Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Yang Ketiga


__ADS_3

Pelaminan berdekorasi mewah menjadi tempat sepasang pengantin duduk berdampingan dengan wajah bercahaya. Lebih tepatnya mempelai laki-laki yang sepertinya tidak pernah lelah mengembangkan senyum di acara resepsi pernikahan mereka.


Jeany memperhatikan wajah laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya itu. Setelan jas pengantin berwarna abu tua membingkai sempurna tubuh tinggi Kevin. Laki-laki itu memancarkan aura yang membuatnya tampak bersinar, ditambah senyum yang selalu berhasil membuat hati Jeany bergetar setiap kali menatapnya.


Perasaan bahagia memenuhi rongga dada Jeany. Sebagai seorang perempuan, ia pernah berkhayal akan berjodoh dan menikah dengan laki-laki tampan. Akan tetapi ia tak pernah membayangkan bahwa Kevin, teman SMA-nya sendiri yang akan menjadi suaminya kelak. Pun ia tak pernah mendambakan pesta pernikahan megah di hotel berbintang seperti yang dirasakannya hari ini.


Baginya lebih penting apa yang akan dijalaninya setelah hari ini, kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya. Lagipula untuk perempuan yang tak mudah bergaul seperti dirinya, ada laki-laki yang mau mendekatinya saja sudah terasa seperti sebuah keajaiban. Namun hari ini ia mendapatkan semua hal yang tak pernah diimpikannya.


"Sedikit lagi acaranya selesai, Jean." Kevin berbisik dengan wajah berseri. Rangkaian acara telah mereka ikuti, tak ada bedanya dengan kebanyakan pesta pernikahan. Hanya wedding kiss yang ditiadakan atas permintaan Jeany. Ia tak ingin berciuman sambil disaksikan ratusan pasang mata.


"Iya aku udah capek banget, tanganku juga dingin semua," jawab Jeany menunjukkan kegugupan yang harus disembunyikannya sepanjang acara resepsi.


"Ntar aku pijitin."


Jeany menoleh senang. "Beneran? Ntar pijitin pundak aku ya, rasanya pegel banget. Pinggang ama kaki juga."


"Iya ntar aku pijit semua." Kevin memberi senyum penuh makna pada sang istri yang sama sekali tidak merasa curiga.


Grup musik Naff diundang oleh Kevin untuk melantunkan lagu romantis di acara pernikahan mereka. Kevin dan Jeany mendengarkannya dengan hati tersentuh, masing-masing mengenang saat mereka masih berpacaran dulu. Wajah orang tua dan keluarga Kevin juga dipenuhi rona kebahagiaan. Kenny, sang putra yang duduk di meja khusus keluarga tampak sedang menikmati es puding sebagai hidangan penutup. Malam ini putra mereka akan menginap di rumah orang tua Kevin.


Di bagian tamu undangan, Monica yang datang menyusul sang suami ke Jakarta tengah membicarakan sepasang mempelai tersebut.


"Jadi dia papa anaknya Jeany?"


"Yup."


"Ganteng banget ya," komentar Monica jujur apa adanya.


Randy mencubit hidung sang istri dengan gemas. "Gak sopan bilang cowok lain ganteng di depan suami sendiri!"


"Hehe tapi bagi aku tetep kamu lebih ganteng."


"Sekarang kamu percaya kan antara aku ama Jeany beneran udah selesai? Dia gak pernah bisa move on dari Kevin."


Monica menatap intens sang suami. "Kalo kamu sendiri gimana? Bisa move on gak dari Jeany?"


Randy menggenggam jemari Monica dan meletakkannya di atas paha miliknya. "Kalo belum move on gak mungkin aku nikahin kamu. Mulai sekarang buang jauh-jauh pikiran buruk itu ya." Ia berbicara sambil membalas tatapan sang istri. "Gak enak tau dicurigain mulu," sambungnya menampakkan mimik wajah kecut.


