
Di panggung tampak sebuah layar besar menampilkan papa dan mama Kevin sedang memberi ucapan selamat ulang tahun pada cucu pertama mereka. Jeany memperhatikan tanpa berkedip. Papa dan mama Kevin tampak begitu serasi dan bahagia, siapa yang akan menyangka keduanya pernah diterpa badai yang hampir menghancurkan rumah tangga mereka.
"Kak Kevin lama banget. Aku kira tadi kenapa-napa di jalan." Terdengar suara Jovina menggerutu pada kakaknya.
"Yang penting kan gak terlambat buat acara utama," jawab Kevin membela diri.
"Emang apa acara utamanya?"
"Makan."
Tania dan Jeany tergelak mendengar jawaban Kevin, tetapi dalam hati membenarkannya. Apalagi Jeany yang memang sedang kosong lambungnya akibat muntah tadi, ia sangat menantikan waktu makan itu tiba. Tania diam-diam melihat ke arah Jeany yang tampak begitu cantik dengan perasaan kagum bercampur iri.
"Kakak gue malu-maluin ya," bisik Jovina pada Tania, tetapi temannya itu malah menggelengkan kepalanya cepat-cepat tanda tidak setuju.
Dasar bucin, Jovina membatin sambil memutar bola matanya.
Karena ini adalah pesta ulang tahun anak, Marvin dan Winda juga turut mengundang anak teman-teman mereka. Dua orang badut telah berdiri di atas panggung untuk menghibur para tamu anak-anak. Setiap anak yang hadir diundang untuk maju ke depan agar dapat bermain bersama sang badut. Tidak sedikit anak-anak yang takut, sehingga harus ditemani orang tua mereka untuk maju ke panggung.
Jeany memperhatikan tingkah lucu anak-anak tersebut dengan perasaan gemas. Ada yang mati-matian tidak mau maju hingga menangis dengan suara memekakkan telinga. Orang tua anak tersebut akhirnya hanya bisa pasrah dan tidak memaksanya untuk maju lagi. Namun ada pula yang justru dengan semangatnya berlari ke depan, seolah sedang mengikuti perlombaan dengan yang terlebih dahulu sampailah yang menjadi juaranya.
Ketika badut sedang memainkan atraksi sulap, Jeany memutar kepalanya melihat sekeliling untuk mencari letak toilet. Namun ia tidak mendapatkan petunjuk.
"Vin, toilet di sebelah mana ya?" Jeany berbicara tepat di telinga Kevin agar suaranya dapat terdengar jelas di tengah riuhnya suara dari atas panggung.
Kevin merasa tergelitik. Sungguh ini pertama kalinya gadis itu berbicara sedekat ini padanya. Ia bahkan dapat mencium harum tubuh Jeany, wangi lembut yang diam-diam ia sukai. Namun tak lama kemudian wajah pemuda itu menunjukkan kekhawatiran. "Kamu mual lagi?" bisiknya di telinga Jeany.
Kegiatan mereka saling berbisik disaksikan oleh Jovina dan Tania. Adik Kevin itu langsung menepuk-nepuk pundak sang teman, memberinya penghiburan.
"Haha engga, cuma mau pipis," jawab Jeany sambil meringis. Teh manis yang tadi ia minum sepertinya menjadi penyebab ia sekarang ingin buang air kecil.
Kevin mengangguk lega. "Kamu jalan lurus aja ke lorong di kanan situ, ntar ada tulisan toilet di situ." Pemuda itu menunjuk ke arah lorong di sebelah kanan mereka.
Jeany meneguk ludahnya. Untuk sampai ke lorong tersebut ia harus melewati beberapa meja. Di tengah keramaian seperti ini, kepercayaan dirinya berada pada titik terendah. Ia takut menjadi pusat perhatian. Dadanya kini bergemuruh kencang karena rasa gugup dan takut menjadi satu. Ingin rasanya ia meminta Kevin mengantarnya ke toilet, tetapi ia tahu hal tersebut justru akan membuatnya terlihat semakin aneh.
Ayo, Jeany. Masak kamu kalah sama anak kecil yang berani jalan ke panggung, ucapnya dalam hati memberi semangat pada dirinya sendiri.
Setelah melakukan ritual menarik dan membuang napas, Jeany memberanikan diri untuk bangkit dari tempat duduknya dan berjalan dengan langkah setenang mungkin. Ketika berjalan, ia merasa seluruh orang yang ada di ruangan tersebut tengah memandang ke arah dirinya. Gadis itu berharap itu hanya perasaannya saja.
__ADS_1
Jeany baru benar-benar merasa lega setelah berada di dalam toilet. Ia segera menuntaskan urusannya. Ketika mencuci tangannya di wastafel, seorang gadis cantik menyapanya.
"Halo. Lo anak UPJ kan?" UPJ merupakan singkatan dari nama universitas tempat Kevin dan Jeany terdaftar sebagai mahasiswa.
Jeany menoleh dan melihat Giselle, gadis yang dulu cintanya ditolak oleh Kevin. "Oh halo. Iya anak UPJ," jawabnya singkat.
"Ternyata lo deket sama Kevin ya."
"Biasa aja."
"Jangan bohong. Tadi gue lihat kalian jalan sambil pegangan tangan. Apa Stevi tahu?"
Jeany mendesah dalam hati. Entah apa mau Giselle mengajaknya berbicara seperti ini.
"Baju lo bagus banget. Beli di butik mana?" Giselle terus mengajaknya berbicara.
