
"Du-dua ratus lima puluh juta?" Dara mengatakannya dengan menganga. Dia mengambil kembali dompetnya yang telah jatuh.
"Ya, sepatu ini baru pertama kali aku pakai malam ini." Yunan menunjuk sepatu yang dipakai oleh kaki sebelah kirinya.
Dara menghela nafas mendengarnya, darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu, sementara dia hanyalah seorang guru SD di kampungnya. Untuk gaji suster Devi saja, dibayar oleh Novan.
Dara tak ingin merepotkan Novan, dia merasa selama ini dia sudah banyak berhutang budi pada Novan, Novanlah yang sudah memperkerjakan suster Devi untuk merawatnya, Novan yang membelikan rumah di Kampung H untuk dijadikan tempat tinggal oleh Dara.
"Kalau tau harga sepatunya mahal, kenapa harus melempar segala sepatu kamu itu?" protes Dara dengan nada kesal.
"Karena aku ingin menolong kamu. Coba bayangkan saja kalau aku tidak menolong kamu, mungkin mereka susah berbuat macam-macam padamu."
__ADS_1
Dara menghela nafas, karena perkataan Yunan memang benar adanya, jika Yunan tak menolongnya, entah bagaimana nasibnya malam ini.
Dara memberikan sebuah kartu nama pada Yunan. "Aku pasti akan menggantinya, ini kartu nama aku."
Yunan segera membaca kartu nama yang diberikan oleh Dara, disana bertuliskan kalau kartu nama itu bernamakan Luna. Apakah wanita ini benar-benar bukan Dara? Tapi rasanya tidak mungkin ada orang yang bisa semirip itu dengan Dara, kecuali kalau Dara memiliki saudara kembar.
Tapi dilubuk hati yang paling dalam, hatinya mengatakan kalau wanita ini memanglah Dara, tapi mengapa Dara sama sekali tidak mengenalinya.
"Luna Clarisa?" Yunan membaca nama Luna Clarisa di kartu nama itu.
Yunan hanya menghela nafas, padahal dia sudah dewasa sekarang, tapi tetap saja ada yang menganggapnya brondong.
__ADS_1
"Sebenarnya ini pertama kalinya aku datang kesini, tapi aku tersesat, apa kamu tau dimana letak hotel Briliant?" Dara mengatakannya dengan ragu-ragu, tapi dia harus kembali ke hotel, dia takut Novan akan mengkhawatirkannya.
Di hotel Briliant, Novan menyewa tiga kamar hotel, untuk dirinya, Dara, dan suster Devi. Mereka semua tidur terpisah. Selama ini sikap Dara masih terlihat canggung pada Novan, sehingga status mereka sebagai tunangan tidak seperti pasangan lain yang bisa bermesraan, karena Dara masih menjaga jarak, mungkin karena dia belum bisa mengingat apapun tentang Novan.
Walaupun begitu, Novan sangat bahagia, yang penting Dara menjadi miliknya, apalagi sebentar lagi mereka akan menikah, walaupun Bu Thesa sangat keberatan dan tidak ingin Dara menjadi menantunya, tapi Bu Thesa tak bisa berbuat apa-apa, karena sekarang ini Novan selalu berbuat sesuka hatinya tanpa peduli Bu Thesa setuju atau tidak.
"Tentu saja aku tau, tapi sebelum aku mengantarkan kamu kesana. Kamu harus teraktir aku makan, aku berkelahi dengan mereka harus mengeluarkan tenaga." Yunan belum mau berpisah dengan wanita yang mirip sekali dengan istrinya itu. Karena dia masih yakin kalau wanita dihadapannya ini adalah Dara.
"Tapi..." Dara ingin menolak, namun Yunan tiba-tiba saja menggenggam tangannya, membawa Dara pergi dari sana.
Dara ingin melepaskan tangan Yunan, tapi entah mengapa dia tidak bisa melakukannya, dia nampak pasrah saja membiarkan Yunan membawanya pergi.
__ADS_1
...****************...
...Mohon maaf jika saya belum sempat balas komen satu persatu, pekerjaan saya numpuk, efek libur panjang hehe, terimakasih 🙏...