Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Kesalahan Besar


__ADS_3

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter spesialis saraf menyimpulkan kondisi Kevin masih stabil. Namun pemuda itu diharuskan untuk melanjutkan minum obat secara disiplin.


"Tetap tidak boleh beraktivitas terlalu berat ya dan harus cukup istirahat. Setelah satu bulan kita CT Scan ulang untuk melihat volume pendarahan. Bila ada gejala seperti sakit kepala, pandangan tiba-tiba buram, mimisan atau keluhan lainnya harus segera ke rumah sakit," pesan dokter tersebut dengan senyum ramah.


Kevin pulang dari rumah sakit dengan perasaan lega. Ia tidak bisa membayangkan bila tidak diperbolehkan bekerja. Sebagai laki-laki ia merasa tidak berguna bila keuangannya harus terus dibantu oleh Jeany.


Pemuda itu menghabiskan waktu cukup lama di rumah sakit karena harus mengikuti antrian panjang pasien yang datang untuk berkonsultasi. Hari telah gelap ketika Kevin sampai di kosnya. Di teras tampak Bayu dan Dewi yang sedang asyik mengobrol sambil tertawa dengan suara keras.


"Baru pulang, Vin? Ayo duduk sini kita ngobrol-ngobrol. Mumpung ada Dewi." Bayu menyapa Kevin dengan hangat. Sedangkan Dewi memasang wajah datar.


"Boleh, tapi gue mandi dulu ya."


Walau sebenarnya malas, pemuda itu merasa tidak enak hati bila menolak tawaran Bayu yang sudah membantunya menjadi sales selama satu minggu. Ia masuk ke kamarnya lalu mengambil pakaian dan peralatan mandi. Satu lagi hal yang dirasanya tidak nyaman dari tempat kosnya itu. Tidak ada kamar mandi dalam. Untung saja saat itu ia tidak perlu antri untuk mandi seperti yang sudah sering dialaminya.


Usai mandi, Kevin berjalan menuju teras dengan niat berbasa-basi sebentar saja. Setelahnya ia akan berpamitan ke kamar dengan alasan mengantuk. Namun ia tidak menyangka Bayu dan Dewi sedang membicarakan dirinya.


"Lama juga mandinya si Kevin," ujar Bayu sembari membalas pesan masuk di ponselnya.


"Antri kali, Yu. Kamar mandi di kos lo kan cuma tiga."


"Iya kali. Oh iya, gimana pdkt lo ama Kevin?"


"Pdkt apaan? Nomor gue diblokir." Dewi menggerutu kesal.


"Hah masak? Sampe ngeblokir segala? Salah lo juga sih pdkt ama cowok yang udah punya cewek."


"Tau! Kere aja jual mahal!"


DEG!


Jantung Kevin langsung berdetak kencang. Baru kali itu ia mendengar secara langsung dirinya dihina.


"Tapi cakep dan keren kan? Lo pasti bangga kalo jalan ama dia," sanggah Bayu.


"Menang tampang doang. Kalo gak ada duit buat apa? Realistis aja, mana ada cewek yang mau ama cowok kere." Dewi menjawab dengan wajah mencemooh.


"Eh jangan salah loh. Gue liat ceweknya setia banget."


"Paling cuma sementara, lagi panas-panasnya cinta. Ntar kalo udah lama juga bakal bosen. Emang siapa yang mau hidup susah terus ya gak? Mending ama cowok lain yang lebih punya masa depan!"


"Hehehe kalo gitu mending gue ya? Biarpun tampang gue standar ...."


"Gak masalah yang penting bisa muasin." Dewi mengerling nakal.


Kevin tidak ingin mendengar lagi pembicaraan tidak bermanfaat itu. Ia berbalik arah dan kembali ke kamarnya, urung menemui Bayu dan Dewi. Setelah mereka membicarakan dirinya seperti itu, ia sudah tidak ingin berbasa-basi lagi dengan mereka. Pemuda itu lalu berbaring dengan lengan menutupi sebagian wajahnya.


Entah sudah berapa lama Kevin berbaring dengan posisi seperti itu. Hanya berbaring dengan mata terpejam. Ia terpaksa bangkit karena mendengar pintu kamarnya diketuk. Ternyata Bayu yang memanggilnya.


