
Mobil yang dikendarai Randy berjalan lambat di tengah hujan deras yang mengguyur ibukota. Pemuda itu saat ini mengenakan kacamata rabun jauh, karena daya penglihatannya berkurang drastis dalam keadaan minim pencahayaan. Ia harus mengurangi kecepatan saat melewati genangan air di beberapa ruas jalan, yang akan segera menjadi banjir bila hujan terus berlanjut dalam waktu lama.
Jeany duduk di samping bangku pengemudi sambil memikirkan Kevin. Gadis itu lalu memperhatikan Randy yang terlihat berbeda karena kacamata yang dikenakannya. Namun bukan karena itu saja pemuda itu tampak berbeda. Jeany memperhatikan lebih seksama. Ah, kenapa ia baru menyadarinya sekarang?
"Lo kurusan ya, Ran?"
Randy tampak tersentak dengan komentar gadis itu. "Be-beneran gue kelihatan kurus?"
"Agak kurusan, bukan kurus. Kevin juga kurusan," ucap Jeany murung.
Randy diam cukup lama setelahnya. Namun tiba-tiba ia bertanya, "Jean, lo tahu Freddie Mercury gak?"
Jeany merasa aneh dengan pertanyaan tersebut, tetapi tetap menjawabnya. "Tahu. Vokalis Queen kan?"
"Menurut lo dia gimana?"
"Gimana apanya?" tanya Jeany bingung.
"Orangnya gimana?"
"Gue kan gak kenal, jadi gak tahu dia orangnya gimana."
"Lo tahu gak dia terkenal karena apa?"
"Lagu-lagunya mungkin. Emangnya kenapa?"
"Gak, gapapa." Randy menggeleng.
Mereka saling diam kembali. Jeany mulai merasa ada masalah yang mengganggu pikiran Randy. Pemuda itu tampak terbeban oleh sesuatu. Ia tetap diam hingga tiba di rumah kos Jeany. Bahkan tidak ada lagi candaan yang biasa ia lontarkan setiap kali gadis itu hendak turun dari mobilnya.
"Ran, kalo lo ada masalah crita-crita aja gapapa. Lo aneh kalo diem gini."
Randy tersenyum dan mengangguk. Ia mengusap-usap puncak kepala Jeany. "Janji ya lo bakal sediain waktu buat dengerin gue?"
"Iya. Lo kan temen gue."
Pemuda itu tersenyum kecut disebut sebagai teman. "Bentar gue ambilin payung." Randy memutar tubuh hendak mengambil payung di kursi bagian tengah mobilnya.
"Gak usah gue bawa payung kok." Jeany mengeluarkan sebuah payung kecil dari dalam tasnya. Ia mengembangkan payungnya sebelum turun dari mobil Randy.
Seperti biasa, pemuda itu menunggu hingga Jeany telah benar-benar masuk ke dalam rumah. Ia menghela napas berat sebelum menginjak kembali pedas gas.
***
Kuliah Kevin yang seharusnya dimulai pukul setengah delapan pagi tiba-tiba ditiadakan. Ada pemberitahuan kuliah pengganti akan diadakan pada pukul tiga sore. Kevin berlalu meninggalkan papan pengumuman. Sudah tentu ia tidak akan hadir pada kuliah pengganti. Pemuda itu lantas memutuskan untuk menemui kekasihnya, melepas rindu yang akhir-akhir ini selalu menggelayuti dirinya.
"Jean, aku gak boleh masuk ke dalam?" Ia bertanya dengan pandangan memohon pada kekasihnya yang selalu menyuruhnya duduk di teras.
"Gak boleh," jawab Jeany tegas.
"Tapi aku pingin peluk-peluk kamu ...." Tidak biasanya Kevin bersikap manja seperti itu.
"Nanti kalo udah nikah kamu bisa peluk-peluk sepuasnya."
"Beneran? Boleh ML sepuasnya juga?"
"Dasar mesum!" Jeany mencubit perut Kevin.
"Aduh!" Kevin meringis kesakitan. "Itu kan kebutuhan, Jean. Aku jadi pingin secepatnya nikah ...."
"Iya sabar." Jeany lalu menatap kekasihnya, ada rasa sesak melihat wajah tirus pemuda itu. "Muka kamu pucat. Apa kamu baik-baik aja?"
