
Tiga orang sahabat baru saja tiba di terminal kedatangan internasional Bandara Soekarno Hatta. Ya, Devi dan Sandra juga memutuskan tidak melanjutkan liburan mereka di Singapura. Karena tanpa Stevi, suasana liburan tak lagi menyenangkan.
"Kenapa lo gak minta Kevin jemput, Stev? Dia pasti seneng banget kalo tau lo hari ini pulang," tanya Devi ketika mereka sedang menunggu taksi bandara yang akan mengantar mereka ke rumah masing-masing.
"Gue mau kasih surprise," jawab Stevi sambil merekahkan senyumnya. Sorot matanya penuh tekad dan kepercayaan diri. Kali ini, ia tidak akan kecolongan lagi.
Sesampainya di rumah, Stevi mendapati mamanya sedang menerima tamu. Dua orang laki-laki dengan pakaian formal khas pekerja kantor duduk di ruang tamu. Ada banyak berkas di atas meja. Mereka terlihat sedang mendiskusikan sesuatu yang sangat penting.
"Selamat siang. Ma, aku pulang."
Vira mengangkat kepalanya yang tadi menunduk karena membaca selembar kertas di tangannya. Dua orang tamu laki-laki tersebut juga melihat ke arah Stevi. Ada tatapan kagum yang terpancar karena melihat kecantikan putri pemilik rumah tersebut.
"Stevi? Kok mau pulang gak kasih kabar? Seingat mama minggu depan kamu baru pulang?"
"Iya udah kangen Mama. Jadi ya pulang aja," jawab Stevi setelah mencium pipi mamanya.
"Kangen mama apa kangen Kevin?"
"Ah Mama ...."
Vira melihat dengan tatapan penuh kasih sayang pada putrinya yang sedang tersipu malu itu. "Kamu sudah makan?"
"Udah, Ma tadi di bandara."
"Ya sudah kamu istirahat dulu. Mama masih ada tamu ini. Nanti mama susul ke atas."
Stevi tersenyum sopan sambil menganggukkan kepala pada kedua tamu laki-laki tadi, lalu berjalan menuju lantai dua tempat kamarnya berada. Samar-samar ia dapat mendengar suara salah seorang dari mereka.
"Kami menyarankan Bu Vira untuk mengambil KPR."
KPR? Apa mama mau beli rumah? Ah udahlah gak usah dipikirin ....
Gadis itu meletakkan tasnya di lantai dan merebahkan tubuh di atas ranjang. Rasa lelah di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa lelah di hatinya. Ia harus menahan cemburu hebat yang muncul seketika setelah melihat foto kekasihnya sedang berbisik mesra dengan perempuan lain. Dan perempuan itu terlihat berbeda. Ia begitu cantik di foto tersebut.
Stevi mengeluarkan ponsel dan menghubungi kekasihnya.
"Halo, Yang. Ayo kita ketemuan hari ini."
***
Kevin mengambil alih Enzo dari pelukan Jeany. Bayi lucu itu sedang rewel karena mengantuk dan ingin didekap dalam pelukan. Jeany sudah cukup lama menggendongnya, tetapi Enzo yang sudah terlelap selalu menangis ketika diletakkan di atas ranjang, seakan tahu ia sudah tidak berada lagi dalam buaian Jeany.
"Aku yang gendong Enzo sampai Stevi datang ya, biar kamu gak capek."
Jeany terkesiap. "Stevi mau datang?"
"Iya. Aku juga kaget, soalnya harusnya minggu depan dia baru pulang," ucap Kevin dengan wajah senangnya.
"Oh. Pantas kamu udah ganti baju keren banget."
__ADS_1
"Emang kalo pake baju rumahan aku gak keren?"
"Kamu gak pake baju pun keren kok."
Jeany langsung menutup mulutnya yang kelepasan bicara. Sungguh memalukan. Bisa-bisanya ia mengeluarkan perkataan yang membuatnya terdengar seperti perempuan mesum? Untung Enzo sedang tidur. Jika tidak, entah pengaruh buruk apa yang ia berikan pada bayi lucu itu. Tapi memangnya bayi sekecil itu sudah mengerti apa yang dibicarakannya? Dalam waktu singkat Jeany sudah memikirkan begitu banyak hal.
"Jeany .... Aku gak nyangka ternyata kamu kayak gitu ...." Kevin berpura-pura merasa dilecehkan dan mengambil jarak aman dari gadis itu.
"Vin, a-aku gak kayak gitu ...." Jeany mencoba menjelaskan. Warna wajahnya terlihat satu tingkat lebih pasi.
"Gak kayak gitu gimana? Jelas-jelas tadi kamu bilang aku keren kalo gak pake baju."
"Aku gak bilang gitu! Aku bilang, kamu gak pake baju pun keren."
Lagi? Ingin rasanya Jeany membenamkan dirinya ke dalam sebuah lubang.
"Hahaha .... Baru gitu aja kok udah pucat sih?"
Melihat wajah Jeany, Kevin jadi tidak tega menggodanya lebih lanjut. Gadis itu benar-benar malu, terlihat dari wajahnya yang kini sangat memerah. Perempuan memang aneh, pikir Kevin. Sebentar wajahnya pucat, sebentar kemudian merah merona.
"Tapi aku senang kamu udah bisa jadi diri kamu yang sebenarnya di depanku," ucap Kevin tulus, merasa upayanya untuk menjadi sahabat Jeany selama ini tidak sia-sia.
"Ta-tapi sumpah diri aku yang sebenarnya gak kayak gini." Jeany masih berusaha menjelaskan dengan panik.
