Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Memang Tidak Pernah


__ADS_3

Kevin merasa dirinya mendapat hukuman karena telah membohongi Stevi. Hari sebelumnya ia berdusta, mengatakan dirinya sedang tidak enak badan sehingga tidak dapat pergi ke rumah gadis itu. Siapa sangka pagi ini ia benar-benar sakit.


Tidak ada maksud dirinya untuk berbohong. Ia hanya butuh waktu untuk merenung setelah membuat keputusan yang sangat egois. Walau prinsipnya membuatnya ingin setia, ia tak dapat menyangkal hatinya yang telah memilih Jeany.


Pemuda itu kembali merasakan mual. Setelah puas muntah, ia duduk untuk beristirahat sebentar sembari memikirkan penyebab muntah-muntahnya pagi itu. Peluh bermunculan di dahinya. Ia memutuskan membuat teh panas untuk dirinya sendiri dan memakan biskuit, seperti yang diberikannya pada Jeany ketika mengalami hal yang sama.


Pasti gue ketularan Jeany nih, gumamnya sambil tersenyum memikirkan gadis itu. Tentu saja ia tahu bahwa mual dan muntah tidak menular. Ia hanya sedang ingin menyebut nama gadis itu saja. Kevin ingin sekali menelepon Jeany agar datang, ingin dimanja oleh gadis itu dalam keadaan sakit seperti ini. Namun ia harus menahan diri karena gadis itu tidak ingin dekat dengannya sebelum ia benar-benar putus dengan Stevi.


Kevin mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan dengan kesal. Mengapa kehidupan percintaan demikian rumit, keluhnya. Ia memang tidak berlama-lama menggantung Jeany dengan perasaannya, tetapi bagaimana dengan statusnya? Dan bagaimana pula cara putus dengan Stevi tanpa menyakiti gadis itu? Sambil menekan rasa frustrasinya pemuda itu berjalan ke kamar untuk kembali tidur, berharap setelah tidur mual-mualnya akan hilang.


***


Matahari telah bersinar terik ketika Stevi memutuskan untuk menghubungi Kevin. Ia sangat mencemaskan keadaan kekasihnya yang sakit sejak kemarin.


"Halo, Stev?" terdengar suara Kevin sedikit parau.


"Gimana keadaan kamu, Yang? Udah baikan?"


"Udah gak muntah, tinggal lemesnya aja."


"Kamu udah makan? Udah minum obat?"


"Belum, aku baru bangun."


"Aku ke sana ya?"


"Gak usah, aku udah baikan kok. Kamu kan masih sibuk pindahan."


"Ya udah kalo gitu. Cepat sembuh ya, Yang."


"Iya."


Stevi mengakhiri panggilannya dengan perasaan gundah. Bahkan hingga detik ini Kevin belum memberi panggilan sayang padanya. Ia ingin hubungannya dengan Kevin semakin kuat agar tidak ada celah bagi perempuan lain untuk masuk di antara mereka.


Namun bagaimana hubungan mereka bisa erat bila banyak hal yang tidak diketahuinya tentang diri Kevin? Apartemennya saja ia tidak tahu di mana. Penasaran dengan apartemen sang kekasih, ia pun menelepon Randy dan sahabat-sahabatnya untuk menjenguk Kevin di apartemennya.


Apa daya, tidak semua rencana berjalan sesuai yang diinginkannya. Stevi harus meredam kesal karena Randy ternyata juga ingin mengajak Jeany. Kini ia, Devi, Sandra, Randy, dan Johan berada di mobil milik Randy yang sedang dalam perjalanan menuju rumah kos Jeany. Belum sampai di tempat tujuan, mereka melihat gadis itu berjalan kaki di bawah teriknya matahari. Randy pun menghentikan mobilnya di samping gadis itu.


Randy turun dari mobilnya dan menyapa gadis itu. "Jean! Dari mana?"


Jeany terkejut melihat pemuda itu. "Randy? Gue dari kampus."


"Sekarang gak ada kesibukan kan?"


"Engga sih."


"Ikut gue yuk?"


"Ke mana?"


"Ntar lo juga tahu."


"Engga deh daripada gue diapa-apain sama lo."