"Iya maaf." Monica lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, laki-laki yang dikenalnya saat bergabung di komunitas ODHA (Orang Dengan HIV AIDS).

__ADS_1


***


Mobil sedan keluaran Eropa berhiaskan rangkaian bunga membawa sepasang pengantin baru meninggalkan hotel usai acara resepsi. Begitu merasakan kursi empuk mobil, tubuh Jeany tidak dapat lagi menahan rasa kantuknya. Ia tertidur begitu saja saat mobil baru melaju beberapa menit. Melihat itu, Kevin tersenyum dan merengkuh kepala sang istri untuk ia sandarkan pada pundaknya.


Jeany terbangun oleh suara lamat-lamat seorang laki-laki yang memanggil namanya. Ia membuka matanya dan menyadari Kevin telah berusaha membangunkannya dengan lembut.


"Sorry aku ketiduran, Vin."


"Gapapa. Ayo turun, kita udah sampe."


Jeany mengikuti Kevin turun dari mobil. Ia merasa mengenali tempat tersebut, tetapi tidak tahu di mana. "Ini di mana? Kita gak jadi ke apartemenmu?" tanyanya pada sang suami.


Kevin menggeleng dengan senyuman. "Ini rumah kita."


Tangan Kevin memegang kedua pundak Jeany, mengarahkannya memasuki sebuah rumah dua lantai dengan arsitektur sangat modern.


"Kapan kamu beli rumah ini? Kok aku gak tahu?"


"Kejutan, Sayang."


Kevin tidak memberi kesempatan Jeany melihat-lihat isi rumah. Ia langsung menarik sang istri menuju kamar mereka di lantai atas. Di sana sebuah ranjang besar nan empuk telah siap menjadi tempat peraduan mereka semalam suntuk. Tanpa taburan bunga karena Kevin tidak ingin ritual indah mereka tertunda untuk menyingkirkan bunga-bunga itu.


Namun ritual yang diimpikannya itu tetap harus tertunda karena sang istri ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


"Gak enak, Vin badan aku lengket semua."


"Ya udah mandi bareng aja biar cepet."


"Gak. Aku maunya di atas kasur ya bukan di kamar mandi."


Kevin terkekeh karena sang istri menangkap niat terselubungnya. "Ya udah lain kali aja di kamar mandinya."


Jeany mengernyit tetapi tidak bertanya lebih lanjut. Ia meminta Kevin membantu membukakan ritsleting gaun pengantin yang dikenakannya. Saat punggung mulus Jeany terpampang di hadapannya, laki-laki itu tidak dapat menahan diri dan mulai mengecupinya dengan penuh gairah.


"Ya ampun, Vin, kapan aku mandinya kalo kayak gini?"


"Hufff kamu tuh, seneng banget nyiksa suaminya." Kevin memberi gigitan kecil di punggung Jeany sebelum melepasnya.


"Aku mandi gak lama kok."

__ADS_1


Jeany cepat-cepat pergi ke kamar mandi sebelum sang suami kembali menyerangnya. Kevin sendiri membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang terletak di luar kamar mereka. Hanya butuh waktu lima menit bagi laki-laki itu untuk mandi.


Sebaliknya, yang dibilang tidak lama oleh Jeany nyatanya memakan waktu hampir setengah jam. "Lama banget! Mandi apa bertelur?" Kevin menggeram tak sabar. Ia hampir mendatangi perempuan itu di kamar mandi dan memaksanya membuka pintu jika saja Jeany tidak keluar saat itu.


Laki-laki itu meneguk ludah melihat sang istri keluar mengenakan kimono handuk, tampak sangat seksi dengan rambut basahnya. Wangi sabun dan shampo menguar dari tubuhnya yang kini terlihat sangat segar sehabis mandi.


"Matiin lampunya ya, Vin?" pinta Jeany pada sang suami sebelum memulai permainan mereka.