"Ini .... Kak Winda yang minjemin." Walau sempat ragu-ragu sejenak, Jeany memutuskan untuk menjawab dengan jujur.
Terlihat Giselle menaikkan alisnya yang telah dibentuk dengan sempurna itu. Wajah cantiknya melihat Jeany dengan tatapan aneh. "Oh? Baju pinjeman?"
"Iya. Gue duluan ya." Jeany ingin segera menjauh dari Giselle. Ia dapat melihat gadis itu memandang rendah dirinya.
"Gue gak tahu."
"Sebenernya lo punya hubungan apa sih sama Kevin?"
Mendengar pertanyaan lancang Giselle, Jeany sangat ingin menjawabnya dengan ketus. Namun ia menahan dirinya, tidak ingin sampai membuat kegaduhan dan mempermalukan Kevin dan keluarganya.
"Sahabat."
Sahabat? Giselle mendengus dalam hati. Bahkan dengan hubungan dekat kedua orang tua mereka, Kevin tidak pernah memberikannya kesempatan untuk dekat walau sebagai seorang sahabat. Karena itulah ia yakin hubungan Kevin dan Jeany lebih dari sebuah persahabatan. Ia sungguh tidak terima.
Gue kalah dari cewek ini? Rasa sakit hatinya semakin menjadi-jadi pada laki-laki yang penolakannya telah menyebabkannya menjadi bahan olok-olok di kampus itu.
"Oh ternyata cuma sahabat. Tadinya gue heran bisa-bisanya Om Alan sama Tante Henny menyetujui hubungan kalian," kata Giselle dengan senyuman sinis.
"Apa maksud lo?" Jeany mulai terpancing.
__ADS_1
"Maksud gue, mana mungkin mereka merestui putra mereka pacaran ama cewek yang gak sepadan statusnya?"
Jeany mengepalkan jemarinya. "Kenapa gue gak sepadan sama Kevin?"
"Ckck ... Lo gak tahu keluarga Kevin tuh punya perusahaan? Kevin bahkan udah disiapin buat nerusin perusahaan yang sekarang masih dipegang Om Alan. Sedangkan lo?"
Jeany terperanjat. Selama ini dikiranya papa Kevin bekerja di sebuah perusahaan dengan jabatan tinggi. Ia tidak menyangka keluarga Kevinlah pemilik perusahaan tersebut. Namun ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Giselle.
"Lo gak bisa menilai seseorang dari harta," ucap Jeany tegas.
Tiba-tiba Giselle tertawa mencemooh. "Gue bosen tau gak lihat orang miskin sombong. Munafik. Padahal kalo dikasi duit banyak juga gak nolak!" ucapnya penuh dendam.
Giselle teringat pada salah satu mantan kekasih yang ternyata hanya ingin mengeruk kekayaannya. Anggap saja hari ini Jeany sedang sial karena menjadi tempat pelampiasan segala rasa sakit hati Giselle.
"Terserah lo. Gue juga bosan lihat orang kaya sombong."
Jeany berjalan meninggalkan Giselle, sekalipun masih terdengar kata-kata terakhir gadis itu menghina Jeany.
"Lo pasti ngedeketin Kevin karena mau duitnya kan? Kalo lo cewek baik-baik harusnya lo sadar akan status lo! Jangan menggoda pacar orang!"
Walaupun di hadapan Giselle ia bersikap seolah tidak terpengaruh, dalam hati Jeany merasa hancur. Ia sadar kata-kata Giselle tadi tidak sepenuhnya salah. Ia memang tidak sepadan dengan Kevin.
Jeany berjalan kembali ke meja dengan langkah lesu. Ia bagai kehilangan separuh nyawanya. Ia bahkan tidak merasa gugup lagi walaupun harus berjalan melewati begitu banyak orang. Kata-kata Giselle terus terngiang di benaknya. Dari jauh ia dapat melihat Kevin yang sedang menonton lawakan badut itu tertawa, memperlihatkan gigi putih yang membuatnya terlihat semakin memesona.
Ketika Jeany telah duduk di sebelahnya, Kevin segera menginterogasinya. "Jean, kamu gapapa kan? Apa tadi muntah lagi?"
"Gapapa kok."
"Kalo gak muntah kenapa lama banget? Sakit perut ya?" Kevin setengah menggoda Jeany.
Jeany yang sedang tidak ada hati untuk bercanda hanya menatap Kevin datar. "Tadi ketemu Giselle di toilet. Jadi ngobrol bentar."
"Giselle?" Kening Kevin berkerut, berusaha mengingat siapa pemilik nama tersebut.
"Yang dulu kamu tolak."
"Oh. Hampir aku lupa. Iya dia anaknya temen papa mamaku. Pasti keluarganya juga diundang. Tapi emang kalian saling kenal ya?"
__ADS_1
Jeany hanya menggeleng kemudian berpura-pura sibuk melihat ke arah panggung agar Kevin tidak menanyainya lagi. Ia sedang malas bicara. Cara tersebut berhasil.
Tanpa mereka sadari, Jovina diam-diam mengambil foto mereka ketika sedang berbicara begitu dekat. Awalnya ia hanya ingin menunjukkan ke teman-temannya yang selama ini menjadi pengagum rahasia Kevin. Membayangkan reaksi patah hati teman-temannya saja sudah membuatnya ingin tertawa. Tiba-tiba membersit sebuah ide lain.