"Hehehe lo sekarang udah bisa becanda ya!" Randy mencubit kedua pipi Jeany dengan gemas.


"Gue serius." Gadis itu menampik tangan Randy.


"Jangan takut, Jean, ini rame-rame kok." Randy melihat ke arah mobilnya.


Johan yang duduk di kursi depan menurunkan kaca jendela mobil dan menyapa Jeany. "Hai, Jean! Hao Jiu Bu Jian a!" ucapnya sambil tersenyum lebar.


Jeany hanya memandangnya bengong.


"Gak usah diladenin, dia lagi kerasukan arwah Cu Pat Kay!" ujar Randy meledek sahabatnya.


"Keknya lo yang lebih cocok jadi Cu Pat Kay, secara lo yang doyan maen cewek," jawab Johan tak mau kalah.


Randy tersenyum manis pada Jeany. "Itu dulu, Babe. Sekarang tubuh dan hati ini cuma milik lo seorang," bisiknya membuat Jeany merinding di sekujur tubuh.


"Jean, kasihanilah sohib gue ini. Siang malam dia mikirin lo. Belom pernah dia kayak gini sama cewek." Johan menimpali lagi.

__ADS_1


Devi yang kesal melihat dua pemuda itu sibuk merayu Jeany akhirnya juga menurunkan kaca jendelanya. "Lo mau ikut gak sih, Jean? Jangan bikin orang satu kampung nungguin lo deh!"


"Astaga Devi .... Belum juga nyampe lo udah ngajak perang," tegur Sandra sambil menyikut pinggang sahabatnya.


"Habis sok cantik banget minta dirayu dulu baru mau pergi!"


Devi sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh Jeany. Sedangkan Stevi, gadis itu hanya diam dengan pikiran menerawang. Ia sedang bertanya-tanya mengapa Jeany hari itu pergi ke kampus.


Jeany jadi tidak enak hati ditunggu banyak orang seperti itu. Ia terpaksa mengiakan ajakan Randy, yang segera membuka pintu di samping Johan.


"Lo pindah! Calon bini gue mo duduk situ!"


"Hahaha ngimpi di siang bolong, Bang? Jadi pacar aja belom tentu diterima!" ledek Johan tanpa mau beranjak dari tempatnya.


"Gue duduk belakang aja, Ran."


Jeany membuka pintu tengah mobil. Ia langsung berhadapan dengan tiga orang perempuan yang sedang melihatnya dengan tatapan berbeda-beda. Namun yang paling mengena di hati Jeany adalah tatapan Devi yang penuh kebencian padanya.


"Ayo geser geser ...." Sandra yang duduk diapit oleh Stevi dan Devi itu sibuk menyuruh kedua sahabatnya memberi tempat untuk Jeany.


"Huh!" Devi mendengus keras. Ialah yang harus duduk di sebelah gadis yang dianggapnya berusaha merebut kekasih sang sahabat. Jeany berpura-pura tidak mendengar.


Saat mobil yang dikemudikan Randy semakin mendekati gedung apartemen Kevin, gadis itu mulai gelisah. Apalagi pemuda itu memang tidak sedang berada di antara mereka. Pipinya tiba-tiba terasa panas. Ia masih sulit mempercayai kejadian di apartemen Kevin. Hampir saja kemarin mereka melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.


"Lo aja yang telpon dia, Han! Tapi jangan bilang kita semua ikut, biar kaget dia," kata Randy setelah mereka berada di lobi apartemen.


"Beres!" Johan menjawab sambil mengedipkan matanya pada Randy.


Sementara itu, Kevin yang baru selesai mandi merasa tubuhnya jauh lebih segar. Ia tak lagi mual. Mungkin cuma masuk angin, pikirnya. Ia bersiap-siap untuk keluar mencari makan ketika ponselnya berdering.


"Halo, Bro?" jawabnya pada orang yang menelepon.


"Halo, Vin. Jemput gue di lobi ya!"


"Ha? Lo lagi di apartemen gue?" tanya Kevin terkejut.


