Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Jalan Terbaik


__ADS_3

Jeany mengakhiri jam kerjanya sedikit lebih lama dari biasanya. Ia harus menunggu kasir shift sore yang datang terlambat. Usai mengambil helm dan jaket di loker khusus karyawan, gadis itu melangkah keluar dengan cepat dari pintu belakang restoran, tidak ingin membuat tukang ojek langganannya menunggu lebih lama.


Namun sesampainya di tempat ia biasa dijemput, yang sedang menunggunya bukanlah tukang ojek. Seorang pemuda tampan yang selalu memenuhi hati dan pikirannya berdiri di sana dengan wajah kaku.


"Nah itu Jeany udah keluar. Kalo gitu gue pulang dulu ya, Kevin. Duluan, Jean!" Pramusaji bernama Ririn itu berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir di bagian samping restoran.


"Kevin, kamu ngapain di sini?"


Bukannya Jeany tidak senang bertemu dengan Kevin. Gadis itu hanya mengkhawatirkan kondisi kekasihnya yang menurutnya belum pulih.


"Jemput kamu. Ayo!" Kevin menarik tangan Jeany menuju mobilnya.


"Kamu nyetir? Memangnya dokter udah ngijinin kamu nyetir?"


Kevin tidak mengacuhkannya. Ia berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Pemuda itu menatap ke depan, sambil sesekali melihat kaca spion bila ingin berpindah lajur. Tampak sekali ia sangat berhati-hati.


"Kok kita ke sini?" Setelah dari tadi diam, Jeany memprotes Kevin karena pemuda itu membawa mobilnya memasuki kompleks apartemen.


Lagi-lagi Kevin tidak menggubris pertanyaan Jeany. Ia turun dari mobilnya dan berjalan memutar menuju pintu di samping Jeany. Setelah membuka pintu itu, Kevin sedikit menarik paksa Jeany agar mengikutinya.


"Vin, ngapain ke sini?"


Kevin menghentikan langkahnya dan menoleh. "Kamu cerewet banget sih?"


Jeany tertegun mendengar jawaban Kevin. Pemuda itu sepertinya sadar sudah berbicara ketus, ia mengusap wajahnya sekali dan menghembuskan napas sebelum berucap singkat, "sorry."


Karena merasa suasana hati Kevin sedang tidak baik, Jeany tidak bertanya lagi. Ia ikut saja ke mana pemuda itu membawanya. Mereka masuk ke sebuah apartemen. Ini kelima kalinya Jeany datang ke tempat itu. Gadis itu memandang sekeliling apartemen mewah tersebut. Ia sadar, di tempat itulah seharusnya Kevin tinggal, bukan di kamar sempit nan pengap.


"Gimana kepala kamu, Vin?" Jeany terpaksa memulai percakapan karena sedari tadi Kevin hanya mendiamkannya. Mereka sudah duduk cukup lama di sofa.


"Udah baikan."


"Pendarahannya udah gak ada?"


"Masih."


"Trus kenapa kamu malah keluyuran?"


Kevin memberi tatapan tajam pada Jeany sebelum menjawab. "Keluyuran? Aku begini karna mau ketemu kamu! Tapi ternyata cuma aku sendiri yang merasa kangen." Wajah pemuda itu tampak kecewa.


"Bukan aku gak kangen. Tapi kamu harusnya jaga kondisi kamu, jangan sampe nge-drop lagi!"


"Aku udah sehat!" sanggah Kevin.


"Udah sehat gimana? Pendarahannya masih ada kan?"


"Udah baikan. Kalo engga gak mungkin dibolehin rawat jalan."


"Kenapa kamu ngeremehin sakit kamu sih, Vin? Kamu gak ingat di bioskop kemarin kamu sampe pingsan?" Jeany benar-benar marah saat ini.


"Siapa yang ngeremehin? Aku tetap minum obatnya. Cuma pas tadi ada kesempatan keluar mumpung mamaku gak di rumah, aku langsung pergi cari kamu."


"Ya ampun, Vin ...." Jeany merasa putus asa. "Kalo kayak gini lebih baik kamu berobat di Singapore"


"Apa katamu?"


"Kamu berobat di Singapore aja."


"Kamu mau kita gak ketemu lagi?"


Jeany tidak menjawabnya karena ponselnya berdering. Randy meneleponnya.


