Yunan (Suami Rahasia Bu Guru)

Yunan (Suami Rahasia Bu Guru)
Sekilas Masa Lalu


__ADS_3

Hari ini Novan sedang mengadakan meeting, dia adalah seorang CEO yang begitu angkuh dan arogan, main pecat begitu saja kepada semua karyawan yang tidak bisa mengikuti aturannya.


"Kalian bisa kerja gak sih? Bulan ini Angkasa mengalami penurunan omset. Kerja yang becus dong, kalau begini terus Angkasa bisa mengalami kerugian." Novan mengatakannya sambil marah-marah.


Semua karyawan yang mengikuti meeting, mereka hanya bisa menunduk pasrah. Kepemimpinan Novan dan Pak Tomi sangatlah jauh berbeda.


Novan melonggarkan dasi yang dia pakai sambil menatap tajam pada semua karyawan. "Saya beri waktu satu bulan agar kalian bisa memperbaiki semuanya, kalau tidak, aku akan memecat kalian."


Novan pun mengakhiri meeting hari ini, "Meeting hari ini cukup sampai disini saja."


Setelah mengatakan itu, Novan pun pergi dari meeting room.


Semua karyawan sangat bernafas lega karena Novan telah pergi dari meeting room, sehingga para karyawan yang memiliki jabatan tinggi di Angkasa itu membicarakannya.


"Kepemimpinan Pak Novan dan Pak Romi sangatlah berbeda, dia begitu arogan dah membuat kita tidak nyaman." ucap sang Manager, Pak Hartono.


"Iya benar, bukankah seharusnya pengganti Pak Tomi adalah Yunan? Saya rasa Yunan sudah cukup dewasa untuk menjadi seorang pemimpin disini. Dia sudah berusia 24 tahun." timpal Pak Dira, dia sebagai Direktur Keuangan.


"Sepertinya Yunan lebih tertarik menjadi seorang pembalap dibandingkan menjadi penerus Angkasa." keluh seorang Personalia, Pak Herlambang.


Asisten El juga disana, saat ini dia masih menjabat sebagai Asisten pribadinya Novan, karena Novan tidak bisa memecatnya, kontrak kerjanya masih panjang di Angkasa Grup, juga kerjanya sangat bagus, tidak ada alasan yang kuat untuk memecatnya.


"Suatu saat nanti Angkasa Grup akan jatuh ke orang yang tepat, ke pewaris yang sesungguhnya." ucap Asisten El dengan santai.


"Apa maskudmu Asisten El? Apakah Yunan akan menjadi pemimpin disini?" tanya Pak Herlambang.


Asisten El hanya tersenyum, dia masih memegang surat kuasa yang ditandatangani oleh Pak Tomi diatas meterai, yang menyatakan bahwa Novan hanyalah pemimpin sementara di Angkasa, dan Yunan akan menggantikan jabatan Novan setelah Yunan berusia 24 tahun, karena dialah penerus Angkasa yang sesungguhnya.


...****************...


Novan duduk di kursi kebesarannya, dia sangat kesal sekali kepada semua karyawan yang di Angkasa Grup, karena selalu membandingkan kepemimpinannya dengan ayah tirinya.


Novan menjadi teringat ketika dimana hari Pak Tomi menghembuskan nafas terakhirnya.

__ADS_1


Flashback On...


Saat itu Bu Thesa sedang bertengkar dengan Novan, karena Bu Thesa masih belum terima Novan membunuh calon menantu kesayangannya, Yuri. Mereka berani membahas itu semua karena mereka kira Pak Tomi sudah berangkat kerja, padahal Pak Tomi balik lagi ke rumah karena ada berkas yang ketinggalan.


"Kenapa kamu tega membunuh Yuri, Novan? Mama gak nyangka kenapa kamu bisa menjadi seorang pembunuh?" protes Bu Thesa dengan penuh amarah.


Novan mendengus kesal, "Aku begini karena mama, mama yang mengajarkan aku untuk menjadi seorang penjahat. Bahkan mama juga yang mengusulkan untuk meracuni suami mama sendiri, apa bedanya aku sama mama?"


Prang...


Pembicaraan mereka terhenti begitu mendengar pecahan vas bunga di ruang tengah sana, mereka terkejut begitu menyadari ternyata Pak Tomi telah mendengarkan pembicaraan mereka, entah sejak kapan.


Bu Thesa sangat ketakutan sekali, "Pa...papa..."


Pak Tomi dengan penuh amarah menghampiri mereka, "Jadi selama ini kalian meracuni aku? Bahkan kamu telah membunuh Yuri, Novan?"


Bu Thesa mencoba mengelak, "Ini semua salah paham, Pa."


"Diam kamu!" bentak Pak Tomi. Dia dengan emosi menampar istrinya itu.


Bu Thesa meringis memegang pipinya.


