
Malam itu, tujuh tahun silam, senyum merekah tak kunjung pudar dari bibir sepasang suami istri berusia di atas setengah abad. Tangan sang istri yang telah berkeriput memegang selembar foto USG calon cucu pertama mereka.
"Syukurlah cucu kita sehat ya, Pa. Sebentar lagi kita bisa memeluk Randy kecil." Wanita itu berbicara dengan wajah berseri-seri. Ia juga memandang sayang pada menantunya, perempuan yang ia anggap telah berhasil mengubah putranya menjadi lebih dewasa dan bijaksana.
"Iya, Ma. Papa senang sekali cucu pertama kita laki-laki. Kita masih diberi kesempatan melihat cucu."
Papa dan mama Randy menikah di usia yang tak lagi muda. Randy terlahir saat umur mereka telah memasuki kepala empat. Tadinya orang tua Randy berpikir mereka baru akan menimang cucu di usia tujuh puluh tahunan. Tidak ada yang menyangka putra mereka akan menikah muda karena menghamili kekasihnya.
Saat Randy memberi kabar mengejutkan itu, sang papa yang sudah merasa kecewa karena Randy tidak melanjutkan kuliahnya semakin merasa gagal mendidik putranya. Namun sekarang perasaan buruknya telah berganti menjadi perasaan bahagia. Terlebih, Randy kini rajin membantu di toko.
"Mulai sekarang sudah bisa cicil beli keperluan bayi. Nanti sama mama saja pergi belinya. Aduh gak sabar sekali menunggu anak itu lahir dua bulan lagi ...," ucap mama Randy.
Randy tersenyum melihat wajah bahagia kedua orang tuanya. Ia dan sang istri baru saja memberitahukan jenis kelamin calon anak mereka. Diliriknya sang istri yang tampak sedikit pucat. "Kamu capek? Habis makan kita pulang ya?"
Perempuan yang ditanya itu menggelengkan kepalanya. "Aku gapapa kok," jawabnya pada sang suami.
Mama Randy menatap menantu satu-satunya itu dengan wajah cemas. "Kamu sakit, Jeany? Kenapa muka kamu pucat? Vitamin yang mama kasih rutin kamu minum kan?"
"Aku baik-baik aja, Ma. Vitaminnya rutin aku minum kok. Mungkin cuma kecapekan," jawab Jeany yang tidak ingin membuat mertuanya khawatir.
Sang mertua lalu memberi teguran pada putranya. "Kamu jangan bikin istri kamu kecapekan, Ran. Tahu maksud mama kan?"
"Hehehe .... Tenang aja, Ma. Calon cucu Mama aman kok." Randy menjawab sambil tersenyum mesra pada sang istri.
Jeany berusaha membalas senyuman tersebut, walau ia tahu pasti terlihat aneh karena wajahnya terasa kaku. Sebongkah batu besar seolah sedang menghimpit dadanya hingga ia merasa sesak.
Wanita paruh baya yang hatinya sedang berbunga-bunga karena akan memiliki cucu itu terus memberi wejangan. "Nanti lahirannya operasi saja. Kalau bayimu sungsang jangan paksa melahirkan normal. Dulu Mama juga operasi kok waktu melahirkan suamimu. Iya kan, Pa?"
"Iya, Ma. Waktu itu Randy juga sungsang ya?"
Senyum di wajah mama Randy semakin lebar. "Iya. Kayaknya keturunan ini. Sekarang cucu kita juga sungsang."
"Mama ini cocoklogi aja. Mana ada keturunan sungsang?" Randy menertawakan ucapan konyol mamanya.
Suasana di rumah orang tua Randy selalu saja hangat bila membicarakan calon cucu mereka yang sedang dikandung oleh Jeany. Namun di balik tawa bahagia tersebut, perempuan yang sedang mengandung itu menyimpan keresahan hati.
Usai makan di rumah orang tuanya, Randy mengajak sang istri pulang ke rumah mereka sendiri yang telah mereka tinggali sejak awal pernikahan. Ia tahu Jeany tidak akan nyaman jika harus tinggal satu rumah dengan mertua. Untunglah orang tua Randy sangat pengertian. Mereka tidak keberatan anak satu-satunya itu tinggal terpisah dari mereka.
__ADS_1
Jeany memasuki rumah dan duduk di sofa dengan hati gamang. Wajah bahagia orang tua Randy terus terbayang di benaknya. Entah bagaimana reaksi mereka bila tahu kebahagiaan yang mereka rasakan hanya semu belaka.
"Jean, kalo capek langsung tidur aja."
Jeany terus melamun hingga tidak sadar Randy telah duduk di sampingnya dan membelai rambutnya dengan penuh rasa sayang. Sejak dulu suaminya itu selalu memperlakukannya dengan lembut. Segala perhatian dan kasih sayang Randy membuat perasaan bersalahnya semakin besar. Ditatapnya sang suami dengan wajah serius.
"Ran, lebih baik kita ceritain yang sebenarnya ke orang tua kamu."
Wajah Randy tidak terlihat terkejut. "Bukannya kita udah pernah ngomongin masalah ini? Buat apa lagi diceritain? Mereka sekarang udah bahagia banget."