"Halo? Iya, Ran, bentar lagi gue pulang kok. Ntar gue kabarin kalo udah sampe kos." Gadis itu kembali melihat Kevin. "Vin, aku pulang dulu ya. Kamu juga mending langsung pulang ke rumah."


Bibir Kevin menipis saat ia mengatupkan rahangnya. Kilat kemarahan terpancar dari sorot mata pemuda itu. Ia bangkit dan tanpa suara menarik tangan Jeany. Cekalan tangan Kevin sangat kuat. Gadis itu tidak mampu berkutik saat Kevin membawanya ke kamar dan mengunci pintu kamar tersebut.


"Kamu mau apa?" tanya Jeany dengan waswas. Ia melihat gelagat aneh pada Kevin.


Tidak menjawab, Kevin mendorong Jeany hingga jatuh telentang di atas kasur. Ia memerangkap tubuh mungil gadis itu di bawah tubuhnya sendiri. Tangan kirinya memegang kedua tangan Jeany yang disatukannya di atas kepala gadis itu, sementara tangannya yang lain telah menggerayangi tubuh bagian samping Jeany dengan gerakan naik turun. Gadis itu merasakan napas Kevin mulai memburu.


"Vin! Kamu apa-apaan!"

__ADS_1


"Kenapa? Apa setelah ngelakuin sama Randy kamu gak mau ngelakuin sama aku lagi?"


"Jaga mulut kamu! Kamu kira aku cewek apaan?!" Jeany membentak pemuda itu.


"Kamu kira aku gak tahu? Selama aku di rumah sakit kamu hampir tiap hari ketemu Randy kan? Temen kerja kamu yang bilang!"


"Tapi gak seperti yang kamu kira!" Jeany memang belakangan sering meluangkan waktunya untuk Randy karena takut pemuda itu mengalami depresi.


"Lalu seperti apa? Kenapa malam itu dia ada di dalam kos kamu?"


"Dia ... dia sakit."


"Sakit apa?"


Tak mampu menjawab, Jeany memalingkan wajahnya yang tadi menatap Kevin dengan garang. "Itu lebih baik kamu tanya sendiri ke dia."


Melihat itu, Kevin mengartikannya sebagai ekspresi orang yang ketahuan melakukan kesalahan. Ia semakin mengeratkan cengkeraman tangannya pada Jeany. "Kamu bener-bener bikin aku kecewa, Jean. Aku kira kamu cewek baik-baik. Pasti pesona Randy sulit kamu tolak, hm?"


Hati Jeany serasa diiris-iris mendengar kekasihnya sendiri menghinanya. "Lepasin aku!! Lepasin!! Aku mau pulang!!" Dengan penuh kemarahan Jeany mengerahkan seluruh tenaganya untuk membebaskan diri. "Hmmph!"


Pemuda itu menciumnya paksa. Kevin begitu sakit oleh rasa cemburu hingga ingin melampiaskannya pada gadis yang menyebabkan rasa sakit itu ada. Jeany tidak merasakan sedikit pun kelembutan dalam cumbuan Kevin. Setiap sentuhan bibir pemuda itu membuatnya merasa sakit.


Suara lirih yang keluar dari bibir Jeany malah membuat Kevin semakin bernafsu. Ia bahkan berani meremas buah dada gadis itu. Jeany mengangkat kakinya ingin menendang Kevin, tetapi ia kalah cepat. Kaki Kevin telah mengunci gerakannya. Namun pemuda itu semakin kalap karena perlawanan Jeany. Dengan kasar ia menarik bagian depan pakaian gadis itu hingga kancing-kancingnya terlepas.


Melihat bagian tersembunyi tubuh Jeany, Kevin tidak dapat membedakan lagi antara amarah dengan nafsu. Ia membenamkan wajahnya di dada gadis itu dan mencecapi setiap jengkal kulit mulusnya, dengan sengaja membuat kulit yang semula putih itu berubah warna menjadi kemerahan.


"Brengsek!! Kamu brengsek, Vin!!" Gadis itu menangis. Kevin memperlakukannya seolah ia perempuan yang tidak punya harga diri.


Dengan napas terengah Kevin mengangkat kepalanya untuk menjawab makian gadis itu. "Kamu yang bikin aku jadi begini!" teriaknya.


Tangan Kevin lalu bergerak cepat melepas seluruh pakaian Jeany. Tubuh yang kini tidak tertutup sehelai benang pun itu gemetar hebat karena akan diperkosa untuk kedua kalinya. Pemuda itu menurunkan celananya. Saat Kevin menciumnya kembali, Jeany menggigit bibir pemuda itu kuat-kuat.


