Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Aku Janji Akan Selalu Bantu Kamu


__ADS_3

Mengingat waktu yang sudah larut malam, tadinya Jeany mengira Kevin akan mengajaknya ke kafe tidak jauh dari rumah laki-laki itu. Namun, Kevin ternyata mengajaknya ke ujung Jakarta Utara, ke sebuah kafe yang memiliki pemandangan laut lepas. Saking besarnya, menurut Jeany kafe tersebut juga cocok disebut sebagai restoran.


Mereka duduk di bagian luar kafe, di kursi dekat pagar kayu yang langsung berbatasan dengan laut. Mungkin karena akhir pekan, hingga larut malam kafe tersebut masih ramai. Kevin memilih tempat duduk yang di sebelah kanan dan kirinya tidak ada pengunjung lain.


"Sebenernya lebih bagus ke sini waktu sunset, tapi kita kemalaman banget," ucap Kevin sedikit menyayangkan.


"Gapapa begini juga cantik pemandangannya."


Dan romantis, tambah Jeany dalam hati.


Pemandangan laut lepas di malam hari yang dihiasi lampu-lampu bangunan di kejauhan memberi kesan tersendiri di matanya. Suasana yang berbeda membuat mereka seolah-olah tidak sedang berada di Jakarta.


"Jadi mau mulai dari mana ceritanya?" tanya Jeany tidak lama kemudian.


Kevin tertawa melihat Jeany yang memasang wajah serius. Rupanya atmosfer tenang dan menyenangkan yang tercipta dari hamparan lautan tersebut belum mampu meredakan ketegangan gadis itu.


"Sabar dulu. Kita pesen makan dulu ya," jawab Kevin.


"Oh iya ...." Jeany tersenyum malu.


Kevin kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan. Ternyata menunya sangat bervariasi, tidak melulu hidangan laut. Jeany memilih nasi goreng karena merasa lambungnya tidak nyaman dan harus diisi nasi.


"Yakin nasi goreng? Gak mau nyobain kepiting campurnya?" tanya Kevin menyebutkan nama menu favorit di kafe tersebut. Karena menurutnya kalau mau makan nasi goreng, di rumah juga bisa.


Jauh-jauh diajak ke tempat bagus, masak cuma makan nasi goreng?


Jeany menggelengkan kepalanya. Ia sudah membayangkan repotnya mengeluarkan daging kepiting dari cangkangnya. Kevin tidak memaksa, ia sendiri memilih tenderloin steak. Jadilah mereka berdua makan di tepi pantai tanpa hidangan laut sama sekali.


Dalam diam mereka berdua menunggu datangnya makanan dan minuman yang telah dipesan. Kevin sengaja membiarkan Jeany menikmati suasana yang ada. Matanya tak lepas memandang wajah gadis itu. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat ketika dilihatnya seulas senyuman terbentuk di bibir Jeany.


"Dulu sekali papaku pernah ngajak ke pantai pasir putih," ucap Jeany tiba-tiba. "Tapi waktu itu aku gak suka," lanjutnya kemudian.


"Kenapa gak suka?"


"Soalnya panas banget." Jeany tertawa kecil. "Habis itu papaku bilang lain kali mau ajak ke tempat yang sejuk biar aku senang. Tapi gak pernah kesampaian."


"Kenapa?" Kevin agak kesal pada dirinya yang tidak bisa berkata lain selain menanyakan kenapa.


"Papaku keburu gak ada."


"Oh. Sorry."


Jeany menggeleng.


"Udah lama banget kok. Udah 10 tahun yang lalu."

__ADS_1


"Oh? Tapi bukannya adik kamu baru umur 8 tahun?"


Jeany cukup terkejut karena ternyata Kevin tidak melupakan percakapan ringan mereka yang ketika itu dilakukan sambil makan.


"Dia adik tiri."


Kevin tertegun. Wajah Jeany yang semula sendu berubah menampakkan kebencian.


"Apa ... apa kamu ada masalah sama adik kamu?" tanya Kevin perlahan.


Jeany tersenyum pahit.


"Sejak dia ada, mamaku gak pernah memperhatikan aku lagi. Wajar kan kalo aku benci dia?" tanya Jeany sambil melihat langsung ke mata Kevin.


"Errr .... Mungkin mama kamu kerepotan mengurus bayi, jadi kamu merasa kurang diperhatikan," jawab Kevin berhati-hati.


"Iya mungkin." Jeany berkata sambil tersenyum tipis.


Mereka berhenti berbincang karena minuman yang dipesan telah tiba. Jeany yang merasa tenggorokannya tiba-tiba kering, berkonsentrasi menikmati minumannya. Kevin juga sejenak bermain-main dengan minumannya. Ia mengaduk-aduk isi di dalam gelas tanpa meminumnya, seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Kok cuma diaduk-aduk minumannya?" tanya Jeany


"Jean, apa orang tua kamu sekarang udah gak biayain kamu?" Kevin malah balik bertanya.