Johan langsung mematikan ponselnya. Kening Kevin berkerut. Ia tidak siap menerima tamu di saat seperti ini. Bagaimana pula Johan bisa tahu bila ia sedang berada di apartemen? Seingatnya hanya Stevi yang tahu karena tadi gadis itu meneleponnya. Perasaannya mulai tidak enak. Ia melihat sekeliling apartemennya, memeriksa bila ada hal mencurigakan yang harus disingkirkan.


"Lo datang ama cecunguk ini?" Kevin masih tidak senang dengan ulah Randy yang kemarin mengerjainya.


"Weittss udah sehat nih kayaknya, udah galak," kata Randy sambil menyeringai.


Johan terkekeh melihat kedua sahabatnya saling meledek. "Lo sakit apa, Vin?" tanyanya.


"Cuma mual muntah."


Terdengar tawa tertahan Randy mendengar sakit yang diderita sahabatnya.


Kevin mengabaikan Randy. "Kalian tahu dari Stevi?" tanyanya pada Johan.


Namun Randy tidak merasa diabaikan. Ia yang menjawab pertanyaan Kevin. "Yoi. Kita ke sini bawain vitamin biar lo cepet sembuh."


"Buruan kasih vitaminnya trus pulang," jawab Kevin ketus.


Vitamin yang dimaksud oleh Randy itu pun memunculkan dirinya dengan senyum manis di wajah. "Yang, kamu udah baikan?"


Stevi menghampiri Kevin dan mengecup pipi pemuda itu. Tidak lama kemudian terlihat teman-temannya yang lain. Namun yang paling mengejutkan Kevin adalah Jeany juga berada di antara mereka. Gadis itu berdiri dengan kepala tertunduk, merasa canggung untuk menatap Kevin.


Stevi masih menunggu Kevin melakukan hal yang sama dengannya. Diam-diam Kevin melirik ke arah Jeany, tetapi gadis itu seperti sedang asyik melihat ke arah lain. Pemuda itu akhirnya mengecup pipi sang kekasih. "Udah baikan kok," jawabnya kemudian.


"Aku udah masakin kamu bubur." Stevi berkata sambil menunjukkan rantang yang sedang dipegangnya.


"Ngapain repot-repot gini?" ucap Kevin merasa tak enak.


"Gak repot kok. Masak pacar sakit gak ditengokin?"


Jeany merasa buruk karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk Kevin. Pemuda itu bahkan tidak mengabarinya bila sedang sakit. Namun ia harus menerima dengan hati lapang, karena ia sendiri yang meminta untuk menjaga jarak di antara mereka.


"Vitamin udah diantar dengan selamat. Kami pulang dulu ya, Vin," ucap Randy bermaksud menyindir.


"Eh eh tunggu dulu! Tadi gue cuma becanda hehe .... Masak udah jauh-jauh datang gak mampir?" ajak Kevin cepat-cepat karena ia tidak ingin ditinggal berdua saja dengan Stevi.

__ADS_1


"Yang penting lo sedia duit buat bayar makan siang kita. Gue cuma bawa snack, soda ama kartu remi."


"Lo ke sini mau pesta apa mau nengokin gue?"


"Mau lihat apartemen lo setelah sebulan lebih gak ke sini. Kayaknya terakhir ke sini sebelum kita ke-"


"HAHAHAHA iya ya kenapa lo gak pernah ke sini lagi!"


Kevin terpaksa tertawa keras-keras untuk menutupi suara Randy yang hampir membocorkan rahasianya. Ia langsung menyeret sahabatnya itu berdiri dan berjalan ke arah lift, diikuti oleh teman-teman mereka yang hanya bisa saling berpandangan bingung.


"Tujuan lo apa sih ngungkit-ngungkit masalah club malam?" bisik Kevin geram.


"Hahaha gue gak maksud ngungkit, cuma gak sengaja keceplosan ...," jawab Randy dengan cengiran lebar tanpa rasa bersalah, membuat Kevin semakin sebal melihat wajahnya.


"Lama-lama gue tonjok juga lo!"


"Hahahaha!" Bukannya takut, Randy malah tergelak mendengar ucapan Kevin.


"Kalian akur banget ya, tiap ketemu ketawa terus," sahut Stevi yang cepat-cepat menyusul di belakang mereka sambil tersenyum.


