
Untuk sesaat, waktu seakan berhenti berputar bagi Vivian. Ia berdiri terpaku di tempat. Mendengar perempuan lain mengaku sebagai pacar suami adalah mimpi buruk bagi istri mana pun. Ia meneliti wajah Vanessa, mencari tanda-tanda kebohongan dari wajah cantik di hadapannya. Namun paras memikat perempuan itu justru menimbulkan syak wasangka dalam diri Vivian. Mungkinkah Vanessa adalah penyebab Revan ingin bercerai darinya?
"Bisa beritahu saya nama pacar kamu?" Vivian berusaha bersikap tenang kendati emosinya sedang memuncak. Akal sehat membuatnya berhasil menahan diri untuk tidak menarik rambut Vanessa. Lagi pula perempuan itu sama sekali tidak menyebut nama Revan. Setelah sekian lama, bisa saja Revan telah memindahkan kepemilikan griya tawang tersebut kepada orang lain.
Pikiran positif Vivian malah disambut oleh senyum mengejek yang terbentuk di bibir Vanessa. "Lebih baik kamu pulang. Suamimu pasti nggak berharap melihat kamu di sini," katanya, lalu masuk meninggalkan Vivian begitu saja di depan pintu apartemen.
Vanessa tidak benar-benar menutup pintu. Ia menyisakan celah yang mengantar suara seorang laki-laki mengudara hingga ke telinga Vivian.
"Is anything wrong, Ness? Kalau ada aku harus complain keras ke manajemen gedung. Aku bawa kamu ke sini karena sangat percaya dengan sistem keamanan di sini."
"Nope, everything's fine." Vanessa menjawab cepat. "Kamu mau langsung pulang?"
"Ya. Terima kasih bantuannya."
"Ah semua cowok sama aja. Kalo udah selesai maunya cepat-cepat pergi. Can't you stay any longer? I'm alone."
Terdengar suara tawa laki-laki itu. "Besok pagi aku jemput jam delapan. Pasang alarm biar nggak kesiangan."
"Kalo aku belum bangun kan kamu bisa langsung masuk bangunin aku, Van."
Vivian merasa amarahnya akan meledak saat itu juga. Pemilik suara itu, mana mungkin ia tidak mengenalinya? Suara adalah satu dari banyak hal pada diri Revan yang membuat Vivian jatuh hati. Suara Revan menyenangkan untuk didengar, mengesankan suara seorang laki-laki muda yang menarik.
"Gotta go now. See you tomorrow." Sekarang pemilik suara itu berbicara dengan penuh kelembutan pada perempuan lain.
__ADS_1
Secara naluriah Vivian membawa dirinya maju mendekati pintu dan membukanya lebih lebar untuk melihat sosok laki-laki di baliknya. Revan berdiri dengan posisi punggung menghadap pintu. Wajah laki-laki itu menatap Vanessa yang bergerak mendekat padanya.
"Thanks for a great night ya, Van." Kedua tangan Vanessa melingkari pundak Revan. Ia berjinjit dan mendekatkan wajahnya pada wajah Revan, yang terlihat menyambut karena laki-laki itu menundukkan kepalanya.
Tentu saja Vivian tidak akan membiarkan adegan tersebut berlanjut. Dengan kekuatan penuh ia berjalan maju dan mendorong Vanessa hingga tubuh perempuan itu terhuyung mundur.
PLAK!
Suara tamparan terdengar membahana di ruangan yang didominasi oleh warna putih itu. Dua kali Vivian menampar keras wajah Vanessa. "Dasar perempuan murahan! Beraninya kamu deketin suamiku!" Ia mencaci penuh murka.
Vanessa langsung memegangi pipinya dan mengaduh kesakitan. Wajahnya tampak sangat syok. "Apa-apaan ini?! Kamu siapa? Kenapa bisa masuk sini?"
"Nggak usah pura-pura lugu kamu!" bentak Vivian semakin kalap menyerang Vanessa.
"Vivi!" Revan melebarkan matanya melihat kejadian yang berlangsung sangat cepat itu. Ia menahan tangan sang istri yang hendak menarik rambut panjang Vanessa. "Kamu tenang dulu biar aku jelaskan!" perintahnya sambil menarik Vivian agar menjauhi Vanessa.
PLAK!