"Gue tungguin di depan tapi lo gak nongol-nongol. Dewi ampe udah balik."


"Sorry sorry gue ketiduran." Kevin berpura-pura menyesal.


"Hehe gapapa, Bro. Lo mau ikut gue gak?"

__ADS_1


"Ke mana?"


"Ke spa." Bayu menaik-turunkan alisnya sambil menyeringai. "Petik mangga."


Kevin paham istilah tersebut. Ia pernah mendengarnya dari Randy.


"Oh engga deh, Yu. Gue gak pernah gituan."


Bayu terlihat terkejut. "Serius lo gak pernah? Gak seru dong masa muda lo. Ayo dah gue bayarin deh mumpung ada promo member hari ini."


"Engga, Yu. Gue gak mau ngecewain pacar gue."


"Ah elah belum nikah juga ... Puas-puasin nakal dulu kita. Ntar abis nikah baru tobat."


"Engga, Yu. Gue gak mau menyesal cuma karena kenikmatan sesaat."


Kevin langsung menutup pintu kamarnya tanpa menunggu jawaban Bayu. Setelah melihat sifat asli teman kosnya itu, ia memutuskan untuk tidak terlalu mengakrabkan diri dengannya.


Dua hari kemudian Kevin mendatangi percetakan milik Hansen. Sepupunya pula yang langsung turun tangan memberi penjelasan mengenai deskripsi pekerjaannya.


"Lo kan cakep, jadi frontliner aja bagian setter. Biasanya customer udah bawa desain sendiri kok jadi lo tinggal setting sebelum naik cetak. Untuk hari ini lo belajar dulu sama Angga ya."


Hansen lalu mengenalkan Kevin pada semua karyawan di percetakannya. Jumlah karyawan di sana tidak banyak, hanya lima belas orang termasuk Kevin. Angga menjelaskan jenis dan ukuran kertas serta cara mengoperasikan software desain grafis yang mereka gunakan. Kevin mencatat dengan cermat.


"Kamu pasti bakal betah kerja di sini, Kevin. Bos kita gak pelit. Kemarin aja bagi-bagi HP buat karyawan yang gak pernah absen."


Selain menjadi mentor bagi Kevin, Angga ternyata juga suka mengobrol. Kevin menahan senyum mengingat wajah menyesal kakak sepupunya setelah membeli lima buah ponsel tersebut.


Pada akhir jam kerjanya, Kevin menemui Hansen di ruangannya. Ia melihat sepupunya itu sedang berbicara di telepon, sepertinya dengan klien penting. Pemuda itu menunggu dengan sabar.


"Itu ... Aku boleh kasbon dulu gak, Kak?" Wajah Kevin terlihat sungkan.


"Mau kasbon berapa?"


"Lima juta. Buat beli motor bekas."


Hansen tersenyum maklum. "Kalo lo mau nunggu, ada motor yang bisa gue pinjemin. Lo pake-pake aja gapapa. Tapi tunggu beberapa hari lagi soalnya lagi di-service, sama lagi diurus surat-suratnya."


"Wah beneran, Kak?" Kevin merasa tidak percaya dengan keberuntungannya.


"Iya dong. Asal lo kerja yang bener ya."


"Beres, Bos!"


"Oh iya. Kondisi pendarahan di kepala lo gimana? Lo udah kontrol ulang ke dokter?"


"Udah kok. Kata dokter masih stabil. Aku disuruh lanjutin minum obat dan bulan depan CT Scan ulang buat cek volume pendarahannya."


"Syukurlah kalau begitu ...." ucap Hansen sambil tersenyum lega. Ia segera menyampaikan informasi tersebut pada mama Kevin setelah pemuda tersebut pulang.


***


Stevi sedang di rumah Rika menghabiskan waktu sebelum tidur. Ia tidak suka sendirian di rumah. Rumah tetangganya itulah yang selalu menjadi tempat pelariannya.

__ADS_1


"Rik, lo bisa bantu gue gak? Tadi nyokap gue telpon. Mobil gue bakal dijual. Gue gak bisa kalo gak ada mobil ...." Stevi mengeluh pada gadis di sampingnya. Kini ia lebih banyak mencurahkan isi hatinya pada Rika ketimbang pada Devi dan Sandra.