"Engga. Papa tiriku bangkrut. Mamaku sampai jual mobil peninggalan papaku."


Jeany mengangguk.


"Dulu di parkiran SMA kita sering banget papasan. Tapi kamu sombong gak pernah nyapa." Kevin tertawa mengenang masa SMA mereka. Bisa jadi salah satu tempat ia paling sering bertemu dengan Jeany selain di kelas adalah di tempat parkir.


"Kita gak akrab waktu itu. Aneh aja kalo aku tiba-tiba nyapa. Kamu juga gak pernah nyapa," balas Jeany.


"Kalo gitu kita sama-sama sombong hehehe ... Ngomong-ngomong kamu kok bisa SMA di Jakarta? Maksudku di Surabaya kan sekolah udah bagus, beda ama kotanya Randy."


"Di kota ini papa meninggal dan dimakamkan. Lagian aku cuma pengganggu di keluarga baru mamaku, jauh dari mereka seperti ini yang terbaik buat semua."


"Ah. Kapan terakhir kali kamu ketemu mamamu?"


"Dua tahun yang lalu."


"Udah lama ya."


"Dia bilang hasil penjualan mobil mau dibagi dua, buat sekolah adikku dan biaya kuliahku. Tapi aku cuma dibohongi."


Lagi-lagi Kevin melihat sorot mata penuh kebencian itu.

__ADS_1


"Kamu udah coba bicara sama mama kamu?"


"Buat apa? Dia udah gak peduli sama aku. Apa dia gak mikir gimana aku bertahan hidup di Jakarta tanpa kiriman uang dari dia? Sekadar telpon tanya kabar aja gak pernah!" jawab Jeany sedikit terbawa emosi.


"Enggalah, Jean. Mana ada ibu yang gak sayang sama anaknya?"


Jeany tiba-tiba tertawa sumbang.


"Kamu mau bukti kalo dia gak sayang aku? Gak lama setelah jual mobil, dia ajak aku ke notaris. Aku diminta tanda tangan untuk persetujuan penjualan tanah papaku. Tadinya aku gak mau karena takut kejadiannya seperti waktu jual mobil. Tapi aku mau kasih dia kesempatan. Lagian aku juga lagi butuh banget uang."


Melihat Jeany yang hingga saat ini masih kesulitan, Kevin dapat menebak cerita selanjutnya. Ia sungguh sulit mempercayai ada ibu yang bisa bersikap seperti itu terhadap putri kandungnya.


"Jadi sekarang kamu bener-bener putus kontak dari mama kamu?"


"Iya."


Kevin dapat melihat betapa kebencian mampu mengubah seseorang yang biasanya lembut menjadi keras hati. Sering dikecewakan membuat Jeany terjebak dalam kebencian yang tidak berujung. Pemuda itu sungguh takut suatu hari akan mengecewakan gadis itu dan dibenci olehnya.


"Jean, aku janji akan selalu bantu kamu. Kamu harus bilang ya soalnya aku kadang gak peka orangnya."


"Iya."


Ketika makanan datang, keduanya langsung menyantap makanan tersebut karena sudah sangat lapar. Tidak ada lagi yang berkata-kata. Tiba-tiba Kevin meletakkan satu potong besar daging steak ke atas piring Jeany.


"Cobain, enak banget deh," kata Kevin antusias.


Jeany memasukkan potongan daging steak tersebut ke dalam mulutnya. "Iya enak banget," ucapnya sepakat.


"Betul kan? Aku kira kafe ini cuma jual pemandangan aja, ternyata makanannya juga enak. Boleh nih lain kali ke sini lagi."


"Ini pertama kalinya kamu ke sini?"


"Iya. Aku memang udah lama pengen ajak Stevi ke sini, tapi malah kamu duluan yang aku ajak hehe ...." Kevin merasa benar adanya pepatah yang mengatakan manusia merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan.


"Kan masih ada banyak waktu buat ajak Stevi," ucap Jeany menahan rasa cemburu yang menyeruak di hatinya.


Cemburu? Sadar, Jeany kamu gak ada hak buat cemburu. Kamu bukan siapa-siapa dia.


Tanpa sadar Jeany menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghalau pikiran buruk yang muncul tanpa permisi.


"Kamu kenapa?" tanya Kevin heran.


"Eh? Gapapa kok cuma sedikit dingin aja," jawab Jeany berbohong.


"Oh. Aku ke toilet bentar ya." Kevin memberitahu Jeany.

__ADS_1


Pemuda itu meninggalkan ponselnya di atas meja, yang tidak lama kemudian berdering menunjukkan nama Stevi sebagai pemanggil. Jeany sesaat merasakan godaan untuk mengangkat panggilan tersebut.


__ADS_2