"Gapapa. Cuma cuaca lagi gak bagus. Sebentar hujan, sebentar panas. Bikin flu."
Jeany menatapnya cemas. "Kamu bisa tidur nyenyak di kos?"
"Awalnya gak bisa, tapi sekarang udah biasa."
"Sering lembur?"
"Cuma sekali itu lemburnya." Kevin meminta maaf dalam hati karena berbohong. Ia tak pernah lembur.
"Kalo gak enak badan gak usah masuk kerja."
__ADS_1
"Aku kan belum ada sebulan kerja, gak enak kalo absen."
"Kamu gak mau pulang ke rumah?"
Kevin mengerutkan keningnya. "Kok kamu nanya gitu? Kalo aku pulang ke rumah, itu berarti aku udah nyerah dengan hubungan kita."
"Aku cuma kuatir sama kamu, Vin ... Kamu makin kurus ...."
"Aku baik-baik aja."
"Tapi-"
"Udah gak usah bahas itu lagi. Mending kita sekarang pergi kencan yuk?"
"Kencan?" Pikiran Jeany teralihkan.
"Iya. Kalo dipikir-pikir setelah jadian kita belum pernah kencan."
"Lain kali aja kamu lagi gak enak badan gitu."
"Cuma flu biasa ini. Ayolah mumpung aku sekarang gak ada kuliah."
"Ayo kalo gitu." Jeany mengalah melihat kekasihnya yang begitu bersemangat.
Dengan sepeda motor mereka pergi ke mal tempat Kevin pernah mengajak Jeany menonton film bioskop. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, menikmati setiap detik bersama sang pujaan hati. Kevin melihat Jeany sambil menyeringai.
"Ada enaknya juga ya naik motor. Aku jadi bisa dipeluk ama kamu."
"Aku kira kamu gak bisa naik motor."
"Gitu amat menilai cowoknya ...." Kevin berpura-pura terluka oleh kata-kata Jeany.
"Habis kamu dulu kan naik mobil terus."
"Aku pernah ya bawa motor ke sekolah."
"Oh ya? Kok aku gak tahu?"
Jeany menangkap kerinduan pada sorot mata Kevin. "Kamu kangen mama kamu ya?"
"Biasa aja. Oh ya, kita mau nonton apa makan? Uangku cuma cukup buat salah satunya hehe ...."
"Makan aja biar kenyang."
"Pizza mau?"
"Mau. Aku juga suka pizza."
Di restoran pizza, Kevin dan Jeany memilih tempat duduk di samping jendela kaca.
"Pesen paket delight berdua aja ya?" tanya Kevin.
"Iya. Tapi minumnya kamu pesen air mineral aja, kan mau minum obat."
Kevin mengangguk lalu menawarkan, "mau salad gak?"
"Gak usah aja."
Pramusaji mencatat pesanan mereka dengan sigap. Sambil menunggu pesanan datang, Jeany sesekali memperhatikan pemandangan yang terlihat dari kaca jendela.
"Pasti keren banget kalo bisa kerja di sana, jadi wanita karir, pake baju kerja yang keliatan elegan ...."
Kevin mengikuti arah pandangan Jeany. Sebuah gedung pencakar langit dengan arsitektur modern. Ia tersenyum. "Kalo kita udah nikah aku gak bakal ngelarang kamu kerja."
"Ish kamu dari tadi nikah-nikah mulu ...."
"Kok marah sih, orang aku emang serius mau nikahin kamu."
"Yang penting jaga kesehatan dulu! Kamu tuh bikin kuatir terus."
"Ya udah aku gak ada aja biar kamu gak kuatir lagi."
Jeany langsung menjulurkan tangannya dan mencubit kedua pipi Kevin dengan sekuat tenaga. "Ngomong gitu lagi aku sobek mulutmu ...."
__ADS_1
"Aduduh ampun, Jean! Becanda becanda!" teriak Kevin kesakitan. "Berhenti dulu ini ada telpon!"
Mendengar ponsel Kevin berdering, Jeany menarik tangannya. Sambil mengusap-usap pipinya yang sakit, Kevin melihat layar ponsel. Ia menyebut nama Stevi dengan terkejut sebelum menerima panggilan tersebut.
"Halo, Stev? Aku lagi ama Jeany di Pizza TA. Masih lama kok di sini. Kamu mau ke sini? Oke oke."