"Ada dong. Gue dapat penawaran menarik. Ada yang bersedia bayar lima puluh juta. Tapi lo tahu sendiri jumlah segitu pasti gak cuma h*ndjob ama bl*wjob aja ...."


Stevi meneguk ludahnya. Lima puluh juta adalah jumlah yang fantastis. Namun ia masih takut dan ragu. Haruskah ia melepas kesuciannya demi uang lima puluh juta rupiah?


"Lo pikir-pikir aja dulu ... Kalo mau tinggal kasih tahu gue. Tapi gue kasih bocoran. Klien yang ini masih muda dan cakep loh ...."


"Iya gue pikir-pikir dulu. By the way lo masih ada barang yang kemarin gak?"


"Kenapa? Lo mau lagi?"


"Iya. Tapi habis efeknya hilang kok gue jadi mual ya?"


"Gue ada barang yang lebih mantap, gak ada basiannya. Tapi beda kualitas beda harga dong ... Lo cobain dulu."


***


Beberapa hari berlalu dan Kevin sangat menikmati pekerjaannya di percetakan milik sang sepupu. Percetakan tersebut termasuk ramai, dalam satu hari bisa melayani enam puluh hingga delapan puluh konsumen. Ia bersyukur belum pernah bertemu dengan konsumen yang bersikap menyebalkan. Hanya terkadang membingungkan seperti yang baru saja dialaminya.


"Mau bikin apa, Pak?" Kevin bertanya sambil mengeluarkan senyum terbaiknya.


"Mau bikin banner buat toko baju saya."


"Mau ukuran berapa banner-nya?"


"Gak tahu. Kayak yang biasa dipakai orang-orang aja."


Hampir saja Kevin menggaruk kepalanya di depan orang tersebut. Kalau sudah seperti itu biasanya ia akan bertanya pada Angga atau Reyhan, rekannya sesama setter yang mempunyai jam terbang lebih tinggi.


Setelah selesai dengan konsumen tadi, konsumen lain berdatangan. Ada yang ingin mencetak kartu nama pribadi, spanduk untuk acara lomba, kotak kue dengan logo khusus, hingga undangan pernikahan. Kevin begitu sibuk hingga tidak sempat memperhatikan ponselnya. Setelah agak lenggang baru ia menyadari Jeany telah berkali-kali menghubunginya.


***


Stevi berada di sebuah kamar hotel bintang lima bersama seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun. Ia telah membuat keputusan besar tadi malam. Menjual kesuciannya. Ia merasa mantap ketika mengutarakan keputusannya pada Rika. Jika Jeany yang terlihat lugu saja bisa melakukannya, kenapa ia tidak?


Namun kini Stevi merasa telah membuat kesalahan besar. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Ia menatap takut-takut pada laki-laki yang berjalan menghampirinya.


"Ma-maaf. Bisa gak kita batalin aja?"


Laki-laki yang kini hanya mengenakan ****** ***** itu mengernyitkan keningnya.


"Are you f*cking kidding me??"


"Ti-tidak. Saya benar-benar minta maaf. Ta-tapi saya tidak bisa melakukan ini." Stevi menjawab dengan terbata-bata karena takut. Laki-laki itu mulai terlihat menyeramkan.


"I don't care! Saya sudah bayar mahal ya sama Rika. Enak saja mau batal!"


"Saya akan kembalikan uangnya."


"Saya sudah bilang tidak peduli! Kamu tidak lihat saya sudah tegang sekali?!"


Stevi meneguk ludahnya melihat tonjolan di balik ****** ***** laki-laki itu. Walau laki-laki itu terlihat sangat merawat diri dan bersih, Stevi tetap takut melepas kesuciannya pada orang yang tidak dikenal dan tidak dicintainya. Sambil gemetar ketakutan gadis itu berlari ke pintu hendak keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


Sontak laki-laki tadi menarik Stevi dengan kasar. ***** membuatnya gelap mata. Laki-laki itu mendorong tubuh Stevi dengan keras hingga terhempas di atas kasur dan langsung menindihnya. Ia menghujani Stevi dengan ciuman yang terasa sangat menjijikkan bagi gadis itu. Seluruh tenaga telah Stevi keluarkan untuk melawan, tetapi malah membuat lawannya semakin brutal. Gadis itu hanya bisa menangis ketika laki-laki itu melucuti satu per satu pakaian yang dikenakannya.


__ADS_2