otak gue lewat mimpi, tapi nyatanya gue malah lupa apa saja yang gue baca."
__ADS_1
Yunan hanya tersenyum kecut.
"Lu minum vitamin apa sih Nan? Kok lu cepat banget bisa jadi pintar begitu?"
Wajah Yunan jadi memerah, tidak mungkin dia bilang pada Alan kalau dia habis minum susu dari sumbernya.
...****************...
"Wah, aku kok kaget sama muridnya Bu Dara." lapor Pak Redi. Dia tiba-tiba saja duduk di meja yang sama dengan Dara, di kantin sana.
"Murid yang mana, Pak?" tanya Dara, dia sebenarnya merasa risih karena harus makan satu meja dengan pria lain.
"Itu lho anak pemilik sekolah ini, biasanya Yunan sering mendapatkan nilai kimia dibawah 50, baru kali ini Yunan dapat nilai 100."
Dara membulatkan matanya, "Seratus? Yang benar, Pak?"
"Iya, Bu Dara."
Dara merasa senang mendengarnya, Yunan memang seorang laki-laki yang suka memegang kata-katanya, ketika dia bilang akan berubah, dia benar-benar berubah. Yunan suami bocahnya kini dia sudah berubah menjadi siswa yang rajin dan pintar, juga tidak berbuat ulah lagi. Walaupun sebenarnya dia memang dari dulu pintar, hanya saja malas belajar.
"Oh iya, Bu Dara, aku ingin mengajak Bu Dara makan bersama nanti malam. Apa Bu Dara bersedia?" Pak Redi memang sudah lama sekali naksir pada guru biologi cantik itu.
Ternyata Novan melihatnya, karena dia juga sedang berada di kantin, dia mengepalkan tangannya, dia sama sekali tidak suka jika ada pria lain mendekati Dara, apalagi Pak Redi termasuk pria yang suka blak-blakan mendekati Dara.
Novan segera berdiri, dia mendekati Dara dan Redi, "Maaf Pak Redi, tolong setelah istirahat nanti ke ruangan saya, ada hal penting yang ingin saya bahas dengan anda." Novan rasa ini waktunya memecat guru kimia itu.
Novan memiliki beberapa alasan agar bisa memecatnya, walaupun faktor utamanya karena dia tidak suka guru itu mendekati Dara secara terang-terangan. Dia ingin mengurangi saingannya.
Drrrtt... Drrrtt
Ponsel Dara tiba-tiba saja bergetar, dia mengerutkan keningnya begitu melihat siapa yang mengirim pesan padanya. Ternyata pesan itu adalah pesan dari Pak Tomi, ayah dari suaminya.
__ADS_1