
Yunan membawa Dara berjalan kaki menyusuri trotoar di jalan raya, menikmati hingar bingarnya suasana di kota Milan.
Dara melepaskan tangan Yunan, dia tidak ingin berjalan bergandengan tangan dengan pria itu, karena Dara tidak ingin berpaling dari Novan, pria yang sudah berjasa di dalam hidupnya.
Dara tak sengaja melihat ada sebuah toko sepatu disana, Dara tidak mungkin tega melihat Yunan yang hanya memakai satu sepatu saja, karena itu dia mengajak Yunan untuk masuk ke dalam toko sepatu.
"Aku ingin pergi kesana." Dara menujuk sebuah toko sepatu pada Yunan.
Yunan menganggukkan kepala, dia dan Dara pun pergi ke toko sepatu. Yunan sama sekali tidak menyangka ternyata Dara mengajaknya kesana untuk membelikan sepatu untuknya.
"Kamu ingin membelikan sepatu untukku?" tanya Yunan dengan sumringah.
"Ya, tinggal nanti kamu kurangi saja berapa hutang aku nanti." jawab Dara dengan nada ketus.
Yunan menganggukan kepala, "Hmm... oke."
Kemudian ada seorang pelayan wanita datang mendekati mereka. Dia terperangan saat melihat Yunan. "Wow, Yunan! Posso avere il tuo autografo?"
__ADS_1
Yunan menganggukkan kepala, dia segera memberikan tanda tangan di sebuah buku kecil milik pelayanan tersebut. Pelayan itu sangat senang sekali, akhirnya dia bisa bertemu dengan idolanya.
"Katakan padanya, aku ingin beli sepatu." bisik Dara pada Yunan.
Dara merasa risih karena bukan hanya satu pelayan yang meminta tanda tangan pada Yunan, tapi ada sekitar 6 pelayan wanita. Membuat Yunan kewalahan.
"Emm... Voglio comprare delle scarpe." Yunan menuruti perintah dari Dara.
Salah satu pelayan wanita segera menunjukkan beberapa sepatu khusus pria pada Dara. "Questo è buono, che pensi tu?" (Yang ini bagus, bagaimana pendapat kamu?)
"Cinquecentomila." (Lima ratus ribu)
Dara terkejut mendengarnya, mungkin jika dirupiahkan harga sepatu itu mencapai lebih dari 4 juta.
Yunan hanya bisa terkekeh melihat ekspresi Dara, dia segera mengambil black card di dalam dompetnya, lalu memberikan kartu berwarna hitam itu pada pelayan disana. "Paga solo con una carta nera."
"Biar aku yang bayar." protes Dara.
__ADS_1
"Gak usah, lain kali saja kamu bayarnya. Yang pasti sekarang ini aku lapar sekali, teraktir aku makan."
Yunan tak bisa melepaskan pandangannya pada wajah cantik Dara, semuanya mirip sekali dengan istrinya, dulu dia sama sekali tidak memiliki foto Dara, saat mereka menikah pun tidak ada bukti yang menguatkan, kecuali ingatan mereka.
Novan telah membuang semua berkas-berkas tentang Dara disekolah, dengan alasan dia tidak mengajar lagi disana.
"Berapa usiamu?" Tiba-tiba Dara menanyakan usianya Yunan.
"24 tahun, memangnya kenapa?"
"Kita beda lima tahun, seharusnya kamu panggil aku mbak."
Yunan keberatan dengan permintaan Dara. "Aku gak mau, aku lebih enak panggil kamu saja."
"Baiklah, aku akan teraktir kamu makan, itu hanya sebatas rasa terimakasih saja karena sudah menolong aku. Dan masalah uang 250 juta itu aku pasti akan membayarnya." Dara mengatakannya dengan nada dingin, mungkin karena dia harus menjaga batasan dengan Yunan, karena dia sudah memiliki tunangan.
Yunan tak menjawab perkataan Dara, dia hanya bisa berkata di dalam hatinya._ Sebenarnya kamu ini siapa? Luna atau Dara? Tapi hatiku masih merasa yakin kalau kamu itu Dara, istriku.
__ADS_1