Kevin dan Jeany saling berpandangan. Mereka menunggu Stevi datang sambil menyantap hidangan yang telah dipesan. Ternyata Stevi datang bersama Devi dan Sandra. Mereka berlima kini duduk di meja yang lebih besar.
"Jean, gue ke sini mau ngucapin terima kasih karena lo udah nolong gue waktu itu. Kalo engga ...." Stevi tertunduk malu, tidak melanjutkan kalimatnya.
"Gak perlu berterima kasih, Stev. Papanya Kevin yang nolong lo."
"Iya tapi itu berkat lo. Kevin udah cerita semua. Rika bener-bener licik. Dia bikin gue percaya kalo lo yang keliatan alim ternyata juga jual diri, supaya gue gak ragu menerima tawaran dia," ujar Stevi menyesali kebodohannya. "Gue juga mau pamit. Besok gue mau berangkat ke Malaysia, tinggal di sana buat merawat bokap gue," lanjutnya.
Kevin dan Jeany tampak kaget.
"Trus kuliah lo gimana?"
"Sementara ini cuti. Kayak lo." Stevi tersenyum masam. "Gue juga mau minta maaf udah berburuk sangka sama lo."
"Gue yang harusnya minta maaf karena udah bikin lo ama Kevin putus."
Stevi menggelengkan kepalanya. "Engga, Jean. Lo yang lebih pantas bersama Kevin."
Keheningan kemudian menyelimuti mereka. Walau sudah saling meminta maaf, suasana tetap canggung karena pada dasarnya mereka tidak pernah akrab. Sandra berkali-kali menyikut Devi yang duduk di sebelahnya.
"Ehem! Jean, gu-gue juga mau minta maaf atas kata-kata jahat gue. Ternyata lo gak seperti yang gue tuduhkan."
Jeany sampai sedikit membuka mulutnya karena tercengang. Devi yang paling sering menghinanya itu meminta maaf padanya, walau kelihatannya terpaksa.
"Iya gue maafin."
"Dan makasih udah menolong sahabat gue."
"Yak! Kalo gitu hari ini gue yang traktir kalian makan ya, termasuk Kevin ama Jeany." Sandra mendeklarasikan niatnya sambil tersenyum cerah.
"Tumben lo mau nraktir? Biasanya ditraktir mulu," sindir Devi.
"Terakhir, Dev ... Sebelum sahabat kita ke Malaysia." Sandra terlihat sedih harus berpisah dengan Stevi.
Mereka berlima makan dengan suasana haru, mengetahui mungkin itulah terakhir kalinya mereka dapat makan bersama.
"Persidangannya gimana, Stev?" tanya Kevin penasaran.
"Aku udah ngasi kesaksian seperti yang kamu sarankan. Kayaknya hukuman buat Rika cukup berat soalnya dia juga pengedar narkoba."
"Apa?!"
"Iya aku juga sempat dikasih, untungnya belum sampe parah, Rika udah ketangkep."
"Trus lo gak rehab?" Devi menatap sahabatnya.
"Engga lah gue kan gak kecanduan."
"Syukurlah ...." Keempat orang lainnya terlihat lega.
"Tapi sebenernya Rika itu kasihan juga ... Dia punya anak di luar nikah, sekarang tinggal di Surabaya ama neneknya. Ayah anaknya gak mau bertanggung jawab."
Jeany sedih mendengar nasib yang dialami oleh Rika. Namun apa yang dituai olehnya kini adalah akibat dari pilihan hidupnya yang salah. Kalau saja waktu bisa diputar kembali. Sayangnya tidak.
Sebelum berpisah, Stevi dan Jeany saling berpelukan.
"Semoga kalau ketemu lagi kita bisa jadi sahabat ya, Jean."
"Iya, Stev. Sampai ketemu lagi."
***
Tidak terasa sudah satu bulan Kevin bekerja di percetakan milik sepupunya. Ia telah menerima gaji pertamanya. Dengan hati berbunga-bunga pemuda itu mengajak kekasihnya menonton film romantis di bioskop. Saat sedang antri untuk membeli tiket, Kevin tiba-tiba merasakan sakit kepala hebat. Ia tersungkur di lantai, membuat Jeany yang berdiri di sampingnya berteriak panik.
Baca juga karya temanku satu ini ya 😃
__ADS_1