"Argh!!"


Rasa sakit pada bibirnya membuat Kevin menarik tubuhnya yang menindih Jeany. Darah segar menetes dari mulutnya. Ia mengelap sudut bibirnya dengan punggung tangan, mengabaikan getirnya zat pekat yang menyeruak ke indera perasanya.


Jeany masih gemetar hebat, terbaring tanpa busana dengan air mata membanjiri wajahnya. Di bibir gadis itu juga terlihat bekas darah Kevin. Saat itu juga Kevin tersadar dari kegilaannya.


"Jean, aku gak maksud .... Sorry, Jean!" Kevin mengulurkan tangannya.


Pemuda itu membeku di tempat. Ia memalingkan wajahnya saat Jeany bangkit dan memunguti pakaiannya yang tercecer. Walau sudah pernah melihat tubuh Jeany, Kevin merasa ia harus memberi gadis itu privasi. Ia sendiri membetulkan posisi celananya yang melorot.


"Kita putus aja, Vin. Aku capek kayak gini terus." Jeany berkata dengan wajah lelah usai mengenakan pakaiannya yang kini sudah tak bisa lagi dikancing.


Kevin otomatis menggeleng. "Gak, Jean aku gak mau putus! Tolong maafin aku! Barusan aku khilaf! Kita udah melewati banyak hal sampai sekarang, mana bisa kamu bilang putus semudah itu!" Pemuda itu memohon dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi aku capek, Vin. Sejak kenal kamu aku selalu dapat hinaan. Aku gak kuat lagi."


"Tolong jangan bilang menyerah, Jean! Aku mohon! Aku gak bisa putus dari kamu!" Kevin menggenggam tangan Jeany.


"Mama kamu juga gak merestui. Kita gak akan bahagia."


"Aku bisa keluar rumah seperti dulu! Demi kamu aku bisa tinggalin keluargaku!!"


"Dan hidup susah kayak dulu?"


Wajah Jeany terlihat sinis ketika mengatakannya. Merasa terpukul, Kevin melepas tangannya yang memegangi gadis itu.


"Apa maksud kamu? Kamu gak tahan hidup susah sama aku?"


" .... Anggap aja begitu."


Senyum pahit hadir di wajah Kevin, mewakili suasana hatinya saat itu. Apa yang selama ini ditakutkannya benar-benar terjadi.


"Kamu benar. Aku memang gak punya apa-apa. Kalau begitu pergilah ke orang yang bisa membuat kamu bahagia."


***


"Akhirnya lo mutusin buat pulang kampung ya, Ran."


Jeany memandang tanpa arti ke arah rumput di halaman rumah kosnya. Satu lagi perpisahan harus dialaminya. Setelah berkali-kali ditempa kesedihan, mungkin kini hati gadis itu sudah tak berbentuk.

__ADS_1


"Iya, Jean. Udah waktunya gue berbakti sama orang tue gue, selagi masih ada umur." Randy diam sejenak. "Mereka pasti shock berat anaknya bukan pulang bawa prestasi malah bawa penyakit," lanjutnya sembari menertawakan dirinya sendiri.


"Moga- moga lo gak digebukin ya, Ran."


"Gue mending digebukin deh daripada disuruh jaga toko." Pemuda itu bergidik membayangkan hal yang paling tidak disukainya bila berada di kampung halaman.


"Jaga toko kan enak apalagi toko milik sendiri. Dasar gak bersyukur!"


"Haha iya iya. Trus lo gimana ama Kevin? Lo beneran putus ama dia?"


"Iya." Wajah gadis itu seolah meredup.


"Lo segitu kecewanya sampe gak mau maafin dia? Tapi sampe sekarang gue masih sulit percaya tuh bocah ternyata bisa giras banget yah ckckck ...."


"Kecewa, tapi bukan itu yang bikin gue minta putus. Gue mau dia berobat ke Singapore sampe sembuh. Kalo tetep di Indonesia gue takut dia bakal terus maksain diri kayak waktu itu."


"Tapi apa lo siap kehilangan dia?"


"Kalo tetap seperti ini juga cepat lambat gue bakal kehilangan dia. Gue gak mau dia kenapa-napa, Ran ...." Jeany berkata memelas. "Lagian gue juga gak mau misahin dia dari keluarganya."