"Hehe jangan jealous gitu lah, Stev. Nih gue balikin Kevin ke lo. Gue kan udah ada babe Jeany." Randy menghampiri Jeany yang berjalan paling belakang dan melangkah di samping gadis itu.


"Oh iya kamu kok bisa ikut ke sini, Jean?" tanya Kevin seolah tidak ada apa-apa di antara mereka.


"Bisa lah kan gue yang ajak." Randy yang menjawab dengan penuh percaya diri.


Kevin sekilas melihat ke arah Jeany, tetapi lagi-lagi gadis itu melihat ke arah lain. Apa dia marah? tanyanya dalam hati.


"Ayo masuk, jangan sungkan-sungkan," ucap Randy pada teman-temannya saat tiba di apartemen Kevin, tanpa merasa malu pada pemilik asli apartemen.


"Wah rapi juga apartemen lo, Vin!" puji Johan takjub. Ini memang pertama kalinya Johan mengunjungi apartemen Kevin, karena ia langsung bertolak ke Beijing setelah lulus SMA.


Stevi, Devi dan Sandra masih melihat-lihat sekeliling unit apartemen milik Kevin. Stevi sangat senang bisa mengunjungi apartemen kekasihnya. Ia menggandeng tangan Kevin dan menyuruhnya duduk di sofa. "Ayo makan dulu buburnya, mumpung masih sedikit hangat."


"Oh iya ...."


Semua orang ikut duduk di sofa yang memang pas untuk menampung tujuh orang itu. Stevi membuka tutup rantang dan menyendok bubur tersebut, berniat menyuapi Kevin.


"Aku bisa makan sendiri, Stev," tolak Kevin halus.


"Hehe kamu malu ya? Ngapain malu? Orang disuapin pacar sendiri."


"Iya gak usah pura-pura lo, Vin. Kalo gak ada orang aja pasti lebih dari suap-suapan." Lagi-lagi Randy membuat Kevin geram.


Stevi terlihat tersipu malu, membuat orang-orang berpikir hal yang sama dengan Randy.


"Kalian biasa ciuman di mana?"


"Uhuuukkk!"


Pertanyaan Devi yang sangat terus terang itu membuat Kevin tersedak oleh bubur yang baru sesuap dimakannya.


"Deviii .... Apaan sih ...." Dengan wajah merona Stevi menegur sahabatnya.


"Ngapain malu sih? Udah pada ngerti juga. Sekarang mana ada orang pacaran gak pernah ciuman!"


"Iya tapi kan gak usah diperjelas juga di mana ...," elak Stevi.


"Ya pasti di rumah Stevi lah, Dev. Gitu aja pake ditanya," bisik Sandra pada Devi tetapi masih dapat didengar oleh semua orang yang ada di sana.


Jeany hanya dapat menabahkan hatinya mendengar obrolan mereka. Sejak awal ia memang meragukan ucapan Kevin. Mana mungkin pemuda itu tidak tergoda untuk mencium pacar secantik Stevi?


"Memang gak pernah ciuman kok."


Tiba-tiba Kevin memberi pernyataan mengejutkan. Baru saja ia meminta Jeany untuk menunggunya hingga ia dapat memberi kejelasan status. Kevin tidak ingin gadis itu salah paham padanya dan semakin menjauh.


"Sayang, kamu kok gak ngaku gitu sih? Aku gapapa kok kalo mereka tahu, kan temen-temen sendiri."


Stevi melihat ke arah Kevin dengan pandangan memohon. Ia akan malu sekali, terlihat seperti kekasih yang tidak diinginkan bila semua orang tahu Kevin hanya pernah menggandeng tangannya. Bahkan untuk berpelukan pun harus dirinyalah yang berinisiatif memulai. Tatapan Stevi membuat Kevin merasa dilema. Diam-diam Randy memperhatikan dengan senyum puas.


"Vin, aku pinjam toilet ya." Jeany tidak tahan lagi mendengar percakapan tersebut. Ia memilih melarikan diri. Kevin hanya mengangguk. Ia sangat mengerti perasaan gadis itu.

__ADS_1


Jeany berjalan tanpa ragu menuju toilet yang pernah dimasukinya itu. Ia tidak menyadari langkah pastinya telah menimbulkan pertanyaan di benak seseorang yang sangat membencinya.


__ADS_2