Kevin ingin tertawa namun ditahannya karena tidak ingin membuat Jeany semakin malu. Ia lantas berjalan ke dalam kamar Enzo dan meletakkan bayi itu di tempat tidurnya dengan hati-hati. Beruntung kali ini keponakannya itu tidak terbangun. Pemuda itu lalu berjalan ke depan kamar, tempat Jeany masih berdiri mematung.
"Oh. Berarti yang kamu omongin ke Randy dulu bener. Selama ini kamu memang anggap aku ngebosenin ...." Jeany berkata lirih.
"Eh? Gak gitu juga sih ...." Kevin mulai menggaruk kepalanya.
"Iya aku tahu aku kaku dan membosankan." Jeany bicara sambil menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Jeany, gak gitu! Dengerin aku!" Kevin langsung merengkuh bahu Jeany dan memaksa gadis itu mengangkat wajahnya.
"Ahahaha ...."
Kevin yang mengira akan melihat wajah sedih Jeany, malah mendapati gadis itu tertawa geli karena berhasil mengerjainya. Mau tidak mau ia jadi ikut tertawa. Padahal tadinya ia cemas setengah mati karena mengira telah membuat gadis itu sedih.
"Awas kamu ya!"
Kevin berancang-ancang ingin menggelitik Jeany, membuat gadis itu melarikan diri menuruni tangga. Kevin jadi terpingkal-pingkal dibuatnya. Ia hanya berpura-pura tadi, tidak disangka reaksi Jeany bisa demikian heboh. Ia pun segera menyusul Jeany.
"Hahahaha .... Aduh perutku sakit!"
Kevin masih tertawa sambil memegangi perutnya setelah ia sampai di bawah. Namun tawanya terhenti karena melihat Jeany dan Stevi berdiri di hadapannya. Tidak ada tawa lagi di wajah Jeany. Sedangkan Stevi, kekasihnya itu memandanginya dengan wajah sumringah.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu." Stevi langsung menghampiri Kevin dan memeluknya di hadapan Jeany.
"Iya iya aku juga kangen."
__ADS_1
Kevin seakan maklum dengan sikap Stevi. Ia membalas pelukan kekasihnya itu dan mengelus-elus punggungnya. Dari sudut matanya ia melihat Jeany berjalan naik ke lantai atas tanpa suara. Entah mengapa perasaannya jadi tidak enak. Ia segera melepas pelukannya. "Kamu kok gak bilang kalo mau pulang? Kan aku bisa jemput di bandara," tanyanya pada Stevi.
"Aku gak mau ngerepotin kamu. Kan kamu lagi sibuk jaga keponakan."
"Gak repot. Ada Jeany yang bantuin."
"Oh iya mana Jeany? Perasaan tadi masih di sini." Stevi menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan gadis yang membuatnya merasa terancam.
"Udah naik ke atas. Mungkin gak enak ninggalin Enzo lama-lama."
"Oh .... Aku mau lihat Enzo dong! Pasti dia lucu banget ya?"
"Iya nanti ya kalo dia udah bangun. Kamu udah sampe dari tadi? Kok gak ada yang ngasih tau," tanya Kevin dengan kening berkerut.
"Udah, tadi disuruh nunggu ama bibi-bibi gitu di ruangan depan. Tapi karna denger suara kamu ama Jeany, aku jadi lancang masuk ke sini. Sorry ya."
"Gapapa kok. Cuma kok aneh aja Bi Murni gak kasih tau aku."
Tidak lama kemudian orang yang dibicarakan Kevin datang membawakan minuman dan camilan untuk Stevi.
"Bi, kok gak bilang kalo ada Stevi?"
"Tadi saya udah mau bilang, Den. Tapi gak jadi soalnya takut ganggu," jawab Bi Murni apa adanya.
"Takut ganggu gimana?" Kevin semakin tidak mengerti.
"Itu .... Den Kevin sama Non Jeany kayak lagi berantem," jawab Bi Murni takut-takut.
"Orang lagi becanda kok dibilang berantem. Ada-ada aja Bi Murni ini," ucap Kevin sambil menggelengkan kepalanya.
Bi Murni tidak berani membantah. Sebenarnya ia melihat tepat ketika Kevin memegang bahu Jeany, membuat mereka terlihat seperti pasangan dalam sinetron yang sering ditontonnya selepas ia bekerja. Mungkin gaya bercanda anak jaman sekarang memang begitu, pikirnya sambil berjalan kembali ke dapur.
"Minum dulu, Stev." Kevin mempersilakan sang kekasih menikmati suguhan di atas meja.
"Iya. Yang, Jeany kerja sampai jam berapa?" tanya Stevi sambil meminum es sirup yang dibuatkan oleh Bi Murni.
"Jam tujuh."
"Dia biasa pulang naik apa? Nanti aku yang antarin aja, kebetulan aku mau ke kosnya Sandra."
"Hehe gak usah. Dia tinggal di sini."
"Apa? Jadi selama ini dia tinggal di rumah kamu?"
"Iya. Kasihan kalo dia bolak-balik, jadi mamaku minta dia tinggal di sini untuk sementara."
Stevi terdiam dengan rasa panas di hatinya. Ia benar-benar menyesali keputusannya pergi liburan ke Singapura dan memberi kesempatan kekasihnya berdekatan dengan perempuan lain. Akan tetapi sekarang ia akan memperbaiki kesalahannya. Ia harus mencari kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dengan Jeany.
Tolong dukung author dengan like, vote, dan comment ya, Teman-teman 😁😁😁
__ADS_1