"Tapi sampai kapan kita harus bohongin mereka, Ran? Aku takut suatu hari orang tuamu tahu anak ini bukan cucu mereka. Mereka pasti sedih banget ...." Jeany memegang keningnya dan memejamkan mata. Batinnya benar-benar tersiksa karena harus menutupi lebih dari satu kebohongan.
"Kalo perlu selamanya, Jean."
Terkesiap, Jeany membuka mata dan menatap Randy. "Selamanya?"
"Iya." Randy mengangguk. "Kalo dengan cerita yang sebenarnya malah bikin mereka sedih, lebih baik selamanya mereka gak usah tahu. Biarkan mereka menghabiskan sisa umurnya dengan bahagia. Makanya aku mutusin untuk gak cerita soal penyakitku ke mereka."
Suara isakan mulai terdengar dari bibir Jeany. "Semua ini gara-gara aku .... Kamu jadi harus bohongin papa mamamu. Gara-gara aku kamu jadi dicap jelek. Padahal anak ini bukan anakmu ...."
Randy memeluk Jeany dan mengusap punggung perempuan itu dengan lembut. Ia selalu melakukannya setiap kali keadaan hati sang istri sedang memburuk seperti saat ini, hal yang sering terjadi sejak awal pernikahan mereka.
Jeany menggeleng dalam pelukan Randy. "Aku gak nyesel."
"Kalo gitu mulai sekarang jangan lagi bilang anak ini bukan anakku." Randy mengusap perut Jeany dengan lembut. "Dia anakku. Anak kita."
Kata-kata Randy membuat hati Jeany begitu tersentuh. Tangannya terulur memeluk pinggang sang suami. "Makasih, Ran. Makasih kamu mau menerima keadaanku yang kayak gini ...."
Randy sedikit memberi jarak di antara mereka agar dapat melihat wajah Jeany dengan jelas. "Aku yang makasih karena kamu udah mau jadi istriku. Aku laki-laki paling beruntung sedunia."
Saat itulah Randy memberanikan diri untuk mencium bibir sang istri. Namun hanya beberapa detik saja bibir mereka bersentuhan. Ia segera melepasnya. "Makasih. Aku udah lama pengen ngelakuin ini," ucapnya dengan wajah senang.
"Kamu suamiku, Ran. Kamu berhak ngelakuin lebih."
"Beneran? Kalo gitu aku gak sungkan lagi!"
***
__ADS_1
Ingatan akan malam itu membuat Jeany tersenyum sendiri. Sebuah pesan percakapan di ponselnya telah memutar kembali kenangan masa silamnya dengan Randy. Ia tersentak kaget saat sepasang tangan tiba-tiba mendekapnya dari belakang.
"Kamu lagi mikirin apa? Sampe gak sadar aku masuk kamar?"
Jeany membalik tubuhnya dan kembali tersenyum saat melihat wajah sang suami. "Ini ... Monic barusan chat. Katanya dia positif hamil." Kini ia berteman akrab dengan istri dari mantan suaminya itu. Mereka sering bertukar cerita.
Kevin ikut tersenyum senang. "Jadi nanti anak Randy seumuran anak kita," ucapnya sambil mencium perut sang istri yang sudah membesar. "Tapi gimana anak mereka nanti? Apa gak ketularan virusnya?"
"Kan mereka udah terapi obat. Waktu dites juga virus itu gak terdeteksi lagi. Anak mereka gak akan tertular virus."
"Jadi begitu." Kevin merasa lega mendengarnya.
"Kenny udah tidur?" Jeany balik bertanya.
"Udah. Baru dibacain dua dongeng udah ketiduran." Kevin menjawab sang istri sambil tertawa.
"Akhir-akhir ini dia cepet banget tidurnya. Kemarin juga gitu."
"Mungkin dia tahu papa mamanya mau bikinin adik buat dia," bisik Kevin dibarengi senyum nakal.
"Kamu maunya bikin adik terus. Padahal udah jadi." Jeany berpura-pura mengeluh, tetapi ia tidak menolak saat sang suami menuntunnya ke ranjang besar milik mereka dan mulai mencumbuinya.
"Soalnya goyangan kamu bikin ketagihan terus," ucap Kevin usai melakukan pemanasan panjang. Ia kini berbaring, memberi kesempatan pada Jeany untuk memegang kendali permainan.
"Ih gak tau malu ngomong kayak gitu!" jawab Jeany dengan wajah merona.
"Udah buruan gak usah pura-pura malu."
Jeany menahan tawanya ketika ia mengambil posisi duduk di atas paha sang suami. Ia menyampirkan selimut besar untuk menutup tubuh polos mereka dari kepala hingga ujung kaki.
"Engap, Jean ...," protes Kevin padanya.
"Udah gak usah cerewet!" Jeany menjawab sebelum perlahan menggerakkan pinggulnya.
Kevin memejamkan matanya dan mendesah, menikmati apa yang dilakukan oleh sang istri. Ia merasa menjadi laki-laki paling beruntung sedunia.
Mampir juga di karya temanku yuk 🙏
__ADS_1