Sementara Novan hanya diam manatap tajam pada ayah tirinya itu.


"Aku gak nyangka ternyata selama ini aku telah memasukkan dua iblis ke dalam rumah, bahkan aku telah menjadi ayah yang buruk untuk putraku sendiri." Pak Tomi mengatakannya dengan penuh rasa sesal.


Pak Tomi semakin menyesal ketika Yunan marah padanya karena Yunan curiga kalau ayahnya lah yang menyebabkan Dara pergi, apalagi ketika Yunan berkata padanya. "Kenapa papa tega menyuruh Dara pergi? Bagaimanapun juga Dara adalah istriku, papa gak berhak mengusirnya. Dara adalah orang yang paling berharga untuk aku, dia yang bisa membuat aku berubah seperti ini, dia adalah orang yang paling bisa mengerti dan memahami aku. Tapi kenapa papa malah tega membuatnya pergi dari hidupku?"


Pak Tomi sangat menyesali keputusannya yang telah mengusir Dara, dia merasa terpukul karena setelah satu bulan Dara menghilang, Yunan sikapnya tidak seceria dulu lagi. Walaupun dia memang telah berubah menjadi murid yang berprestasi di sekolah, namun putranya itu nampak tidak bahagia, dia begitu dingin.


Pak Tomi semakin menyesal ketika dia mendengar sendiri percakapan istri dan anak tirinya yang sangat dia sayangi dengan sepenuh hati, ternyata mereka adalah dua iblis yang sangat kejam, tega meracuni dirinya, mengharapkan dia cepat mati agar bisa menguasai hartanya.


Pak Tomi memegang dadanya yang sesak, dia terbatuk-batuk. "Uhukk... uhukk..."

__ADS_1


Novan terkekeh, dia menatap Pak Tomi dengan tajam, "Ya beginilah aku, aku sudah bosan bersandiwara menjadi anak yang penurut dan menjadi anak kebanggaan kamu."


Pak Tomi semakin marah, namun rasa sakit yang dia rasakan pada dadanya semakin menyakitkan, membuat dia kesulitan untuk bernafas. "Kurang ajar kamu, Novan. Lancang sekali kamu berkata begitu padaku. Aku akan melaporkanmu pada polisi."


Pak Tomi bergegas melangkah menuju telepon rumah, namun dadanya semakin terasa sesak dan menyakitkan, membuat keseimbangan tubuhnya tak terjaga, dia tumbang, terkapar di lantai. "Argghhh!"


Pak Tomi memukul-mukul dadanya, dia sangat kesakitan sekali. Dia tidak boleh mati sebelum bisa meminta maaf pada Yunan, karena dia merasa bukanlah ayah yang baik untuk putranya, sampai dia menitikan air matanya.


"Novan, bagaimana ini?" Bu Thesa nampak kebingungan, dia tidak tau harus berbuat apa sekarang.


"Biarkan saja, sebentar lagi dia akan mati." Novan mengatakannya sambil tersenyum puas, memperhatikan Pak Tomi yang sedang sekarat.


Padahal jika Pak Tomi dilarikan ke rumah sakit, mungkin dia akan selamat, namun Novan memilih untuk membiarkannya, agar ayah tirinya cepat mati.


Tanpa diduga, ada seorang pembantu datang untuk membereskan ruang tengah, dia kaget melihat Pak Tomi yang sedang kesakitan memegang dadanya. "Tuan Tomi..."


Novan membentak pembantu bernama Sarti itu, "Diam kamu, anggap saja kamu tidak melihat apapun hari ini."


"Ta-tapi Tuan..."


"Aku akan menjamin pendidikan anakmu sampai dia bisa lulus kuliah, dan juga akan menjamin pengobatan suamimu yang sedang sakit keras itu. Jadi kamu cukup tutup mulut, oke."


Pembantu yang bernama Sarti itu terpaksa menganggukan kepala dengan penuh ketakutan, dia terpaksa pergi ke dapur, padahal hatinya sangat mengkhawatirkan kondisi majikannya yang sedang sekarat itu.


Sementara Bu Thesa, dia nampak gelisah, karena tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


Setelah tubuh Pak Tomi tidak bergerak, bahkan kedua bola matanya terlihat melotot, sudah dipastikan Pak Tomi telah meninggal.


"Se-sepertinya dia sudah mati, Novan." lirih Bu Thesa.


Novan menyeringai, "Mama tenang saja, biar aku yang urus CCTV di rumah ini, yang penting sekarang tua bangka itu sudah mati, dan Angkasa Grup menjadi milik kita."


Tidak mungkin, Yunan seorang anak SMA menjadi pemimpin di Angkasa Grup, otomatis Novan lah yang menjadi penerus perusahaan Angkasa Grup sekarang.

__ADS_1


Flashback Off...


__ADS_2