Tanpa pikir panjang Kevin menuruti permintaan sang istri. Demi Tuhan ia sudah tidak sabar. Apa pun akan dilakukannya asal bisa segera memulai ritual indah mereka. Dijatuhkannya tubuh perempuan itu di atas ranjang. Belum sempat Jeany mengambil napas, Kevin telah menyerang bibirnya, merayunya tanpa kata.


Jeany bertekuk lutut pada sentuhan Kevin. Bibir laki-laki itu tak henti memuja. Jari-jarinya membelai lembut, memanjakan, dan melenakan. Jeany merasa begitu dicintai, begitu diinginkan. Tanpa sadar perempuan itu mengangkat pinggulnya, menginginkan pelepasan atas gelora hasrat yang meledak-ledak dalam tubuhnya. Napas Kevin semakin memburu karena gerakan mengundang itu. Ia berhenti untuk mengambil sesuatu di laci.


“Kamu ngapain?“ Kalau saja lampu menyala, pasti Kevin dapat melihat wajah cemberut sang istri.


“Bentar pake pengaman dulu.“


“Kok pake pengaman? Kamu gak percaya aku gak pernah berhubungan sama Randy? Kamu takut aku nularin virus?“


“Bukan gitu ....“


“Kalo kamu merasa jijik sama aku lebih baik—“


Dengan geram Kevin mencium kembali perempuan itu. Pengaman yang tadi dipegangnya ia lempar begitu saja. Setelah cukup lama, ia melepas bibirnya dan menatap sang istri dalam jarak teramat dekat. “Aku bukan jijik, cuma belum siap punya anak lagi.“


Jeany tidak menjawab. Bibirnya masih merengut. Kevin terpaksa mengalah agar malam pertama yang diidamkannya tidak hancur berantakan hanya gara-gara masalah sepele. “Aku gak akan pake pengamannya supaya kamu percaya.“


Jeany akhirnya mengangguk tanpa kata. Kevin menatapnya sekali lagi. “Kamu beneran gak apa-apa?“ tanyanya memastikan. “Aku dengar korban pemerkosaan banyak yang mengalami trauma dan takut berhubungan. Apa mungkin karna itu Randy gak pernah meminta haknya?“


Sang istri membelai pipi laki-laki itu dan memberinya tatapan serius. Nada bicaranya juga tak kalah serius. “Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi. Waktu itu kita sama-sama mabuk. Lagian aku sekarang udah cinta sama kamu.“


Pandangan Kevin tidak lepas dari bibir Jeany ketika perempuan itu berbicara. Dengan tidak sabar dilumatnya kembali bibir manis itu. Ia melebarkan jarak di antara kedua paha Jeany dan dengan hati-hati menyatukan tubuh mereka.


“I love you.” Kevin mengecup kening Jeany setelah sepenuhnya menyatu dengan sang istri. Ia menggerakkan tubuhnya dengan perlahan, lembut, dan penuh cinta. Setelah itu, tidak ada lagi kata yang terucap. Keduanya tenggelam, terbawa indahnya arus permainan.


Mereka menutup malam bersejarah itu dengan saling mendekap mesra. “Makasih ya, Jean. Malam pertamanya sangat berkesan.“ Kevin mengecup kening sang istri penuh rasa sayang. Setelah tujuh tahun dalam penantian panjang, akhirnya ia dapat memiliki perempuan itu seutuhnya.


“Malam kedua,“ ralat Jeany.


Hening sejenak karena tak ada balasan. “Ehm, Jean?“ Kevin menyusun kalimatnya dengan hati-hati. “Aku mau ngaku dosa sama kamu. Tapi jangan marah ya?“

__ADS_1


“Apa?“ tanya Jeany dengan napas tertahan. Perasaan tidak enak menyergapnya.


“Sebenarnya ini yang ketiga buat aku.“


__ADS_2