"Keterlaluan kamu!" Revan mengangkat telapak tangannya yang terbuka, hendak melayangkannya ke wajah perempuan yang baru saja menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
Vivian tidak mundur ataupun melindungi diri. Ia tetap berdiri tegak, menatap nyalang wajah sang suami. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Tak ada pula satu butir pun air mata yang menetes dari kedua netranya. Akan tetapi sorot mata perempuan itu tidak dapat menyembunyikan apa yang sesungguhnya ia rasakan.
Melihat pancaran penuh luka dari sepasang mata Vivian, ayunan tangan Revan terhenti. Tubuh laki-laki itu membeku, menyesali pengendalian dirinya yang buruk. Ia telah mengucap sumpah di hadapan Tuhan untuk menyayangi wanita itu dengan sepenuh hatinya. Namun apa yang baru saja terjadi? Emosi sesaat nyaris membuatnya menyakiti wanita yang seharusnya ia jaga.
__ADS_1
Suasana terasa menegangkan saat sepasang suami istri itu saling menatap dengan amarah berkobar dalam diri masing-masing. Revan mengamati wajah angkuh Vivian. Laki-laki itu mengembuskan napas kasar, mengetahui perangai keras sang istri tidak bisa dihadapi dengan sama kerasnya. Di saat seperti ini, ia yang harus mengalah. "Kamu sudah salah paham. Masuk dulu, biar aku jelaskan di dalam," ucapnya berusaha membuka jalan untuk berbaikan.
Namun gayung tidak bersambut. Bukannya mendengarkan, Vivian malah semakin emosional. "Salah paham your as s! Aku melihat kalian bermesraan dengan mata kepalaku sendiri, Rev! Kamu memang laki-laki bajingan!" Ia mulai memberi Revan pukulan di pundak.
Mata Vanessa membelalak melihat pemandangan itu. Ia berusaha menghentikan Vivian. "Berhenti, please! Jangan pakai kekerasan! Kalau ada masalah sama Revan bicarakan baik-baik."
"Minggir! Nggak usah pencitraan deh kamu!" Vivian mendorong Vanessa hingga perempuan itu terjungkal ke belakang. Tubuh Vanessa pasti sudah mendarat di lantai jika Revan tidak cepat-cepat menopangnya.
Vivian mencibir saat melihat tangan Revan menempel di lekukan pinggang Vanessa. "Bagus, memang kalian nggak perlu bersandiwara lagi. Ternyata perempuan murahan ini yang bikin kamu mau menceraikan aku ya, Rev? Pakai alasan mau punya anak segala. Munafik banget sih kamu!"
Terdengar suara tarikan napas dari Vanessa, sepertinya perempuan itu sangat terkejut dengan informasi yang baru saja ia dengar.
Revan tidak membantahnya. "Kelakuan kamu barusan membuat aku semakin mantap untuk bercerai!"
Amarah yang menyelimuti Vivian seketika terganti oleh rasa sedih dan kecewa. Ia tersenyum pahit, mengetahui rumah tangganya benar-benar di ambang kehancuran. "You know, Rev?" tanyanya sembari memandang wajah sang suami. "Tadinya aku ke sini mau kasih tahu rencana resign-ku. Bodoh banget kan? Hampir aja aku ngelakuin kesalahan fatal, melepas karirku demi laki-laki pengkhianat."
Vivian beranjak pergi saat ia merasa tak mampu lagi membendung air matanya. Ia setengah berlari. Satu butir, dua butir air mata mulai berjatuhan. Dalam waktu singkat wajahnya telah basah oleh air mata yang tidak berhenti turun.
Revan yang terkejut dengan pengakuan Vivian, bergegas menyusulnya. Sebelum pergi, ia menyempatkan diri meminta maaf pada Vanessa atas kekacauan malam itu.
"No worries, Van. I completely understand," kata Vanessa penuh pengertian.
Revan mengangguk berterima kasih. Ia lalu berlari mengejar Vivian. "Tunggu, Vi! " panggilnya agar sang istri mau berhenti. Namun perempuan itu justru mempercepat langkah kakinya.
__ADS_1
Tepat sebelum Vivian memasuki lift, Revan memutar tubuh perempuan itu dengan satu tarikan kuat di tangan. "Aku bilang tunggu—"
Laki-laki itu berhenti berbicara, nyaris tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. "Kamu nangis?"