"Bukan lo yang misahin dia dari keluarganya, tapi nyokapnya sendiri."


"Apa menurut lo gue lebih berhak atas diri Kevin dibanding ibu kandungnya sendiri?"


"Hmm sekali-sekali egois gapapa kali, Jean."


Pandangan gadis itu menerawang seolah mengingat sesuatu.


"Lo tau gak, dulu waktu nonton Titanic gue sebel banget ama Rose. Kenapa dia ngebiarin Jack terendam sampe membeku di air laut yang dingin itu? Kalo gue jadi dia gue bakal maksa Jack untuk naik ke atas papan, gimanapun caranya. Buat apa gue hidup kalo orang yang gue sayang harus pergi untuk selamanya ...."


Bukannya merasa terenyuh mendengar cerita Jeany, Randy malah tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Jadi lo nyamain kisah cinta lo ama Kevin dengan Rose ama Jack di film Titanic?"


"Cuma contoh, Ran, contoh ...," jawab gadis itu sebal.


"Hahaha iya iya ...." Randy mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa. "Kevin beruntung banget bisa dapetin cinta lo. Seandainya gue gak kena HIV, Jean, gue pasti gak akan lepasin lo."


"Yang penting lo gak nyerah dengan hidup lo."


"Iya berkat lo. Makasih udah beri gue semangat hidup." Randy berkata tulus.


"Sama-sama."


"Lo yakin bisa hidup tanpa Kevin?"


"Sebelum ini kan gue hidup tanpa dia."


"Lo emang cewek kuat. Boleh peluk untuk terakhir kalinya gak, Jean? Tapi kalo gak mau gapapa kok. Mungkin lo takut ketularan. Meskipun HIV gak menular lewat pelukan sih ...." Randy berbicara panjang lebar untuk menutupi rasa takutnya akan penolakan.


"Iya gue tahu kok."


Randy lalu merentangkan kedua tangannya. Bibirnya tersenyum, tetapi matanya tak dapat berbohong. Jeany tahu pemuda itu masih merasa terpukul walau sudah berusaha tegar. Gadis itu masuk ke dalam pelukan Randy dan menumpahkan tangisannya di dada pemuda itu, mengetahui setelah ini hidup mereka tak akan lagi sama.


"Kalo ke Bali mampir Negara ya, ntar gue ajak keliling-keliling. Asal saat itu gue masih hidup ...."


"Pasti, Ran. Lo pasti panjang umur dan hidup dengan baik."


Dari dalam taksi, seorang pemuda melihat kedua orang itu berpelukan hangat. Dadanya terasa sesak tetapi ia menerimanya dengan tabah. Mungkin ini yang terbaik, pikirnya pahit. Ia telah menorehkan luka terlalu dalam pada gadis itu. "Jalan aja, Pak," ucapnya pada sopir taksi.


Sesampainya di rumah, sang mama mengomelinya panjang lebar karena pergi lagi tanpa pamit.


"Apa mama harus kunci kamu di kamar supaya gak bisa keluar-keluar? Kamu tidak dengar? Dokter bilang syaraf penting kamu bisa kena kalo kamu kumat lagi. Kamu bisa lumpuh atau koma atau bahkan meninggal, Kevin!"


Kevin hanya duduk diam dengan pandangan kosong. Melihat itu Henny menghela napasnya.


"Sudahlah lupakan perempuan itu. Dia sudah punya Randy. Turuti mama, kita obati pendarahan kamu di Singapore ya, Nak?"


"Terserah Mama aja."


Henny tidak menyangka putranya akan langsung setuju. Ia tidak menyia-nyiakan waktu lagi.


"Kalau begitu mama mau minta dokter supaya mempersiapkan prosedur medis buat kamu berangkat ke Singapore." Henny menghampiri putranya yang masih tampak tak bernyawa. "Mama senang akhirnya kamu sadar perempuan itu tidak baik buat kamu."

__ADS_1


Kevin menggeleng pelan. "Bukan dia yang gak baik buat aku. Aku yang gak cukup baik buat dia, Ma ...."


Hari itu untuk pertama kalinya Henny menyaksikan putranya menangis pilu karena seorang gadis. Ia ikut merasa sakit. Namun hatinya terlalu keras untuk mengalah. Baginya ini adalah jalan terbaik. Ia yakin Kevin akan dapat melupakan Jeany dan menemukan pengganti yang lebih baik.


__ADS_2